Lava Gunung Lewotolok Meluncur 600 Meter ke Arah Tenggara, Warga Mulai Khawatir
Erupsi Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, NTT, Sabtu (26/9/2026) malam.(dok Kades Jontona Nikolaus Ake Wutun untuk Media Indonesia.)

AKTIVITAS Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, masih berlangsung malam ini. Aliran lava teramati meluncur ke arah sektor tenggara dengan jarak sekitar 600 meter dari bibir kawah.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ili Lewotolok, Jefry Pugel mengatakan, aliran lava tersebut teramati mengarah ke wilayah di sektor tenggara gunung.

“Sektor Tenggara Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape dan Desa Baopukang di Kecamatan Ile Ape Timur,” ujar Jefry.

Jefry mengimbau masyarakat tetap waspada dan mematuhi rekomendasi zona bahaya. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Ili Lewotolok serta radius 3 kilometer pada sektor selatan-tenggara gunung.

“Lahar umumnya merupakan aliran material vulkanik yang bercampur air dan sangat bergantung pada kondisi hujan serta material yang tersedia di lereng/alur sungai,” katanya.

Menurut Jefry, yang perlu menjadi perhatian saat ini adalah potensi guguran atau longsoran lava dan material erupsi pada sektor yang berpotensi terlanda.

Sementara itu, Kepala Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape, Nikolaus Ake Wutun, mengatakan warga melihat semburan api berwarna merah dari puncak Gunung Ili Lewotolok hingga ke bagian badan gunung.

Kondisi tersebut membuat warga khawatir, terutama karena semburan terlihat memanjang ke arah bawah dan mendekati kawasan rumah adat atau kampung lama di wilayah Desa Jontona.

“Pantauan secara teknis, akan tetapi kami sebagai masyarakat awam merasa agak takut soal semburan api yang berwarna merah di puncak gunung dan seputar badan gunung yang cukup panjang ke bawah,” kata Nikolaus.

Menurut Nikolaus, semburan api dari puncak gunung terlihat melebar hingga ke bagian badan gunung. Warga memperkirakan jaraknya sekitar 1 kilometer dan berpotensi mendekati kawasan kampung adat atau kampung lama yang terdapat rumah adat di wilayah Desa Jontona.

“Kami merasa agak terganggu, sehingga kami menyampaikan itu. Tinggal saja bapak-bapak sebagai tim teknis bisa menjelaskan kepada kami biar kami merasa kuat dalam menghadapi petaka yang jangan sampai datang secara tiba-tiba,” ujarnya.

Nikolaus juga menyebut material yang oleh warga disebut lahar panas telah terlihat bersama bebatuan hitam di sebelah timur rumah adat dan mencapai kawasan perkebunan warga. Adapun lokasi material tersebut, menurut Nikolaus, berjarak sekitar 2 kilometer dari Desa Jontona.

Namun, penyebutan material tersebut sebagai “lahar panas” perlu dibedakan dengan aliran lava. Petugas PGA Ili Lewotolok menjelaskan bahwa lahar merupakan aliran material vulkanik yang bercampur air, sedangkan lava merupakan material pijar yang mengalir dari sumber erupsi.

Nikolaus berharap pemerintah dan petugas teknis memberikan informasi terkini mengenai kondisi Gunung Ili Lewotolok kepada masyarakat, terutama apabila terjadi perubahan aktivitas atau status gunung. 

 

Ia meminta langkah antisipasi dilakukan lebih awal untuk menghindari risiko terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Ili Lewotolok. “Jika boleh sebelum terjadi hal-hal yang sangat emergency, biar kita cegah lebih awal yang namanya safety untuk masyarakat banyak,” ujar Nikolaus. (PO/E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *