
LEDAKAN terdengar di Addis Ababa, ibu kota Ethiopia, pekan ini. Kota yang jarang menjadi sasaran serangan langsung tersebut kini berada dalam bayang-bayang serangan pesawat tak berawak (drone), menandakan betapa cepatnya pertempuran baru di negara itu menyebar. Bentrokan antara pasukan pemerintah dan kelompok pemberontak menewaskan puluhan warga sipil di utara dalam beberapa hari terakhir, dan kini merembet ke selatan menuju situs ziarah Lalibela.
Konflik ini seolah melanjutkan perang saudara mengerikan yang berakhir dengan kesepakatan damai rapuh pada 2022, yang sebelumnya merenggut ratusan ribu nyawa. Di tengah pergeseran aliansi, pemberontak di Ethiopia utara kembali mengangkat senjata melawan pemerintahan Perdana Menteri Abiy Ahmed, sementara PBB memperingatkan ada ancaman bencana kemanusiaan.
Risiko Eskalasi Regional
Pertempuran kali ini terjadi di tengah rangkaian konflik yang saling tumpang tindih di kawasan Tanduk Afrika dan sekitarnya. Risiko perang skala penuh di Ethiopia dapat meletus dan terjalin dengan ketidakstabilan di luar perbatasan negara tersebut. Ketegangan antara Ethiopia dan Eritrea dilaporkan mencapai titik kritis, sementara Sudan masih terjebak dalam perang saudara yang memicu krisis kemanusiaan terparah di dunia.
Di sisi lain, pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman terus memperkuat posisi di sepanjang Laut Merah, jalur air strategis yang menjadi pusat persaingan geopolitik antara Afrika dan Timur Tengah.
Cameron Hudson, spesialis Afrika Timur dan mantan analis CIA, mencatat perbedaan signifikan dalam konflik kali ini. “Perang terakhir berlangsung lambat, dengan pertempuran berpindah dari kota ke kota. Kali ini, pertempuran berlangsung sangat cepat dan terjadi di seluruh negeri,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ledakan di Addis Ababa berpotensi mengubah karakter perang secara keseluruhan, mengingat kota tersebut adalah pusat ekonomi dan rumah bagi ribuan warga asing.
Aliansi Pemberontak dan Keterlibatan Asing
Pemberontak Tigray dari utara kini telah bergabung dengan aliansi enam kelompok pemberontak lain di seluruh negeri. Ethiopia menuduh tetangganya, Eritrea–yang pada perang sebelumnya memihak pemerintah–kini berbalik mendukung para pemberontak. Meskipun Eritrea membantah, ketegangan meningkat setelah PM Abiy Ahmed mendorong akses ke Laut Merah, yang dianggapnya sebagai kebutuhan eksistensial bagi Ethiopia.
Duta Besar AS untuk Ethiopia, Ervin J. Massinga, telah mengeluarkan pernyataan yang mengutuk Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) karena meluncurkan serangan yang ia sebut tidak mungkin dimenangkan. Sementara itu, pemerintah Ethiopia juga menuduh Sudan dan Mesir ikut mendukung kelompok bersenjata, klaim yang ditolak oleh kedua negara tersebut.
- Lebih dari 500.000 orang tewas dalam konflik sebelumnya (2020-2022).
- Pemberontak berhasil merebut tiga bandara utama di Tigray bulan lalu.
- Layanan internet dan perbankan di wilayah konflik terputus, memicu lonjakan harga pangan.
Dampak Kemanusiaan yang Mengkhawatirkan
Di tengah kemajuan militer dari kedua belah pihak, warga sipil menjadi pihak yang paling terdampak. Doctors Without Borders melaporkan ratusan korban luka akibat perang mencari perawatan di rumah sakit-rumah sakit di Tigray dalam beberapa pekan terakhir. Pemadaman internet yang meluas membuat akses informasi menjadi sulit dan jumlah total kematian serta cedera sulit dipastikan.
Haimanot Ashenafi, peneliti dari Amnesty International, menyatakan bahwa penyintas konflik sebelumnya merasa ngeri dengan kondisi yang akan terjadi sekarang. Kekhawatiran akan kembalinya kondisi kelaparan seperti pada perang pertama terus menghantui penduduk, terutama dengan ditutupnya bank-bank dan melambungnya harga kebutuhan pokok.
Hingga saat ini, pasukan pemerintah dilaporkan telah merebut kembali beberapa kota strategis di Tigray, tetapi pasukan antipemerintah terus merangsek maju di wilayah Amhara dan Afar, memaksa penangguhan penerbangan ke kota wisata Lalibela. (The Washington Post/I-2)
