Kunjungan Xi Jinping ke AS: Simbol Pergeseran Kekuatan Global
Donald Trump dan Xi Jinping.(Al Jazeera)

KUNJUNGAN Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Amerika Serikat pekan ini menandai titik balik krusial dalam geopolitik global. Presiden Donald Trump dijadwalkan menyambut langsung Xi di Pangkalan Udara Joint Base Andrews, langkah yang jarang terjadi dalam protokol kepresidenan AS dan menjadi sinyal kuat betapa pentingnya pertemuan ini bagi Washington.

Para analis menilai gestur tersebut mencerminkan transformasi drastis posisi Tiongkok di panggung dunia. Dibandingkan satu dekade lalu, saat Xi harus menunggu kesempatan bertemu Barack Obama di sela-sela KTT keamanan nuklir, kini ia datang sebagai pemimpin kekuatan yang diakui Trump sebagai kompetitor setara.

Konflik Iran dan Posisi Tawar Tiongkok

Isu perang AS dengan Iran diprediksi akan membayangi pembicaraan yang dimulai Kamis (24/9) mendatang. Tiongkok, sebagai mitra dagang utama Iran di Timur Tengah, berada dalam posisi tawar yang kuat. Konflik tersebut membebani ekonomi AS dan menekan tingkat popularitas Trump menjelang pemilihan paruh waktu.

Ali Wyne, penasihat riset senior di Crisis Group International, menyebutkan bahwa Trump cenderung meremehkan skala dukungan Tiongkok terhadap Iran. “Baik Trump maupun Menteri Keuangan Scott Bessent belum mengindikasikan bahwa AS siap menargetkan lembaga keuangan utama Tiongkok,” ujar Wyne. Hal ini menunjukkan kehati-hatian Washington agar tidak merusak stabilitas hubungan bilateral yang sedang rapuh.

Fakta Kunci: Tiongkok menyerap lebih dari 80% pengiriman minyak Iran dengan volume mencapai 1,47 juta barel per hari pada Maret 2026, sering kali melalui saluran tidak langsung untuk menghindari sanksi.

Gencatan Senjata Perdagangan dan Agenda Ekonomi

Fokus utama pertemuan pada 24 September itu ialah kelanjutan gencatan senjata perdagangan yang disepakati tahun lalu. Dengan kesepakatan tarif yang akan berakhir pada November, kedua pemimpin diharapkan mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata tersebut guna menghindari guncangan pada pasar keuangan global.

Sam Goodman, direktur kebijakan di China Strategic Risks Institute (CSRI), berpendapat bahwa Tiongkok saat ini memegang kendali. “Amerika terlihat sangat enggan mengambil tindakan terhadap Tiongkok terkait Iran yang mungkin bisa menyinggung Beijing,” ungkapnya.

Isu Strategis Lain

Selain ekonomi dan Iran, sejumlah isu sensitif tetap menjadi agenda pembahasan, antara lain:

  • Kerja sama militer dan pertahanan AS dengan Taiwan.
  • Ketegangan Beijing dengan Jepang.
  • Kontrol ekspor tanah jarang (rare earth).
  • Tuduhan AS mengenai ekstraksi kemampuan sistem AI perbatasan Amerika oleh Tiongkok.

Meskipun Scott Bessent memperingatkan gelombang sanksi baru bagi negara yang berbisnis dengan Iran, juru bicara kementerian luar negeri Tiongkok, Lin Jian, menegaskan bahwa kerja sama Tiongkok-Iran tidak boleh diganggu atau dirusak. Sikap ini menunjukkan bahwa Beijing akan terus melakukan upaya minimal untuk mematuhi sanksi tanpa benar-benar menghentikan hubungan strategisnya dengan Teheran.

Pertemuan ini menjadi panggung kontras antara kekuatan yang sedang bangkit dengan pengaruh diplomatik yang meluas, melawan kekuatan petahana yang tengah menghadapi tantangan dalam aliansi tradisionalnya. (The Independent/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *