
NILAI tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin (21/9) terpantau bergerak melemah 25 poin atau 0,14% ke level Rp17.783 per dolar AS. Pada penutupan sebelumnya rupiah berada di level Rp17.758 per dolar AS. Pengamat mata uang & komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan rupiah ini tak lepas dari penguatan indeks dolar. Hal itu dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya situasi geopolitik saat ini.
“Di Eropa Timur kita lihat gudang di Kiev (ibu kota Ukraina) dibom menggunakan drone oleh Rusia, ini membuat ketegangan baru kembali memanas di Eropa Timur,” ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Senin (21/9).
Di Timur Tengah, Yaman Houthi sudah bisa melakukan penyerangan terhadap gudang-gudang dan bandara di Arab Saudi. Ibrahim menyebut Yaman Houthi saat ini sudah mempunyai persenjataan lebih canggih dari Arab Saudi.
“Arab Saudi meminta bantuan terhadap Amerika, Amerika pun juga tidak mau membantu Arab Saudi, karena ada perjanjian antara Yaman Houthi dengan Amerika yang tidak akan saling serang,” paparnya.
Sementara itu, Selat Bab el-Mandeb juga sudah dikuasai 100% oleh Houthi. Eropa dikabarkan akan membantu untuk membuka Selat Bab el-Mandeb.
“Di Selat Hormuz sendiri, walaupun di minggu ini akan ada pertemuan Dewan Keamanan PBB, kemungkinan Trump akan bertemu dengan Presiden Iran, tetapi kita lihat bahwa Selat Hormuz kemungkinan besar akan ditutup total oleh Iran,” ujar Ibrahim.
Sejauh ini, kata dia, belum ada kesepakatan antara Amerika dan Iran tentang perundingan yang diprakarsai oleh Pakistan. Di sisi lain, Amerika melakukan sanksi ekonomi lebih berat lagi terhadap Rusia karena penyerangannya terhadap ibu kota Kiev, pergundangannya, dan lain-lain.
“Secara geopolitik mempengaruhi laju penguatan indeks dolar, harga minyak mentah, sehingga melemahkan mata uang rupiah,” jelasnya.
Bank Indonesia
Dari dalam negeri, sambungnya, saat ini pasar berfokus terhadap kebijakan Bank Indonesia. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti sempat mengatakan bahwa saat ini suku bunga Bank Indonesia sudah cukup tinggi. Saat kepemimpinan Perry Warjiyo, BI sudah menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin.
“Tetapi saya melihat dalam kondisi saat ini, kondisi Bank Sentral Amerika sudah menaikkan suku bunga 25 basis poin, ada kemungkinan besar Bank Indonesia dalam pertemuan di minggu ini, di hari Rabu kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga 25 basis poin,” kata Ibrahim.
Kemudian, lanjutnya, pasar tertuju terhadap Indonesia setelah pemerintah membentuk Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) untuk mengendalikan harga.
Menurut Ibrahim, pasar sedang menunggu kebijakan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait produk-produk apa saja yang akan diperdagangkan.
“Kita lihat bahwa ini ada peralihan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) ke OJK per 1 Januari tahun depan. Apakah pada saat peralihan ini harga-harga komoditas Indonesia bisa dijadikan sebagai harga referensi pasar dunia atau tidak?” ungkap Ibrahim.
“Tanda tanya besar bagi para pengamat termasuk saya sendiri karena tidak mudah referensi harga itu terbentuk dalam jangka waktu 1 tahun. Bisa menunggu waktu 10-15 tahun ke depan. Nah ini yang mempengaruhi pergerakan mata uang rupiah sehingga melemah dalam perdagangan di pagi ini,” pungkasnya.(H-4)
