
KELOMPOK milisi Houthi di Yaman dilaporkan mulai memproduksi rudal canggih menggunakan komponen asal Tiongkok. Senjata baru ini dirancang untuk meningkatkan teror di Teluk Aden serta mengganggu rute pengiriman minyak internasional.
Berdasarkan laporan dari Conflict Armament Research (CAR), kelompok yang didukung Iran tersebut mengimpor berbagai komponen dari pemasok Tiongkok untuk membuat versi modifikasi dari rudal Kheibar Shekan milik Iran. Temuan ini didasarkan pada pemeriksaan terhadap dua pengiriman rudal yang disita oleh otoritas pemerintah Yaman tahun lalu, yang di dalamnya ditemukan peralatan tersembunyi asal Tiongkok.
Jangkauan Lebih Luas dan Mematikan
Rudal versi Houthi ini diklaim memiliki jangkauan hingga 1.200 mil (sekitar 1.931 km). Jarak ini 300 mil lebih jauh dibandingkan varian asli milik Iran. Dengan spesifikasi tersebut, rudal Houthi kini mampu menjangkau target di Arab Saudi dan Israel, peningkatan kapabilitas yang signifikan dibandingkan stok senjata mereka sebelumnya.
Rudal jenis ini dikenal karena efektivitasnya yang tinggi. Beberapa varian dilengkapi dengan hulu ledak yang dapat dilepas pada fase akhir penerbangan. Selain itu, penggunaan mesin kecil untuk menyesuaikan kecepatan dan arah memungkinkan rudal meluncur ke target dengan kecepatan melebihi 6.000 mph, sehingga sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara konvensional.
Ekosistem Senjata Poros Perlawanan
Keterlibatan komponen Tiongkok tidak hanya ditemukan pada persenjataan Houthi. Mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS, Frank Rose, menyebut ada kerja sama terintegrasi antara Tiongkok, Iran, Rusia, dan Korea Utara dalam kondisi yang ia sebut sebagai ekosistem drone dan senjata.
Di Ukraina, Rusia dilaporkan menggunakan drone seri Geran bertenaga jet yang mampu mencapai kecepatan 370 mph. Produksi drone ini sangat bergantung pada desain Shahed Iran serta mesin dan material tanah jarang (rare earths) yang diperoleh dari Tiongkok.
Catatan Keamanan: Frank Rose menyatakan bahwa negara-negara ini saling berbagi pelajaran dari medan perang di Iran dan Ukraina, serta berbagi teknologi untuk memperkuat posisi mereka melawan AS dan sekutunya.
Tantangan bagi Pertahanan Global
Meskipun fasilitas produksi Houthi tersembunyi dengan baik, bukti penggunaan komponen Tiongkok mempertegas tantangan global dalam memutus rantai pasokan senjata milisi. Di sisi lain, Ukraina dan sekutunya juga terus berjuang menghadapi ancaman drone jet Rusia yang produksinya meningkat lima kali lipat dalam beberapa bulan terakhir.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah menguji drone pencegat baru untuk mengatasi ancaman ini. Namun ia mengakui bahwa penyempurnaan sistem kontrol masih memerlukan waktu di tengah serangan yang terus berlanjut. (The Daily Express/I-2)
