
SUARA klakson lokomotif melengking, membelah keramaian. Tanda kereta Kahuripan tiba di Stasiun Lempuyangan, saat jam menunjukkan sekitar pukul pukul 06.23 WIB.
Begitu kereta berhenti, para penumpang pun tampak berhamburan keluar dari kereta dan bergerak ke arah pintu keluar stasiun. Ana salah satunya penumpang yang turun di Stasiun Lempuyangan. Ia bersama temannya tiba di Stasiun Lempuyangan untuk berwisata di Yogyakarta.
“Berangkat dari Bandung (Stasiun Kiaracondong) semalam sekitar jam 22.20,” ungkap dia. Ia sengaja memilih kereta tersebut karena berangkat malam dan harganya terjangkau, Rp80 ribu rupiah.
Kedatangan penumpang Kereta Kahuripan semakin menambah kepadatan di Stasiun Lempuyangan, salah satu stasiun terpadat di wilayah Daop 6 Yogyakarta. Kepadatan penumpang stasiun ini hanya kalah dari Stasiun Yogyakarta atau biasa dikenal dengan Stasiun Tugu Yogyakarta.
Manajer Humas PT KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, menyebut, sepanjang Agustus 2026, pada arus keberangkatan, penumpang di Stasiun Lempuyangan mencapai 146.403 orang. Jumlah tersebut hanya kalah banyak dari Stasiun Yogyakarta dengan 317.201 penumpang. Sementara itu, pada arus kedatangan, jumlah penumpang di Stasiun Lempuyangan mencapai 146.002 orang, sedangkan di Stasiun Yogyakarta mencapai 309.639 penumpang.
“KAI mencatat Stasiun Lempuyangan menjadi salah satu pintu masuk utama wisatawan dan masyarakat menuju Kota Yogyakarta,” imbuh dia.
Setiap harinya, Stasiun Lempuyangan melayani sekitar 12.586 penumpang kereta api jarak jauh yang naik maupun turun. Selain itu, layanan KRL Commuterline Yogyakarta–Palur juga melayani sekitar 4.500 penumpang per hari. Selain Angkutan Penumpang, Stasiun Lempuyangan juga melayani Angkutan Barang.
Terus Bertransformasi
Seiring perjalanan waktu, kepadatan peningkatan kepadatan penumpang di Stasiun Lempuyangan tidak terelakkan. PT Kereta Api Indonesia (Persero) melakukan transformasi pada stasiun tertua di Kota Yogyakarta tersebut bertepatan dengan ulang tahun ke-81 KAI.
Dari catatan yang ada, jejak Stasiun Lempuyangan berawal pada pertengahan abad ke-19, ketika perusahaan kereta api swasta Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), merancang jalur kereta api yang menghubungkan Semarang—kota pelabuhan vital di utara—menuju Vorstenlanden (wilayah kekuasaan raja-raja Jawa), termasuk di Yogyakarta.

Pada 10 Juni 1872, Stasiun Lempuyangan dan menjadi stasiun kereta api pertama di Yogyakarta, mendahului Stasiun Tugu yang baru mulai beroperasi 12 Mei 1887.
Pada awal berdiri 1872, Stasiun Lempuyangan difungsikan khusus sebagai jalur angkutan barang komoditi (seperti gula, kopi, dan tembakau) dari pabrik-pabrik di Yogyakarta menuju Pelabuhan Semarang. Baru pada 1900-an, Stasiun tersebut mulai berkembang dan dibuka secara luas untuk melayani angkutan penumpang.
Seiring berjalannya waktu dan melonjaknya volume penumpang dari tahun ke tahun, beberapa sudut stasiun—khususnya di sisi barat dan timur—mengalami renovasi serta perluasan. PT KAI tengah melakukan perluasan dengan pembangunan bagian Selatan Stasiun Lempuyangan, yang dulunya merupakan rumah dinas.
“Langkah ini sebagai bagian dari strategi peningkatkan konektivitas antarmoda dan layanan transportasi berkelanjutan,” ungkap dia ditemui di Balai Yasa Yogyakarta, Rabu (23/9).
Feni menjelaskan, pekerjaan tersebut seiring dengan transformasi yang dilakukan PT KAI menuju penguatan integrasi first mile dan last mile. Masyarakat diharapkan tidak hanya mudah mengakses stasiun, tetapi juga mendapatkan kemudahan saat menggunakan moda transportasi lanjutan.
“Jika 10 tahun terakhir kita meningkatkan keselamatan dan pelayanan, nah sekarang fokus lebih untuk meningkatkan konektivitas. Bagaimana masyarakat semakin mudah mengakses layanan transportasi first mile dan last mile-nya,” ungkap Feni.
Penggerak Ekonomi
Feni menjelaskan, ke depan, Stasiun Lempuyangan dikembangkan menjadi simpul integrasi antarmoda yang ideal guna mendukung mobilitas masyarakat serta mendorong pertumbuhan pariwisata dan ekonomi lokal di Kota Yogyakarta dan sekitarnya. ?Penataan Stasiun Lempuyangan ini diarahkan untuk mendukung visi KAI dalam mengoptimalkan stasiun sebagai ruang publik (lifestyle hub) yang menghubungkan lokasi, masyarakat, dan komunitas (place-people-communities).
Stasiun Lempuyangan ditargetkan beroperasi penuh dengan konsep Lempuyangan Ultimate pada 2028. Saat ini, pengerjaan masih berada di tahap pertama, yakni pemisahan akses jalan raya untuk memecah kepadatan lalu lintas di sekitar stasiun.
Pemisahan Jalur Lalu Lintas: Jalur jalan eksisting nantinya bakal dialokasikan khusus sebagai area naik-turun penumpang (drop-off/pick-up). Sementara itu, arus kendaraan umum yang sekadar melintas akan dialihkan ke jalan baru yang saat ini sedang dibangun. Tahap awal ini ditargetkan tuntas sebelum akhir 2028.
Pemisahan Pintu Masuk (Dua Muka): Stasiun Lempuyangan yang selama ini hanya mengandalkan satu pintu utama akan diubah menjadi dua muka. Sisi selatan difokuskan untuk pelayanan kereta api (KA) jarak jauh, sedangkan sisi utara dikhususkan bagi penumpang KA lokal dan KRL Commuter Line.

Untuk mengoptimalkan kapasitas layanan penumpang, aktivitas pengangkutan barang yang selama ini terpusat di Lempuyangan bakal dipindahkan sepenuhnya ke Stasiun Brambanan. Dengan demikian, Lempuyangan kelak murni melayani angkutan penumpang.
Dengan penataan ini, Stasiun Lempuyangan bukan sekadar tempat transit. Bersama Stasiun Yogyakarta (Tugu), melainkan menjadi denyut nadi utama pergerakan manusia di wilayah Daop 6.
Lempuyangan hari ini adalah perpaduan unik antara nostalgia dan mobilitas tinggi. Di satu sisi, dinding-dinding batunya memikul memori sejarah panjang industri Hindia-Belanda dan transisi menuju Indonesia merdeka. Di sisi lain, pembangunan yang terus dilakukan membuat stasiun ini terus hidup sesuai dengan zamannya.
Stasiun Lempuyangan adalah monumen hidup yang terus berjalan berdampingan dengan roda-roda besi yang tak berhenti berputar. (H-2)
