Berjuang di Tengah Keterbatasan, Tiga Guru Maluku Raih Gelar Sarjana di UPI
Tiga guru Maluku yang meraih gelar Sarjana di UPI.(Dok Istimewa )

KETERBATASAN jaringan internet, jarak geografis, hingga tanggung jawab keluarga tak menyurutkan langkah tiga guru asal Maluku, Charlota Janeta Lahatu, Rachel Yetti Tahapary, dan Hetna Sapulete, untuk meraih gelar sarjana di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Ketiganya berhasil menyelesaikan pendidikan melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK). Perjuangan mereka menjadi gambaran tantangan yang dihadapi para pendidik di wilayah kepulauan dalam mengakses pendidikan tinggi.

Selama mengikuti perkuliahan jarak jauh, ketiganya mengandalkan telepon pintar untuk mengikuti pembelajaran melalui aplikasi Zoom. Namun, keterbatasan jaringan internet di tempat tinggal mereka kerap menghambat perkuliahan, komunikasi dengan dosen dan sesama mahasiswa, hingga pengumpulan tugas akademik.

Rachel Yetti Tahapary mengungkapkan, dirinya harus pergi ke kampung tetangga demi mendapatkan sinyal internet agar tetap bisa mengikuti perkuliahan. Bahkan saat hujan turun, ia tetap berusaha mencari jaringan internet demi mengikuti perkuliahan dan menyelesaikan tugas. Di tengah keterbatasan tersebut, Rachel bersama Charlota dan Hetna juga harus membagi waktu antara kegiatan akademik dan tanggung jawab keluarga.

“Dukungan suami dan anak-anak serta bantuan melalui program pemerintah menjadi bagian penting yang membantu mereka menuntaskan pendidikan,” tuturnya.

Setelah menyelesaikan studi, ketiganya berupaya menghadiri prosesi Wisuda Gelombang IV UPI Tahun 2026 di Gedung Gymnasium UPI, Bandung, Jumat (16/10). Mereka menyisihkan uang untuk membiayai perjalanan dari Maluku ke Jawa Barat (Jabar) dengan menggunakan transportasi laut. 

Keinginan bertemu langsung dengan dosen dan rekan mahasiswa yang selama ini hanya berinteraksi melalui pembelajaran daring membuat kehadiran dalam wisuda memiliki arti tersendiri bagi mereka. Namun, kesempatan merayakan kelulusan secara langsung itu tidak dapat dinikmati seluruh mahasiswa asal Maluku.

Berdasarkan data Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UPI, sebanyak 18 dari total 33 mahasiswa asal Maluku tidak dapat menghadiri wisuda tersebut. Kendalanya meliputi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kabut asap, jarak tempat tinggal ke bandara, serta keterbatasan biaya perjalanan.

UPI Pastikan Hak Lulusan Tetap Terpenuhi

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Penjaminan Mutu UPI, Prof. Dr. Vanessa Gaffar menyampaikan, keprihatinannya terhadap para wisudawan yang tidak dapat hadir akibat kondisi di luar kendali mereka. 

“Kami turut prihatin kepada para wisudawan yang tidak bisa hadir ke sini bukan karena tidak ingin, tetapi karena force majeure,” ucapnya.

Vanessa menegaskan, ketidakhadiran dalam prosesi wisuda tidak menghapus status kelulusan mahasiswa maupun hak mereka untuk memperoleh dokumen akademik. Lulusan yang telah memenuhi persyaratan administrasi tetap dapat mengakses ijazah elektronik, sertifikat, dan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) melalui sistem UPI. 

“Ini sebetulnya hanya proses selebrasinya saja mungkin yang tidak bisa hadir. Tapi tidak berarti tidak mendapatkan ijazah,” terangnya.

Menurut Vanessa, UPI juga membuka kesempatan bagi wisudawan yang belum dapat menghadiri prosesi pada Oktober untuk mengikuti wisuda gelombang berikutnya yang dijadwalkan pada Desember 2026. Ia meminta para lulusan yang ingin mengikuti prosesi tersebut segera menyampaikan keinginan kepada program studi masing-masing. Data itu selanjutnya akan dilaporkan kepada Direktorat Pendidikan UPI untuk diproses lebih lanjut. Kebijakan tersebut memungkinkan lulusan tetap memperoleh dokumen akademik tanpa harus menunggu kehadiran dalam seremoni wisuda. Dengan demikian, kendala perjalanan tidak serta-merta menghalangi pemenuhan hak akademik mereka setelah dinyatakan lulus.

“Akses Pendidikan di Wilayah Kepulauan Pengalaman Charlota, Rachel, dan Hetna memperlihatkan bahwa pembelajaran jarak jauh dapat membuka akses pendidikan tinggi bagi para pendidik yang tinggal jauh dari pusat pendidikan. Namun, kisah 18 mahasiswa asal Maluku yang tidak dapat menghadiri wisuda juga menyoroti persoalan geografis, infrastruktur, dampak bencana, dan biaya perjalanan,” paparnya.

Kondisi tersebut kata Vanessa, menjadi pengingat bahwa perluasan akses pendidikan perlu diikuti dukungan akademik, ketersediaan teknologi, serta layanan administrasi yang mampu menjangkau mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia. Bagi para guru tersebut, menyelesaikan pendidikan sarjana bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan juga bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang.

“Charlota, Rachel, dan Hetna berpesan kepada para guru yang belum menyelesaikan pendidikan sarjana agar tidak mudah menyerah meskipun menghadapi kendala biaya maupun jarak. Bagi mereka, ketekunan, doa, dan dukungan keluarga menjadi bekal penting untuk menuntaskan perjalanan akademik. Pengalaman ketiganya sekaligus menegaskan pentingnya kesempatan meningkatkan kualifikasi guru yang disertai dukungan sesuai kondisi nyata para pendidik, termasuk mereka yang bertugas di wilayah kepulauan,” sambungnya.(AN/E-4)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *