Kecelakaan Bus ALS vs Truk Tangki di Palembang, Pengamat Duga Kelalaian Sopir
Pengamat transportasi Deddy Herlambang menduga kecelakaan bus ALS dan truk tangki di Palembang akibat kelalaian sopir.(Dok. Antara)

KECELAKAAN fatal yang melibatkan bus Antar Lintas Sumatra (ALS) dan sebuah truk tangki di Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Karang Jaya, pada Rabu (6/5) siang, diduga kuat dipicu oleh faktor manusia. Pengamat transportasi menilai insiden tersebut merupakan indikasi lemahnya pengawasan terhadap sumber daya manusia (SDM) di sektor transportasi darat.

Pengamat Transportasi, Deddy Herlambang, mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi awal, bus ALS tersebut keluar dari jalur yang seharusnya hingga menghantam truk tangki dari arah berlawanan.

“Info sementara sopir ALS yang keluar jalur sehingga menabrak truk tangki. Jadi dugaan sementara ada kelalaian sopir ALS,” ujar Deddy saat dihubungi, Rabu (6/5).

Deddy menegaskan bahwa insiden kecelakaan bus yang terus berulang menunjukkan perlunya sanksi yang lebih berat bagi perusahaan otobus (PO). Ia meminta pemerintah tidak ragu untuk mengambil langkah ekstrem demi memberikan efek jera dan menjamin keselamatan penumpang di masa depan.

“Cara simpel bila sering terjadi laka bekukan PO-nya,” tegas Deddy.

Menurutnya, pembekuan izin operasional harus dilakukan terhadap PO bus yang terbukti abai dalam memperhatikan faktor SDM, terutama kompetensi dan kondisi fisik sopir saat bertugas.

Kritik Efisiensi Anggaran Keselamatan

Selain faktor kelalaian sopir, Deddy juga menyoroti kebijakan pemerintah terkait alokasi anggaran di sektor transportasi. Ia menyayangkan adanya efisiensi anggaran pada pos keselamatan jalan dan kereta api, yang dinilai kontraproduktif dengan semangat menekan angka kecelakaan.

Ia berpendapat bahwa pemotongan dana pengawasan menjadi bukti ketidakseriusan pemerintah dalam mewujudkan target zero accident di Indonesia. Pengawasan yang lemah akibat keterbatasan dana operasional dianggap memperbesar risiko terjadinya kecelakaan di jalan raya.

“Dana pengawasan keselamatan jalan dan KA malah dipotong demi efisiensi karena Pemerintah kurang serius menggelar gerakan zero accident. Tidak ada efisiensi (anggaran) saja laka sudah banyak, apalagi ada efisiensi,” pungkasnya. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *