Energi Bersih Berkelanjutan Bawa Ekonomi Petani dan Nelayan Melenting
Ilustrasi(MI/Lilik Darmawan)

SEJUMLAH petani terlihat tengah memanen padi yang telah menguning. Saat memasuki El Nino Godzilla, petani di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos, Cilacap, Jawa Tengah masih mampu memanen dengan hasil yang optimal. Satu bahu atau sekitar 7 ribu meter persegi (m2), menghasilkan 4 ton. Harga gabah kering panen (GKP) juga tinggi, satu kuintal mencapai Rp74 ribu atau 1 kg harganya Rp7.400. 

“Panen di musim kemarau tahun ini mendapatkan pendapatan yang cukup lumayan, mencapai Rp29,6 juta. Biasanya sebagian kami simpan untuk menghadapi paceklik pada musim kemarau panjang dan lainnya dijual sebagai bekal persiapan musim tanam pada bulan-bulan mendatang,”ungkap Pangat, 52, petani setempat pada Kamis (10/9).

Sawah di kawasan yang digarap oleh petani luasannya 25 hektare (ha). Sawah setempat sebetulnya merupakah tadah hujan, artinya hanya pada musim penghujan saja bisa menanam. Dalam setahun paling-paling hanya mampu tanam dan panen sekali saja. Namun, berkat inovasi dengan hadirnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), semuannya berubah. “Setidaknya kami bisa tanam dan panen dua kali dalam setahun. Ini berkait inovasi adanya PLTS yang dibangun sejak tahun 2023,”jelasnya.

Kehadiran PLTS dipakai untuk mempompa air dari sumur dalam yang sebelumnya telah dibangun. Para petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Margo Sugih Kalijaran membuat sumur bor dengan kedalaman sekitar 30 meter di areal persawahan. Setelah mendapatkan sumber, maka air dipompa ke atas untuk menyirami tanaman padi. “Pada musim kemarau seperti sekarang, masih ada airnya. Karena sudah selesai panen, kami juga menanam jagung dan sayuran,”kata dia.

Ketua Gapoktan Margo Sugih Priyatno mengatakan adanya PLTS yang kemudian juga ditambah pembangkit lustrik tenaga batu (PLTB) di Kalijaran membuat panen tanaman padi menjadi dua kali setahun. Artinya, ada ketahanan pangan di desa setempat menguat.  “Dulu kita cuma satu kali panen dalam setahun karena mengandalkan hujan. Kalau hujan belum turun, kita tidak bisa mulai tanam,” kata Priyatno.

Untuk mengejar dua kali panen dalam setahun, petani kemudian menggunakan pompa berbahan bakar minyak (BBM) untuk mengambil air dari sungai. Namun, cara tersebut membutuhkan biaya cukup besar karena jarak sumber air mencapai ratusan meter dari lahan. “Misalnya, untuk mengairi lahan sekitar 2.000 m2, penggunaan pompa membutuhkan 5 liter pertalite atau solar. Kalau dihitung-hitung sampai panen ongkosnya sekitar Rp800 ribu,” ujarnya.

Hingga satu hari, ada alternatif energi yakni PLTS yang dikembangkan Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap bersama Politeknik Negeri Cilacap (PNC). “Pada awalnya di tahun 2023. Sampai tahun 2026, PLTS sudah terbangun sebanyak tujuh unit pembangkit. Kapasitasnya ada yang 1.000 watt hingga 6.000 watt. Totalnya kini 6,54 kilowatt peak (kWp),”katanya.

Biaya pengairan yang sebelumnya dapat mencapai sekitar Rp800 ribu bisa dihemat. Selain itu, lanjutnya, ada peningkatan produktivitas pertanian. Karena ternyata, irigasi sangat memengaruhi hasil panen.

“Sebelum adanya sistem pengairan yang lebih teratur dan pemanfaatan PLTS, produktivitas padi rata-rata hanya sekitar 3-4 ton per hektare. Kini hasil panen dapat mencapai sekitar 6 ton per hektare. Kalau musim hujan mulai, yang bagus bisa sampai 7-8 ton,” katanya.

Menurutnya, faktor utama peningkatan produktivitas tersebut adalah ketersediaan air. Petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada hujan untuk menentukan awal musim tanam.

“Intinya pengairan. Dulu terbatas dengan pompa dan sebagainya, sementara BBM juga membutuhkan biaya. Sekarang mereka sudah tidak terlalu memikirkan biaya bahan bakar,” ujarnya.

Dijelaskan oleh Priyatno, areal pertanian yang dikelola Gapoktan Margo Sugih memiliki luasan sekitar 25 ha. Dari kawasan tersebut, sistem pengairan yang ada mampu mencakup sekitar 15 ha. “Petani juga mengembangkan inovasi yakni dengan pompa berbahan bakar elpiji yang diperlukan untuk menyedot air dari sungai kalau diperlukan.”

Tak hanya di areal persawahan, Gapoktan juga memanfaatkan PLTS untuk mesin penggilingan padi. PLTS tersebut mampu mengoperasikan mesin penggilingan dengan kapasitas sekitar satu ton dalam waktu empat jam. “Kalau empat jam, satu jam bisa menghasilkan sekitar 250 kg. Jadi sekitar satu ton,” ujarnya.

Penggunaan PLTS juga mengurangi biaya listrik dalam proses penggilingan. Untuk penggilingan sekitar 30 kg beras, biaya listrik yang sebelumnya harus dibayarkan mencapai sekitar Rp2.000. Dengan PLTS, biaya listrik tersebut dapat ditekan menjadi nol.

Bagi pengelola penggilingan, penghematan itu menjadi tambahan margin usaha. Pasalnya, ongkos penggilingan yang diterima sekitar Rp600 per kg. “Kalau 30 kg, upahnya Rp18 ribu. Kalau biaya listrik Rp2.000, masih ada Rp16 ribu. Dengan PLTS, biaya listriknya nol,” atanya.

Priyatno mengaku akan konsisten untuk memanfaatkan energi terbarukan di kawasan pertanian terpadu di Kalijaran. “Karena di Kalijaran tidak hanya pertanian padi, namun juga mengembangkan palawija, sayuran dan bahkan budi daya bebek yang diambil telurnya. Kami juga sudah memiliki mesin penetas untuk mendukung usaha,”tambahnya.

Wadahi Mantan Buruh Migran

Energi terbarukan dari surya juga dikembangkan di Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah. Untuk menjangkau Kelurahan Kutawaru, memang harus dengan perahu dari Dermaga Sleko. Lewat darat juga bisa, tetapi harus memutar melalui Kecamatan Jerulegi atau Kawunganten. Yang menarik, lokasinya sangat dekat dengan Kilang Cilacap karena hanya dipisahkan oleh Sungai Donan. Alih-alih memanfaatkan BBM sebagai produk kilang, Kelurahan Kutawaru malah mengembangkan PLTS. 

Warga setempat, Surmiyati, 50, mengatakan dengan adanya PLTS, ia yang merupakan mantan buruh migran masih dapat bekerja. “Dulu, banyak dari warga Kutawaru yang merantau ke luar negeri. Saya berangkat menjadi TKW ketika usianya baru menginjak 20 tahun. Awalnya Arab Saudi. Di negara itu, saya bekerja hingga tiga tahun. Kemudian berangkat lagi ke negara yang sama selama dua tahun. Begitu pulang, saya menikah tetapi kemudian berangkat lagi ke Taiwan, hingga usia 31 tahun,”jelas Surmiyati.

Setelah 10 tahun menjadi buruh migran, Surmiyati pun memutuskan kembali ke Kutawaru dan menetap bersama keluarga. “Kebetulan sekali, Pertamina Cilacap memiliki program pemberdayaan di Kutawaru. Wah, kami senang banget karena memberikan pelatihan dan memberdayakan para perempuan di sini, sampai sekarang,”jelasnya.

Rato, local hero Program Masyarakat Mandiri Kutawaru-Sistem Integrasi Pengelolaan Lingkungan Kawasan Pesisir (Mamaku Sigap) mengungkapkan Kutawaru merupakan kampung yang dihuni oleh warga kurang mampu. 

Dari pemetaan pemetaan sosial, di Kutawaru ada lebih dari 4.600 orang berpendapatan rendah atau 320 kelompok rentan secara ekonomi. Karena kondisi kampung, banyak warga yang merantau dan menjadi buruh migran di luar negeri. 

“Sejak saya kecil banyak perempuan yang merantau ke Arab. Mereka kebanyakan lulus SMP dan setelah cukup umur, langsung ke luar negeri ke Singapura, Hongkong, Taiwan, dan Korea. Karena memang di Kutawaru tidak ada pekerjaan,”ungkap Rato.

Akhirnya, ada program yang digagas oleh Pertamina Cilacap untuk pemberdayaan untuk warga yang masuk ring 1 kilang. Kehadiran pembangkit energi terbarukan ini melengkapi berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat yang selama ini berkembang di kawasan pesisir. 

“Pengembangan energi baru terbarukan menjadi bagian penting dari upaya membangun kemandirian masyarakat Kutawaru. Banyak dari mantan buruh migran dan eks anak buah kapal yang ikut serta mendukung program ini,”katanya.

Kini masyarakat mengembangkan Bank Sampah Abhipraya, Kampoeng Kepiting, Pasar Amarta, kegiatan pertanian dan perikanan terpadu, hingga pengembangan kawasan pesisir melalui pembibitan mangrove, budidaya ikan dan kepiting serta silvofishery. 

“Di Bank Sampah Abhipraya, warga mengolah sampah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi. Sampah plastik dicacah, sementara palet bekas dapat diubah menjadi meja dan kursi. Limbah organik diolah menjadi kompos, sedangkan daun nipah dianyam menjadi atap rumah,”jelas dia.

Bahkan, di tangan para perempuan, daun nipah dianyam dan menjadi tempat makanan pengganti plastik. “Misalnya pada saat Idul Adha, kami menyiapkan tempat daging dari anyaman daun nipah. Biasanya, Pertamina Kilang Cilacap pesan jauh-jauh hari sebagai pengganti plastik sebagai bungkus daging kurban,”kata dia.

Selain itu juga dikembangkan wisata kuliner yakni Kampoeng Kepiting. Sentra tersebut menawarkan kepiting cangkang lunak serta berbagai hidangan laut, dengan omzet gabungan kelompok mencapai sekitar Rp80 juta-Rp90 juta per bulan. “Pusat ekonomi lain adalalah Pasar Amarta yang buka setiap Minggu. Ada 70 pedagang dan mampu mencatat omzet lebih dari Rp70 juta setiap kali kegiatan,”jelasnya.

Program Mamaku Sigap dikembangkan dengan prinsip ekonomi sirkular. Sampah dikelola kembali, hasil laut dikembangkan secara berkelanjutan, mangrove dipelihara, dan energi matahari dimanfaatkan sebagai sumber energi bersih. “Ini menjadi kekuatan ekonomi bagi masyarakat di sini,”kata Rato.

Buka Asa wilayah Terpencil

Berbeda dengan Desa Kalijaran dan Kelurahan Kutawaru, lokasi Dusun Bondan, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut harus ditempuh dengan perahu compreng sekitar 2 jam perjalanan dari Dermaga Sleko melewati Segara Anakan yang diapit hutan mangrove. Selama puluhan tahun, dusun setempat gelap. Tak ada aliran listrik, hanya lampu penerangan dari minyak tanah waktu itu, bernama senthir. 

Hingga akhirnya tahun 2017 atau 9 tahun silam, Pertamina Patra Niaga masuk dengan inovasi. Dimulailah inovasi listrik berteknologi Hybrid Energy One Pole (HEOP). Teknologi itu menggabungkan antara panel surya dengan kincir angin yang menghasilkan listrik. Ada 15 titik instalasi HEOP, masing-masing dapat melayani penerangan untuk 3-5 rumah. Kemudian saat ini berkembang menjadi pembangkit listrik tenaga hybrid (PLTH) yang menggabungkan antara tenaga surya dan angin.

Menurut tokoh pemuda yang local hero Dusun Bondan Muhammad Jamaludin yang akrab dipanggil Jamal, kehadiran PLTH menguatkan anak-anak untuk belajar. “Bayangkan, zaman saya kecil hanya pakai lampu senthir saja. Tetapi sekarang anak-anak sudah bisa belajar dengan lampu yang terang. Inilah yang membuat anak-anak di sini semakin giat belajar. Televisi dan internet juga bisa. Makanya, saya bisa kuliah di Universitas Terbuka (UT) yang belajarnya online,”kata Jamal yang mengambil jurusan Ekonomi Bisnis tersebut.

Baginya beserta warga yang umumnya adalah nelayan, tidak hanya mencari ikan, udang dan kepiting di sekitar perairan Segara Anakan dan Laut Selatan saja, melainkan mulai mengembangkan budi daya tambak. “Dengan adanya listrik, membantu budi daya udang dan bandeng untuk menggerakkan aerator di tambak-tambak milik warga. Warga Dusun Bondan hampir seluruhnya adalah pembudidaya tambak bandeng dan udang. Panen, biasanya 3-4 bulan sekal. Karena belum intensif, maka hasil dari tambak sekitar 1 kuintal dari sekitar 1-2 ha areal tambak,”tambahnya.

Selain itu, lanjut Jamal, warga juga bisa mengolah air payau menjadi air tawar melalui peralatan yang dibantu Pertamina. Hadirnya listrik  mampu mengoperasionalkan teknologi untuk mengolah air payau menjadi air bersih. “Kami memiliki program Sistem Desalinasi Air Berbasis Masyarakat (Sidesimas) yakni teknologi yang mengolah air payau menjadi air bersih,”jelasnya.

Seorang perempuan warga Dusun Bondan, Remo, 48, mengatakan para ibu setempat juga mulai mengembangkan UMKM karena ada listrik. “Ada berbagai peralatan yang bergantung dengan listrik bisa dioperasikan. Sehingga dapat mengolah berbagai sumberdaya lokal seperti

kepiting, udang dan kerang untuk menjadi kudapan. Misalnya saja, keripik dan kerupuk berbahan baku sumberdaya lokal hutan mangrove dan air payau,”jelasnya.

Dengan memproduksi kerupuk dan stik dapat mendatangkan penghasilan. Meski belum terlalu banyak, tetapi setidaknya sudah ada pemasukan. “Sekali produksi bersama ibu-ibu lainnya yang tergabung dalam kelompok bisa mendapatkan penghasilan Rp100 ribu. Setiap bulan, produksinya sekitar 3-4 kali. Lumayan, ada penghasilan tambahan,”kata Remo.

Produksi seperti kerupuk udang, stik sepiting, kerupuk kerang dan lainnya biasanya dikirimkan ke salah satu pusat oleh-oleh di Cilacap. Selain itu, ada juga yang dikirim melalui pesanan lewat media sosial. “HP juga berguna untuk memasarkan secara daring,”kata dia.

Turunkan Emisi 

Tiga kampung di Cilacap yakni Desa Kalijaran, Kelurahan Kutawaru dan Dusun Bondan merupakan wilayah yang menjadi lokasi program pemberdayaan masyarakat berbasis energi baru terbarukan (EBT) melalui Desa Energi Berdikari (DEB). 

Vice President Community Involvement & Development (CID) Pertamina Patra Niaga Dian Hapsari Firasati mengatakan program DEB merupakan salah satu bentuk komitmen Pertamina menghadirkan inovasi sistem energi yang menjadi penggerak pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kualitas lingkungan. “Melalui Desa Energi Berdikari, kami ingin memastikan bahwa pemanfaatan energi bersih dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun lingkungan,” ujar Dian saat kunjungan di Desa Kalijaran, Cilacap pada Kamis (10/9).

DEB di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos, misalnya, berfokus pada pemberdayaan dan pendampingan petani melalui pemanfaatan teknologi PLTS sebagai inovasi pompa irigasi pertanian berbasis energi baru terbarukan. PLTS di DEB Kalijaran berkapasitas 6,54 kilowatt peak (kWp). Pemanfaatan energi surya tersebut mampu menghasilkan penghematan biaya listrik hingga Rp45 juta, sekaligus mereduksi emisi karbon sebesar 8,98 ton CO2e per tahun.

“Tak hanya memberikan manfaat lingkungan, program ini juga berkontribusi pada peningkatan ekonomi masyarakat. Total pendapatan kelompok penerima manfaat dari program DEB Kalijaran mencapai sekitar Rp220 juta per tahun. Bahkan saat ini, ada panen yang menjadi bukti nyata pemanfaatan energi bersih yang terintegrasi dengan aktivitas produktif masyarakat,”katanya.

Sedangkan di Kelurahan Kutawaru, lanjutnya, pemanfaatan PLTS dipakai untuk mendukung operasional bank sampah dan pompa aerasi pada Kampoeng Kepiting. Di sini, PLTS berkapasitas 13 kWp, dengan penghematan biaya listrik mencapai sekitar Rp27,4 juta. Program tersebut juga menghasilkan reduksi emisi karbon sebesar 17,84 ton CO2e per tahun. Dari sisi ekonomi, dampaknya terlihat dari total pendapatan kelompok yang mencapai sekitar Rp958 juta per tahun.

Sementara di di Dusun Bondan, Desa Ujung Alang Kecamatan Kampung Laut ada PLTH yang mendukung berbagai aktivitas masyarakat, termasuk pendidikan, keagamaan, dan kegiatan ekonomi produktif. “PLTS di Bondan berkapasitas 16,2 kWp, dengan potensi penghematan biaya listrik mencapai Rp147 juta. Dari sisi lingkungan, program tersebut mampu memberikan kontribusi reduksi emisi karbon sebesar 22,23 ton CO2e per tahun. Dari sisi ekonomi, pendapatan total kelompok penerima manfaat tercatat mencapai sekitar Rp12 juta per tahun,”katanya.

Dian mengatakan, dari 154 program tersebut, sebanyak 95 merupakan DEB Ketahanan Pangan, 39 DEB Wisata Energi, dan 20 DEB Pesisir Modern. “Program DEB  tidak hanya menghadirkan energi bersih, tetapi juga mendorong masyarakat menjadi lebih mandiri dan mampu mengembangkan potensi ekonomi di wilayahnya,” katanya

Pemanfaatan energi didominasi PLTS yang mencapai 132 unit, 13 program berbasis biogas dan metana, enam mikrohidro, dua EBT hybrid, serta satu program biodiesel. Secara keseluruhan, program tersebut menghasilkan kapasitas EBT sebesar 818.750 Wp, produksi biogas dan metana mencapai 154.176 meter kubik per tahun, serta biodiesel 8,8 liter per hari. Implementasi DEB juga disebut mampu mereduksi emisi karbon hingga 453.942 ton CO2e per tahun. Dampak program dirasakan langsung oleh sekitar 160.264 jiwa. 

“Selain manfaat lingkungan, program ini memberikan dampak ekonomi. Akumulasi penghematan listrik dari pemanfaatan EBT mencapai sekitar Rp3,8 miliar per tahun, sementara pendapatan kelompok masyarakat mencapai Rp4,7 miliar per tahun,”ujarnya.

Butuh Kerja Keras

Cerita sukses di kampung-kampung energi berdikari itu tidak semudah membalikkan tangan. Butuh waktu yang panjang untuk meyakinkan warga terhadap inovasi yang ada. Sehingga local hero seperti Priyatno, Rato dan Jamal layak diapresiasi. “Kami menyadari mengajak warga untuk menerima inovasi baru bukanlah perkara mudah. Sebab, kerap diwarnai penolakan dan keraguan akan hasil akhirnya. Para local hero inilah kepanjangan tangan dari Pertamina yang kemudian memberikan pemahaman. Makanya dinamakan local hero karena ini bicara dari suatu lokasi yang kemudian bergerak from zero to hero,”ujar Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun.

Dia mencotohkan, Dusun Bondan yang bertransformasi dari kampung yang gelap gulita, kini menjadi dusun yang terang karena kehadiran listrik dari energi bersih. “Inilah salah satu bentuk keberhasilkan Pertamina dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat. Kepedulian semacam ini melampaui sekadar hitung-hitungan komersial. Di sinilah kita tidak bicara hanya bisnis. Ini bicara bagaimana Pertamina langsung turun memberikan kontribusi dan pastinya berdampak positif untuk masyarakat,”ujarnya.

Sementara Executive General Manager RU Cilacap Hermawan Budiantoro menambahkan, keberhasilan berbagai program DEB di wilayah Cilacap menjadi bukti komitmen Pertamina untuk terus menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

“Selain menjalankan tugas utama menyediakan energi terbaik bagi negeri, Pertamina juga memiliki komitmen untuk terus menghadirkan manfaat yang nyata bagi masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan,”katanya.

Pemanfaatan EBT melalui program DEB, lanjutnya, diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan dampak berkelanjutan, baik terhadap ketahanan pangan, peningkatan ekonomi masyarakat, maupun kelestarian lingkungan.

Peneliti EBT dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Ropiudin mengatakan bahwa upaya pembangunan instalasi EBT oleh Pertamina merupakan bagian dari komitmen mendukung pengurangan emisi dan pengembangan energi hijau di Indonesia. Sumber energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan air memiliki potensi besar untuk dikembangkan di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Cilacap. 

“Pengembangan EBT di remote area menjadi salah satu solusi bagi masyarakat. Selain inovasi teknologi, yang paling penting adalah konsistensi masyarakat dalam menjaga dan memelihara pembangkit. Dan saya salut karena ternyata PLTS maupun PLTH telah memapu bertahan bertahun-tahun. Ini merupakan bukti bahwa telah terbentuk ekosistem energi bersih. Tidak hanya teknologi saja, melainkan juga sumberdaya manusia yang melakukan pemeliharaan pembangkit agar terus berkelanjutan,” tambahnya. (H-2)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *