
DKI Jakarta menduduki peringkat ketiga sebagai kota besar paling berpolusi di dunia pada Jumat pagi (16/10). Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 06.45 WIB, Indeks Kualitas Udara atau AQI di Jakarta berada di angka 186 yang masuk dalam kategori tidak sehat, dengan polusi udara PM2,5 dan nilai konsentrasi mencapai 107 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut menunjukkan tingkat kualitas udara yang dapat merugikan kesehatan manusia maupun kelompok hewan yang sensitif, serta berpotensi menimbulkan kerusakan pada tumbuhan dan nilai estetika lingkungan.
Sebagai perbandingan, indeks kualitas udara dikelompokkan ke dalam beberapa rentang nilai PM2,5, mulai dari kategori baik pada rentang 0-50 yang tidak memberikan efek bagi kesehatan, kategori sedang pada rentang 51-100 yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia namun berdampak pada tumbuhan sensitif, hingga kategori tidak sehat pada rentang 151-200.
Selain itu, terdapat kategori sangat tidak sehat dengan rentang 200-299 yang dapat merugikan kesehatan sejumlah segmen populasi, serta kategori berbahaya pada rentang 300-500 yang secara umum menimbulkan dampak kesehatan serius terhadap seluruh populasi.
Dalam daftar kota berpolusi global pagi ini, posisi pertama ditempati oleh Singapura dengan indeks kualitas udara 228, disusul Kuala Lumpur di urutan kedua dengan indeks 189. Sementara itu, Medan mengekor di posisi keempat dengan indeks 168, dan Milan menduduki peringkat kelima dengan indeks 167.
Mengingat kondisi udara yang memburuk, masyarakat disarankan untuk membatasi atau menghindari aktivitas di luar ruangan, serta menggunakan masker dan menutup jendela jika terpaksa beraktivitas di luar rumah guna mencegah masuknya polusi.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menggulirkan tiga strategi utama untuk menekan tingkat polusi udara perkotaan. Strategi pertama mencakup perluasan jangkauan layanan bus Transjabodetabek untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi melalui rute Blok M-Alam Sutera, Blok M-PIK 2, hingga Blok M-Bandara Soekarno-Hatta.
Strategi kedua dijalankan melalui ajakan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung agar masyarakat beralih menggunakan moda transportasi massal, yang didukung oleh kebijakan layanan transportasi umum gratis bagi 15 golongan warga.
Adapun strategi ketiga difokuskan pada optimalisasi operasional fasilitas pengolahan sampah Refuse Derived Fuel atau RDF di Rorotan, Jakarta Utara, guna menekan emisi dari sektor pengolahan limbah.
(Ant/P-4)
