Anggota DPR Inggris Desak Investigasi Penanganan Whistleblower Usai Kematian Simon Andriesz
Sebuah foto tahun 2012 yang ditemukan dalam arsip Epstein menunjukkan Lutnick (kanan) dan Epstein (tengah) di Little St James.(US Department of Justice)

SEJUMLAH anggota DPR Inggris mendesak digelarnya investigasi terhadap penanganan whistleblower oleh regulator keuangan Inggris (Financial Conduct Authority/FCA). Desakan ini muncul menyusul kematian seorang mantan pialang Inggris yang membongkar bukti hubungan bisnis antara Sekretaris Perdagangan AS Howard Lutnick dan terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein.

Simon Andriesz, mantan karyawan senior di firm broker internasional BGC Partners, perusahaan yang didirikan dan dipimpin oleh Lutnick sebelum diangkat oleh Presiden AS Donald Trump, meninggal dunia bulan lalu di Thailand. Pihak keluarga menyatakan Andriesz mengakhiri hidupnya sendiri pada 23 September dan tidak ada indikasi tindak kejahatan (foul play).

Sebelum meninggal, Andriesz menyampaikan kekhawatiran dan bukti kepada FCA, FBI, serta lembaga pengawas lainnya terkait hubungan bisnis antara Epstein dan Lutnick. Bukti tersebut meragukan pernyataan publik Lutnick mengenai hubungannya dengan Epstein.

Andriesz mengungkap bukti bahwa Lutnick berupaya “membeli seorang pangeran” dengan menawarkan kerja sama bisnis kepada Andrew Mountbatten-Windsor pada tahun 2013, serta memanfaatkan jaringan kontak mantan pangeran tersebut untuk menarik investasi dengan imbalan pinjaman senilai £1 juta. Pihak BGC mengonfirmasi kepada BBC bahwa usulan usaha patungan tersebut tidak terlaksana.

Selain itu, Andriesz menyerahkan bukti dugaan pelanggaran di bekas firma Lutnick, termasuk tuduhan penyelewengan dana komisi bonus pialang. Pihak BGC telah membantah tuduhan tersebut.

Kematian Andriesz memicu keprihatinan mendalam dari para anggota DPR Inggris terkait perlakuan terhadap whistleblower yang melaporkan dugaan pelanggaran serta tindakan balasan yang mereka terima.

Beberapa minggu sebelum wafatnya, Andriesz mengaku merasa “sangat dikecewakan” dan melalui “penderitaan luar biasa” akibat sikap FCA. Lembaga regulator tersebut sebelumnya menyatakan “tidak cukup bukti” untuk menyimpulkan adanya tindakan balasan dari BGC, sebuah kesimpulan yang menurut Andriesz menyulitkan posisinya saat mengajukan gugatan hukum.

Dalam sebuah acara kampanye, Andriesz menuding FCA tidak memenuhi kewajibannya kepada publik dan whistleblower.

“Lembaga itu melindungi institusi dan kemudian membiarkan whistleblower menghadapi pembalasan ekstrem serta kehancuran bagi kehidupan dan keluarga mereka,” kata Andriesz.

John McDonnell, anggota DPR dari Partai Buruh sekaligus ketua kelompok All-Party Parliamentary Group (APPG) untuk Penipuan Investasi dan Layanan Keuangan yang Lebih Adil, menyebut kematian Andriesz sebagai “tragedi mendalam yang seharusnya dapat dicegah.”

McDonnell menegaskan bahwa whistleblower merupakan komponen esensial dalam sistem regulasi keuangan dan memperingatkan akan dampaknya terhadap integritas sistem jika laporan mereka tidak ditangani dengan serius dan dilindungi secara memadai. Para anggota DPR menuntut FCA membiayai pihak independen untuk mengevaluasi penanganan terhadap whistleblower.

Menanggapi hal tersebut, FCA menyatakan belasungkawa atas meninggalnya Andriesz dan mengumumkan penunjukan direktur non-eksekutif baru, Lea Paterson, untuk meninjau penanganan kasus tersebut.

“Kami sangat berduka mendengar kematian Tn. Andriesz. Pikiran kami bersama keluarga dan teman-temannya,” ujar juru bicara FCA.

“Sejak menyampaikan belasungkawa, kami telah meminta Lea Paterson, yang baru saja bergabung dengan dewan kami sebagai direktur non-eksekutif, untuk meninjau bagaimana kami berinteraksi dengan Tn. Andriesz demi memetik pelajaran untuk masa depan,” tambahnya. (BBC/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *