
HINGGA kini kabut asap akibat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara dan Ibu Kota Nusantara (IKN), dimana empat kecamatan yakni Penajam, Waru, Babulu dan Sepaku bertahan dalam kategori tidak sehat.
Demikian diungkapkan, Plt. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU, dr. Lukasiwan Eddy Saputro, Senin (12/10/2026) dikatakannya, berdasarkan laporan analisis dan rekomendasi kualitas udara Tim Tanggap Karhutla Dinkes PPU, untuk empat kecamatan pada Senin hari ini, hasil pengukuran pukul 12.00 – 14.00 Wita, secara umum berada pada kategori tidak sehat.
Diterangkannya, pemantauan dilakukan secara berkala pada area indoor dan outdoor di Kecamatan Penajam, Waru, Babulu, dan Sepaku untuk mengukur konsentrasi partikulat serta memberikan perlindungan kesehatan bagi masyarakat.
Kecamatan Penajam Teringgi
Ia menjelaskan, hasil pengukuran menunjukkan rata-rata konsentrasi partikulat di empat kecamatan mencatatkan angka yang melebihi ambang batas aman. Konsentrasi tertinggi dicatatkan di Kecamatan Penajam, dengan tingkat Particulate Matter ukuran berukuran 10 mikro atau lebih kecil PM10 outdoor mencapai 288,83 mikrogram per meter kubik di kategori sangat tidak sehat dan PM2,5 Outdoor mencapai 98,33 mikrogram per meter kubik kategori tidak sehat.
“Kondisi sangat tidak sehat untuk parameter PM 10 outdoor dan PM 10 indoor juga tercatat di Kecamatan Sepaku mencapai 254,33 mikrogram per meter kubik dan 225,33 mikrogram per meter kubik,” bebernya.
Sementara itu, tambahnya, Kecamatan Waru mencatatkan kualitas udara yang relatif lebih baik dibandingkan kecamatan lainnya, meski parameter PM 2,5 outdoor berada pada kategori tidak sehat 57 mikrogram per meter kubik dan PM 10 outdoor dalam kategori tidak sehat kelompok sensitif 107 mikrogram per meter kubik.
Dari hasil analisis ini, lanjut Lukas, pihaknya menyampaikan rekomendasi dan imbauan kesehatan untuk masyarakat agar mengurangi aktivitas luar ruangan, terutama pada siang hari saat kualitas udara memburuk. Gunakan masker dengan benar yakni menutup hidung dan mulut saat terpaksa beraktivitas di luar ruangan.
“Menutup pintu dan jendela saat kualitas udara menurun, serta tingkatkan ventilasi ketika kondisi udara membaik. Hindari pembakaran sampah dan kurangi sumber debu atau asap di sekitar tempat tinggal,” ujarnya.
Mayoritas Udara di IKN tidak Sehat
Sementara itu, Direktur Pelayanan Dasar Kedeputian Bidang Sosial, Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Suwito menyatakan, kualitas udara pada sore hari pukul 17.00 Wita di IKN, mayoritas tercatat dalam kategori tidak sehat berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
“Pemantauan Kualitas Udara atau ISPU pada pukul 17.00 Wita menunjukkan kecenderungan penurunan kualitas udara di sejumlah wilayah pemantauan. Berdasarkan data terbaru, mayoritas stasiun pemantau mencatatkan tingkat pencemaran udara dalam kategori tidak sehat di wilayah IKN,” tuturnya.
Stasiun Wonotirto, lanjutnya, mencatatkan angka ISPU tertinggi pada pukul 16.50 Wita, menyentuh angka 181 dengan kategori tidak sehat, diiringi suhu udara sebesar 31,9 derajat celcius dan kelembaban 74,8 persen. Disusul Muara Jawa Tengah, ISPU 160 tidak sehat, suhu 32.4 derajat Celcius, Kelembaban 72.0 persen.
Lalu Senipah ISPU tercatat 150 atau tidak sehat, suhu 34.1 derajat Celcius dan kelembaban 69.7 persen. Plaza Bhinneka, ISPU mencapai 109 juga tidak sehat dengan suhu 34.9 derajat Celcius serta kelembaban 61.7 persen.
Dari seluruh lokasi pemantauan, ungkapnya, hanya stasiun Plaza Seremoni yang mencatatkan kualitas udara dalam kategori sedang dengan angka ISPU 84. Sementara itu, empat lokasi lainnya terpantau berada di ambang batas yang dapat merugikan kesehatan.
“Kami mengimbau, agar sasyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, khususnya di wilayah dengan status tidak sehat untuk menggunakan masker pelindung serta mengurangi aktivitas fisik berat guna meminimalkan paparan polusi udara,” pungkas Suwito. (EM)
