
DUA survei nasional yang dirilis pada Oktober 2026 sama-sama menempatkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam jajaran empat besar elektabilitas calon presiden (capres). Hasil tersebut menjadi perhatian di tengah berbagai kritik dan polemik politik yang terus mengiringi sosok Gibran sejak Pilpres 2024.
Pengamat politik, Boni Hargens menilai posisi Gibran dalam sejumlah survei tersebut tidak dapat dilepaskan dari pendekatan politik yang dibangunnya melalui interaksi langsung dengan masyarakat. Menurut Boni, derasnya kritik dan perdebatan politik yang berkembang di ruang publik tidak selalu mencerminkan pandangan masyarakat secara keseluruhan, terutama di tingkat akar rumput.
“Kritik yang muncul ke permukaan bukanlah cerminan sentimen publik yang organik, melainkan konstruksi yang direkayasa oleh kelompok-kelompok politik yang memiliki kepentingan untuk menjatuhkan citra Wapres Gibran,” ujar Boni dikutip Kamis, (22/10).
Boni berpandangan bahwa Gibran memiliki pendekatan tersendiri dalam membangun komunikasi politik. Alih-alih terlibat dalam perdebatan elite, Gibran dinilainya lebih memilih hadir secara langsung di tengah masyarakat untuk mendengarkan aspirasi dan memahami persoalan yang dihadapi warga.
“Saya menggarisbawahi bahwa Gibran lebih memilih turun langsung ke tengah masyarakat, mengunjungi daerah, berdialog dengan warga, dan membangun koneksi personal ketimbang terjebak dalam permainan narasi politik di tataran elit,” katanya.
Pendekatan tersebut terlihat dalam sejumlah agenda kunjungan kerja Gibran ke berbagai daerah, terutama ketika masyarakat menghadapi persoalan yang membutuhkan perhatian pemerintah. Pada 4 September 2026, misalnya, Gibran mengunjungi hunian sementara korban bencana di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Dalam kesempatan tersebut, ia mendengarkan keluhan warga sekaligus meninjau kebutuhan pemulihan dan pembangunan hunian tetap bagi masyarakat terdampak.
Gibran juga mengunjungi korban banjir bandang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada 25 September 2026. Selain meninjau penanganan bencana, ia menemui warga terdampak dan keluarga korban untuk mendengarkan langsung kondisi yang mereka hadapi. Beberapa hari kemudian, Gibran mendatangi korban dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Dalam kunjungan pada 28 September 2026 tersebut, ia berdialog dengan pasien dan keluarga serta menekankan pentingnya penanganan korban dan evaluasi program. Boni menilai pendekatan semacam itu memiliki arti penting bagi seorang figur politik, karena hubungan dengan masyarakat tidak semata dibangun melalui popularitas maupun pemberitaan, tetapi juga melalui interaksi personal.
“Pendekatan inilah yang membuat basis dukungan akar rumputnya tetap solid, bahkan di tengah badai kritik yang datang bertubi-tubi,” ungkap Boni.
Di sisi lain, Boni mengingatkan bahwa kedudukan Gibran sebagai Wakil Presiden turut membuatnya menghadapi tekanan politik yang tidak kecil. Posisi strategis tersebut menjadikan Gibran salah satu figur yang mendapat perhatian dalam dinamika persaingan kekuasaan nasional. Menurutnya, intensitas serangan terhadap seorang tokoh politik juga dapat dibaca dalam konteks persaingan kepentingan menjelang kontestasi politik mendatang.
“Serangan bertubi-tubi yang ia terima justru merupakan pengakuan tidak langsung atas besarnya potensi, karena tidak ada yang menyerang figur yang dianggap tidak berbahaya,” tuturnya.
Meski demikian, hasil survei elektabilitas belum secara khusus mengukur seberapa besar pengaruh kunjungan lapangan terhadap pilihan politik masyarakat.
Pandangan mengenai kekuatan dukungan akar rumput tersebut merupakan analisis Boni atas pendekatan politik Gibran. Boni tetap meyakini bahwa hubungan yang dibangun melalui interaksi langsung dengan masyarakat menjadi salah satu modal politik yang penting bagi Gibran dalam jangka panjang.
“Ditambah lagi, dukungan tulus dari akar rumput, yang dibangun melalui interaksi langsung dengan grassroots, merupakan aset politik jangka panjang yang lebih kokoh daripada sekadar popularitas di media,” pungkas Boni.
Sebelumnya, sejumlah survey memposisikan Gibran di urutan 4 besar peta elektabilitas dan popularitas. survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis Sabtu (17/10) juga menempatkan Gibran di urutan keempat dengan elektabilitas 8,4% dalam simulasi semi-terbuka dengan 24 nama calon presiden. (E-4)
