
OSTEOPOROSIS menjadi ancaman serius bagi kelompok usia di atas 50 tahun. Kondisi penurunan kepadatan tulang ini perlu diwaspadai karena dapat memicu patah tulang yang berdampak fatal pada kualitas hidup dan kesehatan lansia.
Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi, dr. Wijaya Johanes Chendra, menjelaskan bahwa secara anatomi dan klinis, terdapat tiga lokasi utama yang paling rentan mengalami patah tulang akibat osteoporosis. Ketiga titik tersebut adalah panggul atau paha atas, tulang belakang, dan pergelangan tangan.
“Fraktur panggul merupakan salah satu komplikasi paling berat karena berkaitan erat dengan penurunan kemandirian, kecacatan jangka panjang, hingga peningkatan risiko kematian pada lansia,” ujar dr. Wijaya dalam keterangannya di Tangerang, Minggu (18/10).
Sementara itu, fraktur pada tulang belakang sering kali tidak terdiagnosis secara dini. Namun, dampaknya dapat menyebabkan nyeri kronis, perubahan postur tubuh menjadi bungkuk (kifosis), hingga penurunan tinggi badan.
Penanganan Medis dan Tindakan Operasi
Terkait penanganan, dr. Wijaya yang berpraktik di Siloam Hospital TB Simatupang ini memaparkan bahwa patah tulang panggul umumnya memerlukan tindakan operasi untuk memperbaiki atau mengganti bagian tulang yang rusak. Operasi sangat dianjurkan dilakukan sedini mungkin setelah kondisi pasien dinyatakan stabil.
Untuk kasus patah tulang pergelangan tangan, operasi dipertimbangkan jika posisi tulang bergeser atau tidak stabil. Adapun pada patah tulang belakang, penanganan awal biasanya dilakukan tanpa operasi, kecuali jika muncul nyeri berat yang menetap atau terdapat gangguan pada sistem saraf.
Pentingnya Gaya Hidup Aktif
Osteoporosis sering disebut sebagai silent disease karena berkembang tanpa gejala jelas hingga terjadi patah tulang. Secara global, lebih dari 500 juta orang hidup dengan kondisi ini. Di Indonesia, angka osteoporosis diproyeksikan melonjak hingga 135 persen pada tahun 2050 seiring bertambahnya populasi lansia.
Menyambut Hari Osteoporosis Sedunia setiap 20 Oktober, dr. Wijaya menekankan bahwa pencegahan tidak hanya bergantung pada obat-obatan, tetapi juga perubahan gaya hidup.
Senada dengan hal tersebut, Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Bernadette Laura, menambahkan bahwa aktivitas fisik yang memberikan beban pada tulang sangat krusial. Latihan ini merangsang pembentukan dan pembaruan sel tulang guna menjaga kepadatan tulang.
“Jenis latihan yang disarankan meliputi weight-bearing exercise seperti berjalan kaki dan naik tangga, serta latihan beban. Penting juga mengombinasikan olahraga fleksibilitas untuk menjaga keseimbangan dan mencegah risiko jatuh,” jelas dr. Laura.
Bagi mereka yang sudah terdiagnosis osteoporosis, dr. Laura mengingatkan agar intensitas latihan disesuaikan dengan kondisi fisik dan dilakukan secara terstruktur di bawah pengawasan medis guna menghindari risiko cedera lebih lanjut. (Ant/H-3)
