
PERSATUAN Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) mengancam akan memberikan sanksi tegas berupa pengurangan poin bagi klub-klub di liga Indonesia yang gagal menjaga suporternya dari tindakan anarkis.
Langkah tegas ini diambil menanggapi maraknya aksi kekerasan, seperti penyerangan oknum suporter terhadap rombongan tim Elite Pro Academy (EPA) Persib di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah, serta penyerangan terhadap suporter Persija di Tol Palikanci, Cirebon.
“Saya akan mendorong klub-klub yang tidak bisa menjaga suporternya (bisa saja mendapat) pengurangan poin sekarang. Tapi saya kasih kesepakatan dulu, ya, cuma, kami akan lakukan tindak tegas pastinya,” kata Ketua Umum PSSI Erick Thohir dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (13/10).
Erick yang juga menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga menilai aksi penyerangan tersebut telah menjurus pada tindakan kriminalitas. Ia mencontohkan aksi perusakan bus tim EPA Persib oleh oknum suporter yang membawa benda tumpul.
“Mana ada menonton bola bawa alat pukulan, nah ini konteksnya kan artinya kan sudah ada pemikiran (untuk melakukan kekerasan). Ataupun yang sekarang oknum suporter yang satu lagi membalas, nah ini sama,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa komitmen untuk menjaga keamanan pertandingan dan suporter sebenarnya telah disepakati oleh operator liga serta klub sejak awal.
Bahkan, larangan suporter tandang (away) sempat diterapkan selama hampir empat tahun untuk memberikan efek jera. Namun, ketika larangan tersebut baru dicabut pada musim ini, aksi anarkis kembali berulang.
“Masa enggak kapok juga gitu. Nih, ini sudah dikasih (izin untuk suporter away) pada musim ini, baru ini pertama dikasih, massa kejadian lagi gitu,” kata Erick.
“Ya jangan-jangan tidak ada lagi suporter away lagi,” lanjutnya.
Oleh karena itu, Erick memberi kesempatan kepada operator liga dan klub untuk bersepakat dalam menjamin keamanan pertandingan. Jika kesepakatan tidak tercapai, PSSI siap mengambil alih dan melakukan intervensi.
Meski demikian, ia menegaskan tidak ingin menyalahkan salah satu pihak. Erick mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk berkonsolidasi guna mewujudkan iklim sepak bola Indonesia yang bebas dari tindakan anarkisme. (Ant/Z-1)
