
SEBANYAK 1.232 anak yatim dan yatim piatu mengikuti pertemuan rutin bulanan sekaligus menerima santunan di Masjid Al Qohhar, Sawangan, Depok, Minggu (4/10).
Kegiatan tersebut dihadiri Pembina Yayasan Al Qohhar H. Robert Nitiyudo Wachjo bersama keluarga, Ketua Yayasan Kartono Warigogung, pengurus yayasan, tokoh masyarakat, dan sejumlah undangan.
Dari total peserta, sekitar 865 merupakan anak yatim dan 367 lainnya anak yatim piatu. Selain penyerahan santunan, kegiatan diisi dengan tausiah, silaturahmi, serta permainan dan hiburan bagi anak-anak.
Dalam tausiahnya, H. Robert mengajak anak-anak untuk membiasakan berdzikir dan bersyukur kepada Allah SWT. Ia menyebut kedua hal tersebut sebagai bagian dari upaya menjalani kehidupan dengan penuh rasa syukur.
“Perhatian kepada anak-anak ini adalah bentuk kecintaan dan upaya meneruskan amanat guru kami,” ujar H. Robert.
Pendampingan terhadap anak binaan disebut mencakup sejumlah kebutuhan, termasuk kesehatan. Salah satu anak binaan, Wildan, mendapat pengobatan di Singapura setelah mengalami gangguan penglihatan yang menyebabkan hampir kehilangan penglihatan. Setelah menjalani pengobatan, kondisinya disebut membaik.
Pendampingan kesehatan juga diberikan kepada anak binaan yang mengalami kanker darah dan sempat mengalami kelumpuhan. Kondisi anak tersebut dilaporkan berangsur membaik dan telah dapat berjalan.
Untuk mendukung layanan kesehatan, yayasan menyediakan dokter, klinik umum dan gigi, kunjungan psikolog serta tenaga medis, dan akses ke rumah sakit spesialis. Pengurus juga menyampaikan rencana pembangunan rumah sakit untuk menunjang layanan kesehatan bagi anak binaan.
Ketua Yayasan Al Qohhar Kartono Warigogung mengatakan pendampingan terhadap anak yatim dan yatim piatu tidak hanya berupa pemberian santunan.
“Dari awal amanatnya memang untuk mengurus anak yatim dan yatim piatu. Jadi bukan hanya soal memberikan santunan. Anak-anak ini punya banyak kebutuhan. Pendidikan, kesehatan, makanan, tempat tinggal, semuanya harus diperhatikan,” kata Kartono.
Yayasan tersebut berdiri secara resmi pada 9 Juli 2003 dan sebelumnya berkembang dari kegiatan majelis ta’lim. Setelah guru H. Robert meninggal dunia, amanat untuk mengurus anak yatim dan lansia dilanjutkan melalui kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan, dan keagamaan.
Dalam bidang pendidikan, bantuan yang diberikan mencakup beasiswa, kebutuhan sekolah, renovasi rumah, serta sejumlah perangkat penunjang kegiatan belajar. Anak binaan juga dapat mengikuti kegiatan pengembangan keterampilan dan bakat, seperti kursus Bahasa Inggris, jujutsu, dan renang.
Sejumlah program pendidikan tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Universitas Binawan dan lembaga pelatihan kerja di Lampung.
Selain pendampingan pendidikan dan kesehatan, anak binaan juga mendapat bantuan sesuai kebutuhan masing-masing. Anaya Syakira Abimanyu, 12, siswi SMP Dharma Karya UT Pamulang yang menjadi binaan sejak 2024, mengatakan bantuan yang diterimanya antara lain berupa perangkat belajar dan dukungan mengikuti les Bahasa Inggris.
Anaya juga menyebut H. Robert memberikan perhatian dalam kehidupan sehari-hari anak-anak binaan.
Sementara itu, Zahra, 16, siswi SMAN 10 Depok, dan Mitsuhana Kazuko Minakoshi, siswi SMA Alhasra yang menjadi binaan sejak 2022, turut menerima santunan bulanan dan bantuan untuk mendukung aktivitas pendidikan.
Mitsuhana mengatakan dukungan tersebut turut membantunya mempersiapkan rencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Kartono mengatakan pendampingan diberikan berdasarkan kebutuhan masing-masing anak.
“Pak Haji ingin anak-anak ini mendapatkan apa yang memang mereka butuhkan. Kalau ada yang sekolah, kita pikirkan sekolahnya. Kalau ada yang sakit, kita pikirkan pengobatannya,” ujarnya.
Selain mendampingi anak yatim dan yatim piatu, kegiatan sosial yang dilakukan yayasan juga mencakup penyaluran sembako bagi warga lanjut usia. (E-4)
