
PEMERINTAH telah menyiapkan langkah-langkah atau strategi guna menjaga ketahanan pangan nasional di tengah kondisi kemarau panjang dan ancaman kekeringan. Ketahanan pangan nasional hingga akhir 2026 dipastikan aman.
Hal ini dikemukakan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurafiq, Jumat (9/10). “Pemerintah memastikan ketahanan pangan tetap terjaga dan aman hingga akhir 2026. Namun untuk tahun depan karena terjadi pergeseran waktu tanam akibat elnino tentu akan berpengaruh pada ketahanan pangan,” ungkapnya.
Menurut Hanif sesuai arahan Presiden Prabowo, saat ini Kementerian Koordinator Bidang Pangan melakukan langkah-langkah intensif bersama seluruh kementerian/lembaga untuk menghitung proyeksi dan persediaan bahan pangan nasional. Tercatat stok beras nasional saat ini mencapai 5 hingga 5,2 juta ton.
“Kita sedang menghitung nanti akan diketahui minusnya di bulan keberapa ini yang harus kemudian kita atasi. Memang tidak mudah karena semua negara juga mengalami el nino sehingga semua negara juga mengunci kran ekspornya untuk menjaga kepentingan negara masing-masing. Masih kita perhitungkan lebih detail bilamana memang ada kondisi yang mengharuskan kita perlu menyiapkan langkah pengadaan pangan dalam negara secara cepat dengan sistem tertentu,” tutur Hanif.
Adapun langkah-langkah strategis dan mitigasi lintas sektor yang dilakukan pemerintah antara lain, menjaga stabilitas pasar dan mengantisipasi gejolak harga, program pompanisasi dengan menyiapkan 57.000 unit pompa air untuk mengalirkan air ke sentra-sentra pertanian yang terdampak kekeringan.
Kemudian program bantuan pangan berupa alokasi 10 kg beras per bulan disalurkan kepada 33,24 juta keluarga penerima manfaat untuk melindungi kelompok rentan. Memperkuat infrastruktur irigasi perpompaan yang menjangkau jutaan hektare lahan pertanian hingga mendorong penggunaan varietas bibit unggul yang lebih tahan terhadap kondisi kering.
Di Kalimantan Selatan, kondisi kemarau panjang telah menyebabkan 16 ribu hektare lahan pertanian mengalami kekeringan dan sebagian diantaranya puso. Sebagian lahan pertanian juga menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. “Kekeringan terus meluas dan sebagian mengalami puso akibat kemarau yang cukup ekstrem tahun ini. Selain itu lahan pertanian juga banyak ikut terbakar imbas Karhutla. Ini tentu menjadi perhatian kita,” ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kalsel, Syamsir Rahman.
Namun demikian ketahanan pangan Kalsel dinilai cukup baik. Senada, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalsel, Suparmi mengatakan menghadapi kemarau panjang pihaknya telah melakukan mitigasi dengan memperkuat ketersediaan pakan ternak. “Langkah strategis telah kita lakukan guna menjaga kesehatan dan ketersediaan pakan ternak di tengah kondisi kemarau saat ini,” tutur Suparmi. (E-2)
