
DINAS Kesehatan (Dinkes) Riau mencatat sebanyak 35.910 masyarakat Riau terpapar Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Total kasus ISPA tersebut tersebar di 12 kabupaten/kota di Riau. Kepala Dinkes Riau Zulkifli mengatakan, dari jumlah tersebut Kota Pekanbaru menjadi daerah dengan kasus tertinggi yaitu 10.020 kasus. Disusul Kabupaten Kampar 4.830 kasus, Bengkalis 4.382 kasus.
“Kemudian Kota Dumai 3.413 kasus, Siak 3.675 kasus, Pelalawan 2.227 kasus, Kuansing 1.355 kasus, Indragiri Hulu 1.810 kasus, Kepulauan Meranti 2.816 kasus, Rokan Hulu 987 kasus, Rokan Hilir 311 kasus dan Indragiri Hilir 84 kasus,” katanya, Kamis (22/10).
Dijelaskannya, meski terjadi kenaikan kasus ISPA, fasilitas kesehatan di daerah terdampak masih sanggup menampung dan melayani para pasien secara maksimal. Adapun untuk menekan dampak buruk kasus ISPA, Dinkes Riau terus menggalakkan pembagian masker gratis dan kampanye edukasi kesehatan ke masyarakat.
“Pemerintah daerah juga menyalurkan makanan tambahan bagi ibu hamil serta balita terdampak, sembari menyiagakan oksigen konsentrator di Puskesmas. Tim Medis Darurat (Emergency Medical Team) pada setiap Puskesmas yang telah diaktifkan penuh untuk mengantisipasi gejolak lonjakan pasien secara mendadak,” ujarnya.
Dinkes Riau juga mendirikan posko darurat yang dilengkapi rumah oksigen dan tempat tidur medis untuk penanganan kritis. Langkah darurat itu juga melibatkan akademisi perguruan tinggi serta organisasi profesi kesehatan untuk mendistribusikan masker kepada para pengguna jalan.
Ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan deteksi dini dengan mendorong masyarakat yang mengalami gejala untuk segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
“Kita juga mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam menanggulangi dampak kesehatan yang diakibatkan polusi udara melalui penerapan protokol kesehatan, khususnya terhadap populasi rentan seperti anak, ibu hamil, orang dengan komorbid atau penyakit penyerta, dan lanjut usia,” ujarnya.
Selain itu, kata dia, perlu dipastikan ketersediaan masker dalam melindungi masyarakat dari polusi udara terutama masker yang dapat menyaring polusi udara.
“Tenaga kesehatan kita di faskes kita minta untuk segera melaporkan dan memantau kasus kejadian penyakit yang diakibatkan oleh asap seperti ISPA, iritasi mata, pneumonia, iritasi kulit dan asma ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,” pungkasnya. (H-4)
