
ORANGTUA perlu mewaspadai gejala gangguan pernapasan pada anak di tengah paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Batuk yang memburuk, sesak napas, hingga penurunan kesadaran merupakan tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis segera.
Dokter spesialis anak dari Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI Fifi Sofiah menjelaskan, asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat masuk hingga bagian terdalam paru-paru.
Paparan partikel ini dapat mengiritasi saluran pernapasan, memicu peradangan, serta memperburuk kondisi anak yang memiliki asma maupun penyakit kronis lainnya.
“Jadi, akibat kebakaran hutan, PM2,5 kandungannya lebih toksik dibandingkan dari bahan-bahan yang lain,” kata Fifi dalam media briefing IDAI, Jumat (16/10).
Menurut Fifi, paparan partikel polutan dapat memicu stres oksidatif dan peradangan saluran napas. Peningkatan konsentrasi partikel akibat karhutla juga dapat meningkatkan kunjungan pasien asma ke rumah sakit dan instalasi gawat darurat (IGD), serta memicu infeksi saluran pernapasan akut.
Selain itu, anak lebih rentan terdampak polusi udara karena bernapas lebih sering dibandingkan orang dewasa, sedangkan sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang.
“Risiko gangguan kesehatan juga perlu diwaspadai pada anak dengan penyakit jantung bawaan, asma, gangguan paru-paru, alergi, dan penyakit kronis lainnya,” jelas Fifi.
Fifi mengingatkan orang tua untuk tidak mengabaikan gangguan pernapasan yang muncul selama periode kabut asap. Sesak napas, kesulitan makan atau minum, serta kondisi anak yang sangat mengantuk hingga mengalami penurunan kesadaran merupakan tanda yang memerlukan penanganan medis segera.
“Apabila anak-anak terdapat gangguan pernapasan, sesak napas, kemudian anaknya sudah mulai malas makan, malas minum, apalagi anaknya kondisinya sering mengantuk atau seperti mulai tidak sadar, harus segera membawa ke dokter ataupun ke rumah sakit untuk segera membantu bantuan medis,” tuturnya.
Orangtua juga perlu memperhatikan batuk yang memburuk, napas yang lebih cepat dari biasanya, dan napas berbunyi, terutama pada anak yang memiliki riwayat asma atau gangguan pernapasan. Jika gejala mengarah pada kesulitan bernapas, anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
Selain mengenali gejala, pencegahan paparan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan. Fifi menyarankan orangtua memantau kualitas udara di wilayah tempat tinggal melalui Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) atau indeks kualitas udara.
Ketika kadar ISPU melebihi 50, anak disarankan tetap berada di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup untuk mengurangi masuknya asap.
“Keluarga juga dapat menyiapkan satu ruangan dengan udara bersih dan menghindari sumber polusi di dalam rumah, seperti asap rokok, pembakaran kayu, serta kegiatan memasak yang menghasilkan banyak asap,” jelasnya.
Anak yang memiliki asma atau penyakit kronis perlu tetap memiliki persediaan obat sesuai resep dokter. Sementara itu, bayi dan anak berusia di bawah dua tahun sebaiknya tidak dipakaikan masker dan perlu dijaga tetap berada di dalam ruangan saat kualitas udara memburuk.
Fifi menegaskan pemantauan kualitas udara, pengurangan aktivitas luar ruangan, dan pengenalan tanda bahaya perlu dilakukan secara bersamaan. Langkah tersebut penting agar anak yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla dapat segera memperoleh pertolongan yang tepat. (E-4)
