Iran Evaluasi Proposal AS di Bawah Ancaman Bom Trump
Ilustrasi.(Magnific)

PEMERINTAH Iran saat ini tengah mengevaluasi proposal baru dari Amerika Serikat (AS) yang bertujuan mengakhiri konflik bersenjata di kawasan tersebut. Proposal ini mencakup poin-poin krusial, termasuk pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran dan pemberlakuan moratorium pada program pengayaan uranium negara tersebut.

Berdasarkan informasi dari sumber yang mengetahui masalah ini, nota kesepahaman satu halaman dari Washington tersebut menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap serta pencabutan blokade Amerika terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Teheran diperkirakan akan menyampaikan tanggapan resminya melalui mediator Pakistan dalam dua hari ke depan.

Meski jalur diplomasi sedang diupayakan, Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras. Melalui media sosial pada Rabu (6/5/2026), Trump menegaskan bahwa kampanye militer dan blokade hanya akan berakhir jika Iran menyetujui persyaratan yang diajukan.

“Jika mereka tidak setuju, pengeboman akan dimulai, dan sayangnya, akan terjadi pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya,” tegas Trump.

Trump juga menyatakan dalam wawancara bahwa saat ini masih terlalu dini untuk merencanakan pertemuan tatap muka dengan pemimpin Iran. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengisyaratkan bahwa operasi ofensif terhadap Iran telah dihentikan sementara untuk memberi ruang bagi proses negosiasi.

Dampak Ekonomi Global: Harga Minyak Anjlok

Kabar mengenai potensi terobosan diplomatik ini langsung direspons positif oleh pasar global. Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan anjlok lebih dari 10%, jatuh ke bawah level US$100 per barel untuk pertama kali sejak akhir April. Sebaliknya, pasar saham dan obligasi global mengalami lonjakan signifikan.

Tekanan domestik terhadap Trump diyakini menjadi pendorong percepatan proposal ini. Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga bensin di AS hingga melebihi US$4,50 atau sekitar Rp77.850 per galon. Situasi ini memberatkan posisi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu November mendatang.

Reaksi Internasional dan Kekhawatiran Israel

Di Beijing, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi mendesak Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk tetap berada di meja perundingan guna menghindari kembalinya permusuhan. Tiongkok memiliki kepentingan besar karena menyerap sekitar 90% ekspor minyak Iran.

Namun, prospek kesepakatan itu memicu kekhawatiran di Israel. Pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tetap pada posisi bahwa tekanan militer dan ekonomi harus terus berlanjut hingga program nuklir dan milisi proksi Iran benar-benar dibubarkan.








Poin Utama Proposal AS Dampak/Status
Moratorium Pengayaan Uranium Syarat utama pencabutan sanksi
Pembukaan Selat Hormuz Dilakukan secara bertahap
Pencabutan Blokade Pelabuhan Menunggu persetujuan final Teheran
Mediator Perundingan Pakistan

Krisis Maritim di Selat Hormuz

Hingga saat ini, penutupan jalur laut di sekitar Selat Hormuz menyebabkan lebih dari 1.550 kapal komersial dengan sekitar 22.000 pelaut terjebak di kawasan Teluk. Industri pelayaran dunia kini menanti jaminan keamanan jalur tersebut, mengingat seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia bergantung pada stabilitas di wilayah ini.

Meskipun ada harapan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menyebut posisi AS sering kali tidak realistis. Dunia kini menunggu apakah Teheran akan menerima nota satu halaman dari Washington itu atau memilih menghadapi risiko eskalasi militer yang diancamkan oleh Trump. (Bloomberg/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *