Aktivitas Fisik Konsisten Perlambat Penurunan Kognitif dan Motorik Parkinson
Ilustrasi.(Magnific)

DALAM dunia olahraga, perdebatan mengenai yang lebih penting antara intensitas latihan atau durasi latihan telah berlangsung lama. Bagi penderita penyakit Parkinson, penelitian terbaru memberikan jawaban yang cukup melegakan.

Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal Neurology, individu yang melakukan lebih banyak aktivitas fisik mengalami penurunan kemampuan gerak dan berpikir yang lebih lambat seiring berjalannya waktu. Hal ini menunjukkan bahwa tetap aktif berkorelasi langsung dengan progresi penyakit yang lebih lambat.

Menariknya, durasi waktu yang dihabiskan untuk beraktivitas fisik dan konsistensi adalah faktor yang lebih menentukan dibandingkan seberapa berat intensitas latihan tersebut. Hal ini disampaikan oleh penulis utama studi, Dong-Woo Ryu dari University of Cincinnati.

Bukan sekadar Olahraga Berat

Temuan ini menjadi kabar baik bagi mereka yang sebelumnya tidak terbiasa berolahraga berat. Jori Fleisher, profesor ilmu neurologi di Rush University Medical Center, menjelaskan bahwa segala bentuk aktivitas fisik sangat berarti.

“Bukan hanya bersepeda atau lari yang berat, bahkan intensitas moderat pun memberikan dampak,” ujar Fleisher yang tidak terlibat dalam studi tersebut.

Parkinson sendiri merupakan gangguan otak yang memburuk seiring waktu, menjadi penyakit neurodegeneratif kedua paling umum setelah Alzheimer. Gejala utamanya meliputi tremor, kekakuan, gerakan lambat, serta kesulitan keseimbangan. Namun, Parkinson juga memengaruhi aspek non-motorik seperti memori, suasana hati, bicara, tidur, hingga pencernaan.

Metodologi dan Temuan Studi

Para peneliti memantau 294 orang dengan Parkinson stadium ringan hingga sedang selama lima tahun untuk fungsi kognitif dan hingga tujuh tahun untuk gejala motorik. Aktivitas fisik dibagi menjadi dua kategori:

  • Aktivitas Moderat: Jalan cepat, bersepeda santai, tenis ganda, dan pekerjaan rumah tangga seperti menyedot debu atau mengepel.
  • Aktivitas Berat: Joging, bersepeda cepat, tenis tunggal, dan aerobik.

Peserta dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan total aktivitas mingguan: kurang dari empat jam, empat hingga delapan jam, dan lebih dari delapan jam. Hasilnya, kelompok yang paling aktif secara fisik menunjukkan penurunan kognitif yang hampir nol (0,007 poin per tahun) dibandingkan kelompok paling tidak aktif yang kehilangan 0,48 poin per tahun pada tes kognitif 30 poin.

Secara motorik, kelompok paling aktif juga mengalami pemburukan gejala (seperti kekakuan dan kelambatan gerak) yang jauh lebih lambat. Hal ini berpotensi mengurangi kebutuhan dosis obat yang terus meningkat seiring waktu.

Konsistensi adalah Kunci

Fleisher menekankan bahwa konsistensi adalah resep rahasianya. Meskipun olahraga intensitas tinggi tetap bermanfaat untuk kebugaran kardiovaskular, durasi total aktivitas fisiklah yang paling berkaitan erat dengan perubahan jangka panjang pada kemampuan gerak dan memori.

Studi ini tidak menyarankan penderita Parkinson untuk langsung menargetkan delapan jam aktivitas fisik per minggu jika tidak memungkinkan. Namun, para ahli menyarankan untuk mengejar setidaknya 150 menit aktivitas moderat per minggu secara bertahap.

Mengapa Olahraga Membantu Otak?

Para ilmuwan memiliki beberapa teori, di antaranya:

  • Meningkatkan aliran darah ke otak yang mendukung neuroplasticity (kemampuan otak beradaptasi).
  • Mengurangi peradangan di otak.
  • Meningkatkan hormon yang berperan dalam pembentukan neuron baru.
  • Memperbaiki kualitas tidur dan mengurangi isolasi sosial melalui kelas kebugaran.

Pesan Praktis untuk Pasien

Meskipun studi ini menunjukkan korelasi kuat, para peneliti mencatat ada keterbatasan, termasuk kemungkinan reverse causation alias orang dengan progresi penyakit yang lebih lambat memang lebih mampu untuk tetap aktif.

Namun, aktivitas fisik tetap menjadi salah satu perilaku yang paling bisa dimodifikasi dengan bukti ilmiah yang kuat. Fleisher menyarankan agar pasien tidak terobsesi mencari jenis latihan terbaik untuk Parkinson.

“Lakukan hal yang benar-benar akan Anda jalani secara konsisten. Olahraga tersedia untuk semua orang, terlepas dari kemampuan fisik Anda. Mulailah dari posisi Anda saat ini dan bangunlah dari sana,” pungkasnya. (The Washington Post/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *