
KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Sumbing, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, semakin meluas dan kini tercatat telah mencapai 779,4 hektare hingga Sabtu (24/10). Tim gabungan yang terdiri dari ratusan petugas dan relawan menghadapi kendala besar akibat medan yang terjal serta embusan angin kencang di lokasi kejadian.
Berdasarkan data inventarisasi hingga Jumat (23/10) malam, luas area yang terbakar melonjak drastis dari sebelumnya 300 hektare menjadi 779,4 hektare. Administratur Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Kedu Utara, Dimyati, mengonfirmasi bahwa api dengan cepat merambat ke wilayah perbatasan Kabupaten Temanggung dan Magelang.
Proses pemadaman di ketinggian 2.500 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut dilakukan secara manual karena keterbatasan sarana dan prasarana. Petugas terpaksa memadamkan api dengan memukulkan ranting dan kayu lantaran sumber air tidak dapat menjangkau titik api. Kondisi ini diperparah oleh asap tebal dan angin kencang yang seringkali menghidupkan kembali titik api yang sudah sempat padam.
“Angin kencang membuat api dengan cepat merambat ke sekitarnya, bahkan api yang sudah padam kembali terbakar sehingga cukup menyulitkan proses pemadaman,” ujar Dimyati. Saat ini, titik api masih terpantau di sejumlah lokasi, termasuk petak 53 di wilayah Wonosobo dan petak 20-1 di wilayah Temanggung.
Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai mengkaji opsi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menyatakan bahwa langkah ini memerlukan pertimbangan matang terkait status kedaruratan dan kondisi atmosfer.
“Kita koordinasikan dengan BMKG untuk melihat ketersediaan sumber daya dan kondisi atmosfer yang memungkinkan terbentuknya hujan,” kata Bergas. Upaya ini diharapkan dapat membantu memadamkan api di area yang sulit dijangkau oleh tim darat yang saat ini sudah mulai mengalami kelelahan akibat medan ekstrem. (Z-10)
