
SEDIKITNYA enam orang tewas dan delapan lainnya terluka akibat serangan udara Saudi di kota pelabuhan Mokha, Yaman. Informasi tersebut dilaporkan kantor berita Saba yang berafiliasi dengan kelompok Houthi, Selasa (22/9).
Saba menyebut korban tewas terdiri atas dua anak-anak dan seorang perempuan. Adapun delapan orang yang terluka termasuk seorang anak dan seorang perempuan.
“Enam warga sipil, termasuk dua anak-anak dan seorang perempuan, tewas. Delapan lainnya, termasuk seorang anak dan seorang perempuan, terluka dalam serangan udara koalisi pimpinan Saudi di Mokha,” demikian laporan Saba.
Serangan tersebut terjadi ketika kelompok Houthi yang didukung Iran berupaya memperluas penguasaannya di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman. Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi melancarkan ofensif cepat untuk menguasai seluruh kawasan pesisir Laut Merah, termasuk Mokha.
Pergerakan Houthi tersebut membuat pemerintah Yaman yang didukung Saudi berada dalam posisi sulit untuk merespons perkembangan di lapangan.
Di tengah eskalasi tersebut, Kepala Dewan Kepemimpinan Yaman Rashad al-Alimi dilaporkan meminta dukungan Amerika Serikat dalam menghadapi kelompok Houthi. Al-Alimi melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden AS Donald Trump pada Minggu (20/9).
Seorang sumber di kantor Al-Alimi mengatakan pembicaraan itu ditujukan untuk meminta dukungan Amerika Serikat sekaligus menunjukkan solidaritas kepada pemerintah Yaman yang tengah menghadapi tekanan dari Houthi.
Namun, menurut sumber tersebut, Trump tidak memberikan janji mengenai dukungan militer kepada pemerintah Yaman.
Media Amerika Serikat sebelumnya melaporkan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman juga meminta Trump melakukan serangan terhadap Houthi.
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham dilaporkan menyetujui pemberian dukungan militer kepada Arab Saudi. Dukungan tersebut disebut berkaitan dengan upaya menghadapi perkembangan yang melibatkan Houthi.
Perluasan pengaruh Houthi di Yaman turut meningkatkan posisi Iran dan sekutunya di dua jalur perairan strategis. Kondisi tersebut menjadi perhatian negara-negara di kawasan Teluk, termasuk Arab Saudi yang merupakan salah satu eksportir minyak mentah terbesar dunia.
Konflik yang lebih luas di Timur Tengah bermula pada 28 Februari setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan di sejumlah wilayah kawasan tersebut. Kelompok-kelompok yang didukung Iran, termasuk Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lbanon, kemudian turut terlibat dalam konflik.
Perang di Yaman sendiri bermula pada 2014 ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa. Konflik tersebut sebagian besar berada dalam kondisi relatif beku sejak 2022, sebelum kembali meningkat pada Juli. Adapun Arab Saudi sejak 2015 memimpin koalisi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
(AFP/P-4)
