Kisah Abu Najjeh dan Nakba Ketiga: Pengusiran Berulang Komunitas Badui di Tepi Barat
Nakba 1948.(Al Jazeera)

BAGI Abu Najjeh, peringatan Hari Nakba tahun ini bukan sekadar refleksi sejarah atas tragedi tahun 1948. Pemimpin komunitas Badui Ein Samiya ini menyebut situasi saat ini sebagai Nakba Ketiga, siklus pengusiran paksa yang terus berulang dan semakin brutal di bawah bayang-bayang perang.

Baru saja mengalami pengusiran ketujuh dalam sejarah keluarganya, Abu Najjeh kini tinggal di tenda darurat, pinggiran Rammun. Namun, ketenangan adalah kemewahan yang tidak ia miliki.

Pagi itu, ia harus bergegas menuju Jiljilyya setelah mendapat kabar bahwa pemukim Israel mencuri ratusan domba, menyita traktor, dan menembak mati Yousef Kaabneh, seorang remaja berusia 16 tahun dari klan yang sama dengannya.

“Ini bukan tempat yang layak untuk ditinggal. Itulah mengapa saya terburu-buru menunggu mobil menjemput saya,” ujar Abu Najjeh dengan nada gelisah. Ketakutannya beralasan. Yousef terbunuh di wilayah yang seharusnya berada di bawah administrasi otoritas Palestina (Area A), tempat yang mereka anggap aman dari jangkauan pemukim.

Siklus Pengusiran Delapan Dekade

Sejarah keluarga Kaabneh adalah potret penderitaan rakyat Palestina selama delapan dekade terakhir:

  • 1948: Diusir dari Gurun Naqab oleh paramiliter Zionis.
  • 1967: Diusir kembali oleh pasukan Israel setelah pendudukan Tepi Barat.
  • 1980-an: Menetap di Ein Samiya dan membangun kehidupan selama 40 tahun.
  • 2023-2026: Serangkaian pengusiran paksa akibat serangan pemukim yang sistematis.

Di Ein Samiya, mereka pernah memiliki ribuan ternak dan sekolah untuk anak-anak. Namun, sejak 2019, pos-pos pemukim ilegal mulai mengepung mereka. Intimidasi fisik, peracunan ternak, hingga penutupan akses sumber air membuat populasi domba mereka merosot drastis dari 2.500 ekor menjadi kurang dari 500 ekor.

“Ke Mana Lagi Kami Harus Pergi?”

Setelah terusir dari Ein Samiya pada Mei 2023, mereka pindah ke Khirbet Abu Falah, lalu ke Rammun. Namun, ke mana pun mereka pergi, pos pemukim ilegal baru selalu muncul dalam jarak beberapa ratus meter dari tenda mereka.

Di lokasi saat ini, tidak ada listrik. Air bersih harus dibeli dengan harga tinggi, mencapai 250 shekel (sekitar Rp1,1 juta) per tangki. Lahan yang ada pun tidak cocok untuk menggembala karena dikelilingi kebun zaitun milik warga lain.







Data Pengusiran (Jan 2023 – Mei 2026) Statistik PBB (OCHA)
Jumlah Orang Terusir Lebih dari 5.900 orang
Komunitas yang Terhapus 45 komunitas hilang sepenuhnya
Korban Jiwa di Tepi Barat Minimal 1.090 warga Palestina (sejak Okt 2023)

Pola Sistematis

Para pekerja kemanusiaan menilai kondisi yang menimpa klan Kaabneh bukanlah kekerasan sporadis, melainkan pola sistematis untuk mengosongkan lahan di Tepi Barat. Abu Najjeh menyebutnya sebagai upaya untuk membuat hidup menjadi mustahil sehingga warga Palestina terpaksa beremigrasi.

“Kami hidup di tanah ini dan mati di tanah ini,” tegas Abu Najjeh, mengutip pepatah Badui. Namun, ia mengakui ketimpangan kekuatan yang ada. “Komunitas yang hanya terdiri dari 7 atau 10 pria tidak akan sanggup melawan 60 atau 70 pria bersenjata.”

Saat telepon genggamnya kembali berdering membawa kabar terbaru dari konflik di Jiljilyya, Abu Najjeh berdiri. Tidak ada waktu untuk meratapi masa lalu. Baginya, Nakba bukan sekadar sejarah, melainkan krisis yang terjadi setiap detik di depan matanya. “Orang-orang saya membutuhkan saya. Saya harus pergi.” (Al Jazeera/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *