
PASAR properti Indonesia pada 2026 menghadapi konsumen yang semakin selektif dalam menentukan pembelian hunian. Di tengah tantangan daya beli dan pertimbangan cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), pembeli yang membutuhkan hunian untuk ditempati atau end-user disebut lebih dominan dibandingkan investor.
Co-Founder Linktown, Abel Andy Kurniajaya mengatakan, kondisi pasar tahun ini dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kebijakan pemerintah, daya beli masyarakat, lokasi, segmentasi hingga strategi harga. Menurut dia, konsumen kini membutuhkan waktu lebih panjang untuk mengambil keputusan pembelian.
“Namun, pelaku industri masih membutuhkan kepastian kebijakan dan percepatan implementasi agar konsumen tidak terlalu lama menunda keputusan pembelian,” kata Abel, belum lama ini.
Ia mengatakan, daya beli menjadi salah satu tantangan utama pasar properti saat ini. Konsumen semakin memperhitungkan besaran cicilan dan bunga KPR sebelum memutuskan membeli hunian.
Kondisi tersebut membuat karakter permintaan properti ikut berubah.
Menurut Abel, pasar end-user saat ini lebih dominan dibandingkan investor, sementara produk di segmen harga menengah dengan kebutuhan hunian nyata cenderung memiliki pergerakan lebih baik dibandingkan produk premium yang lebih bergantung pada permintaan investasi.
Faktor lokasi juga tetap menjadi pertimbangan utama. Kawasan dengan akses transportasi, fasilitas pendidikan, pusat komersial, serta potensi pertumbuhan kota dinilai masih memiliki permintaan relatif kuat.
“Lokasi tetap menjadi faktor penting. Kawasan yang memiliki akses transportasi, fasilitas pendidikan, pusat komersial, dan potensi pertumbuhan kota masih menunjukkan permintaan yang relatif kuat. Karena itu, wilayah seperti Tangerang dan Bekasi tetap menjadi pasar yang aktif,” ujarnya.
Abel juga menilai strategi harga menjadi semakin penting ketika konsumen lebih berhati-hati dalam mengeluarkan dana. Pengembang perlu menyesuaikan harga dengan kondisi pasar dan menawarkan nilai yang sepadan dengan kemampuan konsumen.
“Pengembang yang mampu menawarkan value for money, didukung skema pembayaran yang menarik, cenderung lebih cepat menyerap pasar dibanding hanya mengandalkan kenaikan harga,” katanya.
Gambaran tersebut sejalan dengan data Bank Indonesia. Dalam Survei Harga Properti Residensial (SHPR) triwulan II 2026, penjualan properti residensial di pasar primer masih mengalami kontraksi 2,36% secara tahunan, meski membaik dibandingkan kontraksi 25,67% pada triwulan sebelumnya. Penjualan rumah tipe menengah juga masih terbatas.
Di sisi pembiayaan, KPR masih menjadi sumber utama pembelian rumah di pasar primer dengan porsi 70,05%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan konsumen memenuhi cicilan menjadi salah satu faktor penting dalam keputusan pembelian hunian.
Di kawasan Greater Jakarta, JLL mencatat permintaan rumah tapak pada semester I 2026 mencapai sekitar 3.900 unit dengan tingkat penjualan kumulatif sekitar 90%. Segmen harga Rp600 juta hingga Rp1,3 miliar menjadi kelompok permintaan terbesar dengan porsi sekitar 32%.
Menurut Abel, kondisi pasar yang semakin selektif juga mendorong perubahan strategi Linktown. Perusahaan mulai memperkuat lini secondary market pada tahun ini untuk memperluas cakupan bisnis, terutama menyasar kebutuhan masyarakat terhadap hunian siap huni dengan harga yang dinilai lebih kompetitif.
Selain itu, Linktown mengandalkan pemasaran berbasis data untuk menyaring calon konsumen berdasarkan intensi pembelian. Sekitar 95% aktivitas pemasaran perusahaan dilakukan melalui kanal digital, termasuk Meta Ads dan Google Ads.
Hingga akhir kuartal III 2026, Linktown mencatat penjualan Rp2,27 triliun dari target tahunan Rp3,5 triliun. Tangerang menjadi kontributor terbesar, disusul Bekasi dan Jakarta Timur.
Abel mengatakan, Tangerang tetap menjadi salah satu pasar utama karena pertumbuhan kawasan, perkembangan infrastruktur, serta kebutuhan masyarakat terhadap hunian pertama.
“Meski demikian, kami mengakui bahwa tahun 2026 bukan tahun yang mudah bagi industri properti. Karena itu, pada kuartal terakhir kami akan semakin agresif memperkuat pemasaran digital, peluncuran proyek baru, dan kolaborasi dengan pengembang untuk mendorong penjualan,” tuturnya.
Sementara itu, Linktown baru-baru ini meraih penghargaan Best Digital Real Estate Agent – Indonesia dalam Indonesia Real Estate Awards 2026. Penghargaan tersebut menjadi bagian dari catatan perusahaan dalam mengembangkan pemasaran properti berbasis digital di tengah perubahan perilaku konsumen. (Z-10)
