
AFILIATOR nasional Katabroto mendorong masyarakat Kota Banjar, Jawa Barat, memanfaatkan pemasaran digital sebagai sumber peluang ekonomi baru. Dorongan itu dilakukan melalui Workshop Affiliate & Partnership yang digelar bersama Makaroni Eneng (Menengs) dan diikuti sekitar 150 peserta.
Workshop yang berlangsung di RM Selma, Kota Banjar, tersebut menjadi wadah edukasi bagi masyarakat untuk mengenal affiliate marketing, mulai dari pembuatan konten, pemilihan produk, promosi melalui media sosial, hingga memahami mekanisme dan aturan platform digital.
Katabroto, yang dikenal sebagai afiliator sekaligus mentor dalam kegiatan tersebut, membagikan pengalaman membangun penghasilan melalui ekosistem digital. Sosok dengan nama lengkap Hendra Permana Putra itu sebelumnya menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari sektor ritel, membangun usaha sendiri hingga menghadapi kebangkrutan, sebelum bekerja sebagai pengemudi ojek online.
Hendra kemudian mengenal dunia content creator dan affiliate marketing setelah pindah ke Bogor. Sekitar 11 bulan terakhir, ia menekuni aktivitas affiliate dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai dasar untuk memberikan edukasi kepada masyarakat yang ingin memulai pemasaran digital.
“Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk maju, baik afiliator maupun seller. Yang terpenting adalah kemauan untuk belajar, memahami strategi dan mengikuti aturan dalam berjualan sebagai afiliator,” kata Hendra.
Menurut Katabroto, affiliate marketing memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memulai aktivitas pemasaran digital dengan kebutuhan modal yang relatif lebih rendah. Namun, peluang tersebut tidak berarti dapat diperoleh secara instan. Afiliator tetap membutuhkan kemampuan membuat konten, konsistensi, pemahaman terhadap produk, serta pengetahuan mengenai aturan platform.
Ia juga mendorong masyarakat yang belum memiliki pekerjaan tetap untuk memanfaatkan perangkat digital sebagai sarana belajar dan membangun aktivitas produktif.
“Berstatus pengangguran pun bukan berarti tidak memiliki peluang. Dengan memanfaatkan handphone dan platform digital, seseorang bisa belajar membuat konten, mempromosikan produk dan memperoleh komisi dari penjualan. Tetapi semuanya tetap membutuhkan proses dan kerja keras,” tandasnya.
Dalam workshop tersebut, sekitar 75% dari 150 peserta merupakan warga Kota Banjar. Peserta lainnya berasal dari sejumlah daerah, seperti Jakarta, Bandung, Bekasi hingga Jawa Tengah.
Aktivitas edukasi yang dilakukan Katabroto tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan affiliate sebagai sarana mendapatkan komisi. Peserta juga didorong memahami bagaimana konten digital dapat digunakan untuk memperluas pasar produk UMKM.
BERI PEMAHAMAN PRAKTIS
Owner Menengs Fatimah Azzahra mengatakan workshop tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman praktis kepada masyarakat mengenai pemasaran online. Menurut dia, kolaborasi dengan Katabroto diharapkan dapat memperluas pemanfaatan affiliate marketing di Banjar.
“Dari 150 peserta, sekitar 75%-nya merupakan warga yang berdomisili di Kota Banjar. Diharapkan melalui pelatihan affiliate ini, masyarakat semakin memahami pemasaran secara online dan pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan melalui komisi dari penjualan produk,” tutur Fatimah.
Ia mengatakan kolaborasi Menengs dan Katabroto juga diarahkan untuk membangun ekosistem pemasaran digital bagi produk lokal. Ekosistem tersebut diharapkan tidak hanya menguntungkan satu produk, tetapi dapat menjadi kanal promosi bagi berbagai produk UMKM khas Banjar.
Gagasan tersebut mendapat dukungan Pemerintah Kota Banjar. Kepala Bagian Perekonomian, Sumber Daya dan Pembangunan Setda Banjar Neneng Widya Hastuti menilai edukasi affiliate dapat menjadi salah satu cara memperluas pasar UMKM.
“Banjar memiliki banyak potensi UMKM yang layak dipasarkan melalui affiliate. Menengs mengadakan pelatihan dan menghadirkan afiliator serta mentor berpengalaman. Ini menjadi terobosan yang positif,” ujar Neneng.
Berdasarkan data pemerintah daerah yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, terdapat sekitar 27.000 UMKM di Kota Banjar. Jumlah tersebut dinilai menjadi potensi bagi pengembangan ekosistem pemasaran digital jika semakin banyak pelaku usaha dan afiliator terlibat.
“Dengan semakin banyak afiliator dan semakin banyak produk Banjar yang dipasarkan melalui affiliate, diharapkan memberikan multiplier effect. UMKM berkembang, aktivitas ekonomi masyarakat meningkat dan pada akhirnya dapat membuka lebih banyak peluang ekonomi,” sambungnya.
Kolaborasi Menengs dan Katabroto selanjutnya diarahkan untuk memperluas ekosistem affiliate di Banjar. Melalui aktivitas edukasi dan pendampingan, masyarakat diperkenalkan dengan berbagai aspek pemasaran digital sehingga dapat menjadi afiliator sekaligus membantu produk lokal menjangkau konsumen di luar daerah.
Menengs berharap peningkatan jumlah afiliator dapat memperkuat pemasaran produk khas Banjar di tingkat nasional. Dengan keterlibatan pelaku UMKM, afiliator, komunitas, HIPMI dan pemerintah daerah, gagasan menjadikan Banjar sebagai “Kota Afiliat” diarahkan menjadi bagian dari pengembangan ekonomi digital daerah. (E-2)
