
ARAB Saudi, eksportir minyak mentah terbesar di dunia, secara drastis memangkas harga jual minyak mentah andalannya untuk pembeli di Asia. Langkah ini diambil seiring dengan pulihnya aliran pengiriman melalui Selat Hormuz secara signifikan, meskipun pembeli masih menghadapi tingginya biaya pengiriman akibat dampak perang Iran.
Perusahaan minyak negara, Saudi Aramco, pada Minggu (4/10) menurunkan Harga Jual Resmi (OSP) untuk pengiriman November untuk jenis Arab Light ke Asia sebesar US$3 per barel. Dengan pemotongan ini, harga tersebut kini berada pada diskon US$5 per barel terhadap tolok ukur Oman/Dubai.
OSP merupakan tarif bulanan yang ditetapkan oleh perusahaan minyak nasional untuk pelanggan kontrak jangka panjang dan biasanya dipatok pada tolok ukur minyak mentah regional. Harga-harga ini mencerminkan permintaan dari kilang serta persaingan antar eksportir, menjadikannya indikator kondisi pasar yang dipantau ketat di wilayah konsumsi utama.
Pemulihan Aliran Ekspor dan Persaingan Pasar
Para analis menyebutkan bahwa ekspor minyak mentah dari Timur Tengah telah kembali ke level sebelum perang. Produsen utama di kawasan tersebut meningkatkan pasokan melalui transfer kapal-ke-kapal (ship-to-ship), penggunaan pelabuhan alternatif, dan pipa penyalur. Peningkatan aliran ini membuat lebih banyak minyak mentah tersedia bagi pembeli, yang pada gilirannya memperketat persaingan antar produsen.
Data dari penyedia data Kpler menunjukkan bahwa pengiriman melalui Selat Hormuz melonjak dari sekitar 1,4 juta barel per hari pada akhir Agustus menjadi sekitar 4,1 juta barel pada pekan lalu. Namun, lonjakan ekspor ini mendorong operasi ship-to-ship di Teluk Oman mendekati batas kapasitas, sehingga permintaan tanker tetap tinggi dan tarif pengiriman tetap mahal. Penurunan harga jual oleh Aramco diharapkan dapat membantu menutupi sebagian dari kenaikan biaya logistik tersebut bagi pembeli.
“Minyak mentah dengan harga patokan Brent semakin sulit bersaing di pasar Asia,” ujar Aaron Kildow, strategi pasar senior di Sparta Commodities.
Penyesuaian Harga Global
Selain Arab Light, Aramco juga memangkas harga November untuk jenis minyak mentah yang lebih berat ke Asia sebesar US$5 per barel. Sebaliknya, harga untuk pengiriman ke Eropa Barat Laut dan Mediterania justru dinaikkan sebesar US$3 per barel, sementara harga untuk pelanggan di Amerika Serikat tetap tidak berubah.
Arab Saudi saat ini memuat minyak mentah dari kedua pesisirnya, yakni Teluk Persia dan Laut Merah. Kerajaan tersebut juga telah melanjutkan ekspor melalui pipa East-West yang sempat ditutup pada pertengahan September akibat serangan pesawat tak berawak. Pipa tersebut kini telah kembali mengalirkan sekitar 5,5 juta barel per hari, menyisakan sekitar 4 juta barel per hari untuk diekspor dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Tantangan Keberlanjutan dan Stabilitas Produksi
Meski ekspor pulih, keberlanjutan laju ini masih menjadi pertanyaan. Risiko keamanan di sekitar selat Bab al-Mandab memaksa kargo dari Yanbu mengambil rute yang lebih mahal melalui Tanjung Harapan. Serangan yang sering dilakukan oleh militan Houthi Yaman terhadap fasilitas di pesisir barat Arab Saudi menambah ketidakpastian.
Di sisi lain, Arab Saudi dan sekutu OPEC+ sepakat untuk menjaga produksi minyak tetap stabil pada bulan November mengingat risiko keamanan regional yang masih tinggi. Beberapa kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan di Selat Hormuz serta di lepas pantai Oman dan Yaman dalam beberapa pekan terakhir.
Sentimen pasar juga sedikit mereda setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS tidak akan memberlakukan larangan ekspor diesel. Sebelumnya, langkah tersebut sempat dikhawatirkan akan memperketat pasokan global lebih lanjut. (The Wall Street Journal/I-2)
