
DEMI keselamatan dan kenyamanan, 575 paspor jemaah yang akan melaksanakan ibadah haji 2026, asal Kabupaten Pidie, Aceh, tidak dibagikan saat mereka masih di kampung halaman. Meskipun semua proses pembuatan telah tuntas, tapi buku administrasi kepergian keluar masuk Arab Saudi itu masih berada di tangan petugas Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Pidie.
Dari empat jenis tas yang difasilitasi pemerintah atau pihak penerbangan, hanya tiga yang langsung dibagikan beberapa hari sebelum keberangkatan. Masing-masing adalah koper bagasi besar maksimal barang bawaan 32 kg (kilogram) dimasukkan ke bagasi, koper kabin kecil ukuran barang 7 kg dibawa ke dalam pesawat, dan satu lagi tas Armuzna berbentuk ransel lipat yang khusus digunakan saat puncah haji di Arafah, Muzdalifah, serta Mina.
“Satu unit koper besar, sebuah tas jinjing, dan tas lipat Armuzna yang dibagikan lebih awal sebelum berangkat. Sedangkan paspor dan kelengkapan dokumen atau barang penting lainnya dimasukkan ke dalam tas selempang. Itu dibagikan ketika di karantina asrama haji atau beberapa saat hendak terbang,” kata H Ihsan, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Pidie, kepada Media Indonesia, Rabu (6/5).
Dikatakannya, mengamankan sementara paspor dan perlengkapan penting itu supaya lebih terjamin keselamatan dan terhindar dari kehilangan atau tidak tercecer saat kesibukan di rumah beberapa hari menjelang keberangkatan. Apalagi banyak tamu yang hadir dan rawan terselip bersama barang keluarga atau pengantar jemaah.
Ketika jemaah benar-benar sudah selesai acara keluarga menjelang keberangkatan, baru dianggap aman untuk memperoleh paspor. Mulai saat itu, paspor selalu penting dibawa kemanapun pergi selama di Tanah Suci.
“Beberapa hari sebelum diserahkan kepada jemaah, juga diperiksa ulang kelekapannya oleh petugas” tutur H Ihsan.
Pihaknya berharap semua jemaah tidak meninggalkan tas selempang paspor itu di tempat penginapan. Lalu tidak dianjurkan juga menitip pada orang lain sehingga rawan kehilangan.
Adapun Pembimbing Ibadah Haji dari Kelompok Bimbing Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Ibnu Mas’ud Kabupaten Pidie, H Abdullah AR, mengimbau semua keluarga jemaah dan para tamu menjaga kenyamanan jemaah. Antara lain adalah tidak bertamu sampai larut malam.
Apalagi sampai melakukan aktivitas berat atau jauh dari kediaman tempat tinggal. Hal ini sangat penting demi kebugaran, kenyamanan dan fokus saat berangkat ke Tanah Suci.
“Jagalah kenyamanan mereka. Jangan sampai mengundang hal-hal terganggu kesehatan atau sampai gagal agenda keberangkatan,” tambah mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pidie itu. (MR/E-4)
