Dampak Kemarau di Banyumas Meluas, 54 Ribu Warga Krisis Air Bersih
Ilustrasi(Dok BPBD Banyumas)

DAMPAK musim kemarau panjang di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dilaporkan semakin meluas. Hingga saat ini, sebanyak 54.561 jiwa yang tersebar di 68 desa/kelurahan pada 20 kecamatan mulai merasakan dampak serius dari kekeringan tersebut.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, Dwi Irawan Sukma, mengungkapkan bahwa kondisi kemarau ini diprediksi akan berlangsung cukup lama, bahkan hingga Januari 2027. Hujan dengan intensitas yang signifikan diperkirakan baru akan turun pada bulan Februari mendatang.

“Untuk musim kemarau ini diperkirakan sampai dengan Januari. Karena di titik Februari itu diperkirakan sudah mulai akan ada hujan,” ujar Dwi pada Minggu (27/9).

Meskipun ada kemungkinan hujan turun di pertengahan periode kemarau, Dwi menyebut intensitasnya diperkirakan tidak akan tinggi. Hal ini dinilai belum cukup untuk mengakhiri kondisi kering yang melanda sejumlah wilayah di Banyumas.

“Kalau mungkin di pertengahan ini pun juga ada hujan, tapi tidak sebegitu deras. Tidak terlalu banyak hujan. Habis itu kemarau lagi mungkin sampai dengan Januari akhir atau mungkin Februari awal,” tambahnya.

Distribusi Air Bersih Capai 4 Juta Liter

Guna mengatasi krisis air bersih yang kian meluas, BPBD Banyumas terus melakukan distribusi air ke wilayah-wilayah terdampak. Hingga saat ini, total air bersih yang telah disalurkan mencapai 4.057.000 liter melalui 798 ritase pengiriman.

Dwi menegaskan bahwa distribusi air bersih akan terus dilakukan selama musim kemarau berlangsung, mengingat jumlah wilayah terdampak yang terus bertambah setiap harinya. Pemerintah daerah memastikan kesiapan logistik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Walaupun mungkin ada peningkatan setiap hari, kita persiapkan tercukupi sampai dengan Desember,” tegas Dwi.

Waspada Karhutla di 40 Titik

Selain krisis air bersih, kemarau panjang juga memicu peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan data BPBD Banyumas, tercatat sudah ada 40 titik kejadian karhutla dengan total luas lahan terdampak mencapai sekitar 33,768 hektare.

Sejauh ini, titik-titik kebakaran didominasi oleh tumpukan sampah, daun kering, serta vegetasi di sekitar hutan dan pekarangan warga. Terkait nilai kerugian materiil, pihak BPBD masih melakukan pendataan lebih lanjut.

“Kalau jumlah kerugian sementara belum sampai kita di titik jumlah kerugian. Karena pada dasarnya memang di karhutla itu hanya di titik sampah, mungkin juga termasuk daun-daun yang ada di wilayah hutan dan juga di pekarangan,” pungkasnya. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *