Zoom Kembangkan AI Berbasis Percakapan, Bisa Pahami Konteks dan Banyak Bahasa
Carlos Quaderi selaku Head of Asia Pacific (APAC).(MI/Naura Putri Aflia)

PERKEMBANGAN dan integrasi AI dalam dunia bisnis selalu berkembang dengan berbagai model serta fitur baru. Sebagai platform komunikasi yang menghadirkan sejumlah alat lainnya, Zoom kian menyusul dalam merakit teknologi AI yang sejalan dengan konsep mendasar Zoom sebagai penghubung.

Salah satu bentuk sistem teknologi AI yang didorong oleh Carlos Quaderi selaku Head of Asia Pacific (APAC) Zoom adalah kecerdasan percakapan, atau penggunaan percakapan antar manusia sebagai antarmuka utama untuk menggunakan dan memerintahkan AI.

Quaderi percaya bahwa ini akan membentuk perkembangan AI di masa mendatang. Dalam gambarannya, AI tidak diperintahkan melalui sentuhan atau ketikan pada perangkat, melainkan secara real-time melalui percakapan, tidak peduli lingkungan atau perangkatnya.

“Kalian bisa saja duduk di suatu ruangan hari ini, dan ruangan itu sebenarnya sadar secara cerdas dengan AI yang aktif merekam dan memberikan hasilnya,” ucap Quaderi ketika memvisualisasikan penerapan kecerdasan percakapan kedepannya pada Kamis pekan lalu (8/10).

Ia menyebut sebagaimana halnya Apple merevolusi layar sentuh 15 tahun yang lalu dan kini telah menjadi antarmuka utama untuk menangani semua aplikasi, secara pribadi maupun profesional, Zoom percaya bahwa hal yang sama dapat terjadi dengan percakapan sebagai antarmuka AI.

Quaderi memberikan sejumlah alasan mengapa kecerdasan percakapan memiliki potensi untuk menjadi sangat penting. 

1. Kesadaran Kontekstual Melalui Data Percakapan

Quaderi menjelaskan bahwa AI membutuhkan konteks agar benar-benar pintar. Namun saat ini, sebagian besar AI bersifat probabilistik menggunakan data yang dimilikinya, sehingga lebih bersifat statis. Menurutnya, apabila data didapat melalui percakapan yang memberikan konteks secara waktu nyata, AI dapat membangun kesadaran kontekstual.

Dengan mengajarkan AI untuk mendengarkan dan memahami konteks percakapan serta memahami kecerdasan konseptual, mereka memiliki  potensi kuat untuk benar-benar melakukan pekerjaan yang akurat dibanding hanya bersifat generatif dari sudut pandang hasil probabilistik.

2. Kecerdasan Kontekstual Bersifat Multibahasa

Selain kesadaran kontekstual, aspek penting lainnya adalah bahasa. Quaderi menjelaskan bahwa Zoom percaya bahwa kecerdasan kontekstual harus bersifat multibahasa juga. Maupun itu Bahasa, Mandarin, Kanton, Thai, bahkan dialek lokal. 

Para pekerja bisa mengadakan rapat di satu ruangan dengan tiga bahasa berbeda, dan asisten AI Zoom sadar dan mampu untuk melacak percakapan dalam ketiga bahasa di saat yang bersamaan. AI dengan percakapan sebagai antarmuka dapat mengidentifikasi siapa yang berbicara, dalam bahasa apa, konteksnya seperti apa, dan kemudian menghasilkan hasil akhirnya.

Kedua aspek tersebut, menurut Quaderi, merupakan hal-hal kunci yang perlu diperhatikan dalam pengembangan asisten AI Zoom. Menggabungkan konteks percakapan, fleksibilitas model, dan ekosistem terbuka, menjadi langkah inovasi Zoom dalam bidang teknologi AI. 

“Alasan kami melakukan hal ini adalah karena kami percaya kecerdasan percakapan akan menjadi antarmuka utama selanjutnya, dan kami memimpin Zoom dalam hal itu berdasarkan sejarah kami sebagai platform pertemuan dan komunikasi,” ujar Quaderi.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *