
MENJADI orangtua tunggal sekaligus pencari nafkah utama bukan perkara mudah, terlebih ketika salah satu anak membutuhkan pendampingan khusus. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat Siti Khodijah untuk terus bekerja dan memastikan kedua putranya memperoleh kehidupan serta pendidikan yang layak.
Perempuan yang akrab disapa Bunda Reza itu telah menghabiskan 10 tahun terakhir sebagai pengemudi ojek online di Jakarta. Sejak bergabung menjadi mitra Grab Bike pada 2016, ia menjalani keseharian dengan membagi waktu antara mencari penghasilan dan merawat anak-anaknya.
Perjalanan tersebut bermula setelah ia berpisah dengan suaminya pada 2015. Sejak saat itu, Bunda Reza harus menjalankan dua peran sekaligus, sebagai ibu dan tulang punggung keluarga.
Anak pertamanya, yang kini berusia 26 tahun, merupakan penyandang disabilitas yang membutuhkan pendampingan dalam aktivitas sehari-hari. Sementara putra keduanya, berusia 19 tahun, telah menyelesaikan pendidikan sekolah dan sedang mengikuti pelatihan kerja di Bandung sebagai persiapan untuk bekerja di Jepang. Bagi Bunda Reza, tanggung jawab membesarkan kedua anaknya menjadi alasan utama untuk terus bertahan menghadapi berbagai kesulitan.
“Saya punya dua anak yang harus saya hidupi. Kalau saya terus nangis, memang dua anak saya bisa makan air mata? Ya sudah, hapus air mata. Berjuang saja,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (9/10).
Sebelum menjadi pengemudi ojek online, Bunda Reza pernah bekerja sebagai perawat di rumah sakit dan menjalankan usaha makanan. Namun, kebutuhan untuk memperoleh penghasilan sekaligus memiliki waktu merawat anak membuatnya mencari pekerjaan dengan jam kerja lebih fleksibel.
Pilihan itu membawanya bergabung dengan GrabBike pada 2016. Setiap hari, ia biasanya mulai menerima pesanan sekitar pukul 09.00 WIB. Menjelang siang, Bunda Reza pulang untuk memberi makan dan memastikan kondisi anak pertamanya sebelum kembali bekerja.
Menjelang Maghrib, ia kembali ke rumah. Jika situasi memungkinkan, aktivitas mencari penumpang dilanjutkan hingga pukul 21.00 atau 22.00 WIB.
Ketika sedang bekerja, Bunda Reza juga memantau kondisi anak pertamanya melalui kamera pengawas atau CCTV yang dipasang di rumah.
Dalam sehari, ia rata-rata menyelesaikan 20–25 pesanan. Ketika permintaan sedang tinggi, jumlahnya dapat mencapai 33 pesanan.
“Banyak orang yang bertanya kepada saya, kalau sedang narik, siapa yang menjaga anak pertama saya? Saya selalu menjawab, saya titip sama Allah. Sebagai orangtua, tentu ada rasa khawatir, apalagi saat harus meninggalkan anak untuk bekerja,” tuturnya.
Selama satu dekade bekerja, sebagian besar penghasilan Bunda Reza digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, pendidikan, dan perawatan anak-anaknya.
Ketika pertama kali menjadi pengemudi pada 2016, putra keduanya masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Kini, anak tersebut telah menyelesaikan sekolah dan tengah mempersiapkan diri memasuki dunia kerja melalui program pelatihan di Bandung.
Perkembangan itu menjadi salah satu pencapaian yang paling berarti bagi Bunda Reza. Ia tidak hanya berupaya memenuhi kebutuhan pendidikan anak, tetapi juga menanamkan pentingnya kemandirian agar mereka mampu menghadapi tantangan kehidupan.
“Saya selalu mengajarkan anak saya untuk berusaha berdiri di atas kaki sendiri. Bagi saya, kemandirian bukan hanya tentang mampu melakukan sesuatu sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa memotivasi diri, terus belajar, dan menjaga semangat saat menghadapi tantangan,” bebernya.
Pesan tersebut rupanya membekas pada putra keduanya. Sang anak pernah menyampaikan keinginannya untuk belajar hidup mandiri agar kelak dapat membahagiakan ibu dan kakaknya.
Meski demikian, perjalanan membiayai pendidikan anak tidakselalu berjalan lancar. Salah satu tantangan terbesar muncul ketika putra keduanya hendak memasuki jenjang sekolah menengah atas (SMA). Saat itu, Bunda Reza membutuhkan biaya pendidikan yang cuku pbesar, sementara kondisi keuangan keluarga terbatas.
Dalam situasi tersebut, ia memperoleh penawaran fasilitas pembiayaan GrabModal Narik melalui aplikasi Grab. Ia kemudian memanfaatkan pembiayaan sekitar Rp8 juta untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya. Sebagian dana juga disimpan sebagai cadangan keluarga.
“Ketika anak saya akan masuk SMA, saya sempat menghadapi tantangan dalam menyiapkan biaya pendidikannya. Saya sempat bertanya dalam hati, ‘Uangnya dari mana?’ Karena saya single parent, tentu saya ingin kebutuhan anak, terutama pendidikan, tetap terpenuhi,” tuturnya.
Pada kesempatan berikutnya, fasilitas pembiayaan tersebut juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan mendesak, termasuk memperbaiki bagian dapur rumah yang mengalami kerusakan.
Namun, pengalaman itu membuatnya semakin memahami pentingnya mengukur kemampuan keuangan sebelum mengambil pinjaman. Menurut Bunda Reza, kemudahan memperoleh pembiayaan harus diimbangi dengan perencanaan pembayaran agar tidak mengganggu kebutuhan pokok keluarga.
“Saya selalu menghitung dari penghasilan saya on bid berapa yang bisa saya sisihkan untuk pembayaran tanpa mengganggu kebutuhan sehari-hari. Dengan begitu, saya bisa lebih tenang karena tahu batas kemampuan saya,” imbuh dia.
Pengalaman selama 10 tahun menjadi pengemudi juga membawa Bunda Reza aktif dalam komunitas sesama pekerja transportasi daring. Saat ini, ia dipercaya menjadi Ketua Komunitas Lady Grab Jakarta Timur.
Melalui komunitas tersebut, Bunda Reza kerap berbagi pengalaman mengenai pengelolaan penghasilan, perencanaan keuangan keluarga, hingga pentingnya mempertimbangkan kemampuan membayar sebelum mengakses pembiayaan.
Pengalaman Bunda Reza sekaligus menggambarkan peran akses pembiayaan bagi pekerja sektor informal dan pelaku usaha kecil yang membutuhkan tambahan dana untuk berbagai keperluan.
Berdasarkan data Grab, lebih dari 600.000 mitra UMKM, yang terdiri atas mitra GrabMerchant dan pengemudi di Indonesia, telah mengakses pendanaan dengan nilai kumulatif lebih dari Rp9 triliun melalui GrabModal sejak layanan tersebut diluncurkan.
Layanan GrabModal by OVO Finansial menyediakan fasilitas pembiayaan bagi mitra pengemudi dan merchant dengan skema pembayaran harian. Layanan tersebut berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Meski akses pembiayaan dapat membantu memenuhi kebutuhan mendesak, Bunda Reza menekankan bahwa setiap keputusan berutang tetap harus disesuaikan dengan kemampuan finansial masing-masing.
Setelah satu dekade bekerja sebagai pengemudi ojek online, Bunda Reza merasakan kondisi ekonomi keluarganya lebih stabil dibandingkan ketika pertama kali memulai pekerjaan tersebut.
Penghasilan yang diperolehnya tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memungkinkan dirinya menabung, membeli kendaraan untuk bekerja, memperbaiki rumah, dan membiayai pendidikan anak.
Ia merasa bangga karena mampu memenuhi kebutuhan keluarga melalui hasil kerja sendiri, sekaligus mempersiapkan masa depan kedua putranya.
“Sejak menjadi Mitra Pengemudi GrabBike, saya merasa lebih percaya diri karena bisa membantu memenuhi kebutuhan anak-anak dari hasil keringat saya sendiri. Kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi, kebutuhan anak-anak juga tetap terpenuhi, dan saya masih bisa menyisihkan sedikit untuk keperluan tak terduga,” tandasnya. (E-4)
