Kasus Demensia Diprediksi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2050, Perempuan Lebih Berisiko
Ilustrasi demensia.(Dok. Magnific)

JUMLAH kasus baru demensia di seluruh dunia diproyeksikan akan meningkat tajam menjadi 24,7 juta setiap tahun pada 2050. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 116% dibandingkan dengan 11,4 juta kasus yang tercatat pada 2023.

Berdasarkan penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Neurology pada Oktober 2026, penuaan populasi menjadi faktor utama di balik lonjakan tahunan ini. Selain kenaikan kasus baru, para penulis studi mencatat bahwa total penderita demensia secara global diprediksi akan mencapai 150 juta orang.

Ashleigh Vella,  penulis utama studi dan peneliti dari Centre for Healthy Brain Aging (CHeBA), UNSW Sydney, menyatakan bahwa penelitian ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai lokasi dan kelompok populasi yang paling terdampak. “Memahami perbedaan ini sangat penting jika kita ingin mengembangkan strategi pencegahan, diagnosis, dan perawatan demensia yang responsif terhadap populasi dengan risiko masa depan terbesar,” ujarnya.

Lonjakan Kasus dan Faktor Penuaan

Untuk mengestimasi peningkatan ini, para peneliti menganalisis data dari 22 studi yang melibatkan 38.418 partisipan di 18 negara. Hasilnya menunjukkan insiden sebesar 9,7 kasus baru per 1.000 orang-tahun setelah mempertimbangkan perbedaan usia dan jenis kelamin.

Emer MacSweeney, konsultan neuroradiolog dan CEO Re:Cognition Health, menekankan bahwa meskipun usia adalah faktor risiko terbesar, peningkatan ini tidak boleh dianggap sebagai konsekuensi penuaan yang tak terelakkan. “Ini adalah peringatan untuk mempercepat pencegahan, diagnosis, dan pengobatan,” kata MacSweeney.

Risiko Lebih Tinggi pada Perempuan

Studi tersebut menemukan tingkat insiden yang distandarisasi berdasarkan usia sebesar 10,6 per 1.000 orang-tahun pada perempuan, lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang berada di angka 8,6 per 1.000 orang-tahun.

Meskipun alasan pastinya belum ditetapkan, peneliti menduga faktor spesifik jenis kelamin seperti menopause dan paparan estrogen mungkin berperan, selain fakta bahwa perempuan secara rata-rata memiliki masa hidup yang lebih lama. MacSweeney menambahkan bahwa beban seumur hidup demensia pada perempuan memang lebih tinggi, namun harapan hidup yang lebih panjang tidak menjelaskan segalanya secara menyeluruh.

Kesenjangan di Negara Berpenghasilan Rendah dan Menengah

Data menunjukkan perbedaan signifikan berdasarkan tingkat ekonomi negara. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMICs), terdapat 13,6 kasus per 1.000 orang-tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan 8,3 kasus di negara berpenghasilan tinggi.

Beberapa faktor yang diduga memicu perbedaan ini antara lain:

  • Penurunan kebiasaan merokok, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi di negara maju.
  • Peningkatan obesitas, stroke, dan penyakit kardiovaskular di negara berkembang (LMICs).

MacSweeney menjelaskan bahwa kesehatan kardiovaskular sangat memengaruhi otak. Akses terhadap pencegahan dan layanan kesehatan yang bervariasi di seluruh dunia turut menjadi faktor penentu risiko tersebut.

Pentingnya Pencegahan Dini

Temuan ini mendorong perlunya investigasi lebih lanjut terhadap faktor risiko spesifik jenis kelamin, termasuk pengaruh hormonal pada perempuan. Meski strategi pencegahan yang sepenuhnya terpisah belum direkomendasikan, langkah-langkah fundamental tetap menjadi kunci bagi semua orang.

Penelitian lanjutan dan pengelolaan faktor risiko yang dapat dimodifikasi diharapkan dapat memperbaiki trajektori penyakit Alzheimer dan demensia yang diproyeksikan saat ini. (Medicalnewstoday/H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *