
KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan dan Sumatera tidak hanya menjadi ancaman bagi kesehatan manusia, tetapi juga membawa dampak sistemik yang fatal bagi satwa liar. Salah satu yang paling terdampak adalah orang utan, primata ikonik Indonesia yang kini berada di ambang kepunahan.
Pakar Genetika Ekologi dari IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, mengungkapkan bahwa karhutla memperburuk kondisi populasi orang utan yang sudah sangat rentan. Saat ini, orang utan telah masuk dalam kategori satwa liar Critically Endangered atau sangat terancam punah.
“Populasinya terus menurun akibat kerusakan habitat dan ekosistem sebagai dampak deforestasi, kebakaran hutan, serta perburuan liar,” ujar Prof Ronny.
Kondisi Populasi yang Mengkhawatirkan
Data populasi menunjukkan angka yang sangat kritis, terutama untuk spesies yang berada di wilayah Tapanuli dan Kalimantan. Berikut adalah estimasi populasi orang utan berdasarkan data yang disampaikan:
| Wilayah/Spesies | Estimasi Populasi |
|---|---|
| Orang Utan Tapanuli | 716 – 800 ekor |
| Orang Utan Kalimantan | 104.700 ekor |
Ancaman Kesehatan dan Konflik dengan Manusia
Selain kehilangan tempat tinggal dan sumber pangan, karhutla memaksa orang utan keluar dari habitat aslinya. Kondisi ini memicu risiko baru, yakni meningkatnya potensi konflik antara manusia dan satwa liar karena orang utan cenderung mendekati permukiman warga untuk mencari makan.
Dari sisi kesehatan, paparan asap karhutla sangat berbahaya bagi sistem pernapasan orang utan yang sensitif. Partikel mikroskopis PM2.5 dapat masuk hingga ke alveolus paru-paru, menyebabkan iritasi dan peradangan serius.
- Jangka Pendek: Kekurangan oksigen, batuk, dan sesak napas.
- Jangka Panjang: Bronkitis dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
- Sistemik: Stres oksidatif, penurunan imun, gangguan metabolisme, hingga potensi gangguan sistem reproduksi.
Masalah Global yang Membutuhkan Solusi Nyata
Prof Ronny menegaskan bahwa karhutla di Indonesia bukan lagi sekadar persoalan lokal, melainkan masalah global karena dampaknya terhadap keseimbangan iklim dan ekonomi dunia. Ia mendesak adanya langkah konkret dan berkelanjutan dari pemerintah untuk memutus siklus tahunan ini.
“Dunia menuntut langkah nyata dari Indonesia, mulai dari pencegahan berkelanjutan, penegakan hukum yang tegas bagi pembakar hutan, hingga peningkatan transparansi data agar komunitas internasional dapat ikut memantau dan membantu koordinasi lintas batas guna mengurangi dampak kabut asap,” pungkasnya. (Z-1)
