Di Balik Kritik Lisandro Martinez: Rindu Kemenangan dan Ambisi yang Tersisa di Old Trafford
Bek tengah Manchester United Lisandro Martinez (kiri) berduel dengan pemain Atletico Madrid Alejandro Grimaldo dalam pertandingan Liga Champions antara Club Atletico de Madrid dan Manchester United di Stadion Metropolitano, Madrid , pada 13 Oktober 2026.(AFP/OSCAR DEL POZO.)

SEJAK menang telak 4-0 atas Sabah FK di Liga Champions pada 11 September lalu, Manchester United mendadak “puasa” kemenangan. Empat laga beruntun mereka lewati tanpa hasil maksimal sebelum akhirnya bersiap menantang Atletico Madrid pada Selasa (13/10).

Langkah Setan Merah di ajang domestik pun sudah tersingkir lebih awal. Mereka gugur dari Piala Liga setelah ditekuk Brighton 2-3 pada 17 September. Kekalahan itu terjadi hanya empat hari setelah mereka dipermalukan 0-1 di kandang sendiri oleh sepuluh pemain Manchester City.

Dua kekalahan beruntun di Old Trafford jelas menyakitkan. Masalahnya, performa skuad asuhan Michael Carrick ini tak kunjung membaik. Saat bertemu Fulham dan Tottenham Hotspur, dua tim yang sedang terpuruk di papan bawah, Man United tetap gagal mengamankan poin penuh.

Sangat wajar jika tak banyak yang optimistis United bisa mencuri poin di Stadion Metropolitano, markas Atletico Madrid. Dugaan itu terbukti. Gol cepat Pablo Barrios yang disusul oleh Ademola Lookman, ditambah kartu merah yang diterima Leny Yoro, makin membenamkan United dalam kekalahan 0-2. Ini menjadi kekalahan keempat mereka musim ini sekaligus menandai start terburuk klub dalam 40 tahun terakhir.

Kritik yang Mengguncang

Di tengah gelombang kritik, kejutan justru datang dari ruang ganti. Bek tengah United, Lisandro Martinez, secara terbuka angkat bicara. Pemain yang masa baktingya tinggal menyisakan satu tahun ini secara berani mengkritik manajemen klub. Ia pasang badan membela Carrick dan rekan-rekan setimnya dari tuduhan sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab.

Bagi Martinez, menyalahkan pelatih dan pemain adalah hal yang paling mudah. Namun, ada masalah yang jauh lebih besar: kinerja manajemen, khususnya dalam bursa transfer.

“Saya berharap lebih, 100 persen. Saya berharap lebih kepada direktur teknik kami (Jason Wilcox),” ujar Martinez seperti dikutip dari The Guardian.

Ia tak menutup mata atas lambannya pergerakan transfer klub. Manajemen dianggap terlalu berhitung, bahkan ketika pelatih membutuhkan amunisi baru untuk menambal kelemahan tim.

Padahal, para rival seperti Arsenal, Manchester City, Liverpool, hingga Chelsea tak ragu mengucurkan dana segar demi memperkuat kedalaman skuad. Di sisi lain, belanja United senilai Rp3,66 triliun untuk mendatangkan Youri Tielemans, Andrey Santos, dan Carlos Baleba dinilai belum menjawab kebutuhan mendasar tim.

Keresahan Ruang Ganti

Salah satu celah paling krusial ada di posisi bek kiri, terlebih saat Luke Shaw harus menepi karena cedera. Absennya pelapis sepadan di posisi ini menjadi celah empuk yang dimanfaatkan Atletico untuk mencetak dua gol. United sebenarnya sempat membidik Lewis Hall dari Newcastle United, namun manajemen enggan mengambil langkah agresif untuk merampungkan transfer tersebut.

Sikap hati-hati yang berlebihan dari Wilcox dan jajaran manajemen tak hanya membuat Martinez gemas, tetapi juga memicu kekecewaan para pendukung. The Guardian menyebut suara Martinez mencerminkan keresahan sebagian besar pemain di ruang ganti. Mereka merasa ambisi klub terhambat oleh kebijakan transfer yang pasif.

Pesan Martinez cukup tegas: jika United kembali terpuruk, jangankan hanya menunjuk pelatih atau pemain sebagai kambing hitam. Strategi transfer yang dinilai gagal harus diakui sebagai akar masalahnya.

Beberapa waktu setelah pernyataannya memicu polemik, Martinez memberikan klarifikasi melalui akun Instagram pribadinya pada Rabu (14/10). Ia mengakui bahwa komentarnya terlontar saat emosi sedang tinggi usai kekalahan dari Atletico. Meski begitu, ia tidak menarik substansi pesannya.

“Setelah pertandingan, saya berbicara karena marah dan frustrasi karena kami tidak mendapatkan hasil yang diinginkan bersama. Orang-orang yang mengenal saya tahu bagaimana saya bermain, dengan gairah, komitmen, dan keinginan besar untuk menang,” tulis Martinez.

Bek asal Argentina itu menegaskan bahwa tuntutannya adalah bentuk komitmen agar Manchester United kembali ke jalur juara.

“Ketika saya berbicara tentang keinginan untuk mendapatkan lebih, yang saya maksud adalah ambisi yang harus dimiliki oleh kita semua sebagai bagian dari klub ini. Untuk terus berkembang, menjadi lebih kuat, dan memiliki segala yang dibutuhkan untuk bersaing di level tertinggi,” lanjutnya.

Ia juga menutup pernyataannya dengan menegaskan tanggung jawab para pemain di lapangan.

“Standar tersebut harus kita terapkan kepada diri sendiri, dimulai dari saya. Saya tahu bahwa, pertama dan utama, kamilah para pemain yang harus memberikan hasil, dan saya menempatkan diri di garis depan tanggung jawab tersebut.”

(Ant/P-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *