Populasi Penguin Chinstrap di Antartika Turun Drastis 63 Persen
Aktivis Greenpeace Indonesia melakukan aksi damai menggunakan kostum Pinguin saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor di Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (9/2/2020). ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang/foc. )(ANTARA FOTO/SAHRUL MANDA TIKUPADANG)

LAPORAN ilmiah terbaru mengungkapkan kondisi mengkhawatirkan di Antartika, tepatnya di Pulau Zavodovski, yang dikenal sebagai rumah bagi koloni penguin chinstrap terbesar di dunia. Hewan itu dilaporkan telah kehilangan hampir dua pertiga populasinya dalam kurun waktu 14 tahun terakhir. Penurunan tajam ini memicu alarm bagi para konservasionis mengenai dampak nyata perubahan iklim terhadap rantai makanan di Samudra Selatan.

Data Penurunan Populasi 2011-2025

Berdasarkan studi yang dipimpin oleh British Antarctic Survey (BAS) dan diterbitkan pada Rabu (7/10/2026), terjadi penurunan populasi yang sangat signifikan di Pulau Zavodovski, bagian dari Kepulauan South Sandwich. Berikut adalah rincian data yang ditemukan oleh para peneliti:








Indikator Detail Data
Persentase Penurunan 63%
Populasi Tahun 2011 1,09 juta ekor (usia reproduksi)
Populasi Tahun 2025 Sekitar 402.000 ekor
Total Kehilangan Lebih dari 680.000 ekor

Metodologi Penelitian Modern

Untuk mendapatkan data yang akurat di wilayah yang sulit dijangkau tersebut, tim peneliti BAS menggunakan kombinasi teknologi mutakhir, antara lain:

  • Survei Drone dan Fotografi Udara: Digunakan untuk memetakan kepadatan koloni secara visual dari ketinggian.
  • Data Satelit: Memantau perubahan lanskap habitat dan pergerakan koloni dalam skala besar.
  • Perangkat Pelacak (Tagging): Dipasang langsung pada penguin untuk memahami pola pencarian makan dan migrasi mereka di laut lepas.

Penyebab Utama: Krisis Krill dan Perubahan Iklim

Penurunan populasi ini tidak terjadi tanpa alasan. Para peneliti menemukan korelasi kuat antara berkurangnya jumlah penguin dengan perubahan kondisi di Samudra Selatan. Faktor utamanya adalah ketersediaan krill Antartika, krustasea kecil yang menjadi sumber makanan pokok bagi penguin chinstrap.

Norman Ratcliffe, ahli ekologi penguin di BAS yang memimpin penelitian ini, menjelaskan bahwa data pelacakan menunjukkan perubahan perilaku mencari makan. “Data kami menunjukkan bahwa mereka lebih memilih mencari makan di perairan yang lebih dingin di sebelah barat laut pulau,” ujar Ratcliffe. Wilayah tersebut merupakan area di mana penguin berharap dapat menemukan konsentrasi krill yang lebih tinggi, namun tampaknya pasokan makanan tersebut kian menipis atau bergeser akibat pemanasan suhu laut.

Implikasi Konservasi Global

Temuan ini menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi keberlangsungan spesies chinstrap secara global, mengingat Kepulauan South Sandwich merupakan habitat utama bagi sebagian besar populasi spesies ini di dunia.

Catatan Status Konservasi: Saat ini, International Union for Conservation of Nature (IUCN) masih mengategorikan penguin chinstrap dalam status “Least Concern” (Risiko Rendah). Namun, dengan adanya data penurunan drastis ini, para peneliti mendesak agar status tersebut segera ditinjau kembali guna memberikan perlindungan hukum dan upaya konservasi yang lebih ketat.

Kehilangan lebih dari 680.000 ekor penguin dalam kurun waktu kurang dari 15 tahun adalah peringatan keras bagi dunia. Skala dan kecepatan penurunan ini menunjukkan bahwa ekosistem Antartika sedang mengalami tekanan hebat akibat perubahan iklim. Tanpa langkah mitigasi global untuk menstabilkan suhu laut dan melindungi stok krill, koloni ikonik di Pulau Zavodovski terancam terus menyusut hingga mencapai titik yang tidak dapat dipulihkan.

 (Ant/H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *