
BANK Indonesia (BI) menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh kekhawatiran atas tensi geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut memicu harga minyak dunia tetap bertahan tinggi di level atas 100 dolar AS per barel.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa situasi ini meningkatkan risiko inflasi global serta memberikan tekanan pada outlook fiskal. Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh tingginya kebutuhan valuta asing (valas) dari importir serta adanya arus modal keluar (outflow) dari portofolio aset domestik.
“BI akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya,” ujar Erwin dilansir dari Antara, Senin (21/9).
Untuk menjaga stabilitas, BI menerapkan strategi operasi moneter pro-market melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang. Langkah ini diperkuat dengan efektivitas stabilisasi nilai tukar dan penyediaan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai yang disertai pemberian insentif.
Erwin menegaskan bahwa intervensi dilakukan secara konsisten melalui berbagai instrumen, mulai dari transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, hingga domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik. BI juga aktif melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain intervensi pasar, BI mengintensifkan koordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar untuk mendorong arus masuk modal asing. Salah satu upaya diversifikasi permintaan valas dilakukan melalui optimalisasi skema Local Currency Transaction (LCT).
Meski mengalami tekanan, BI mencatat pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang di kawasan regional, dengan penguatan secara quarter to date (qtd) sebesar 0,37 persen. Ketahanan eksternal juga didukung oleh posisi cadangan devisa yang meningkat menjadi 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026.
Berdasarkan data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Senin (21/9) sore, rupiah berada di level Rp17.813 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,38 persen dibandingkan posisi pada Jumat (18/9) yang berada di level Rp17.745 per dolar AS. (Ant/Z-10)
