Pakar Sebut Perlu Investigasi Komprehensif Usut Penyebab Insiden KMP Batumandi
PAKAR Maritim dari IKAL Lemhannas Strategic Centre, Marcellus Hakeng Jayawibawa.(Dok. Pribadi)

PAKAR Maritim dari IKAL Lemhannas Strategic Centre, Marcellus Hakeng Jayawibawa, menilai investigasi komprehensif dan menyeluruh perlu segera dilakukan untuk mengungkap penyebab insiden Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Batumandi di alur masuk Pelabuhan Merak.

Hakeng menilai telah ada kesiapsiagaan krisis yang baik, khususnya dalam aspek penyelamatan nyawa manusia. Meski demikian, ia mendesak agar investigasi segera dilakukan untuk mengurai penyebab pasti kebakaran dan tenggelamnya KMP Batumandi tersebut guna memperkuat standar keselamatan pelayaran nasional.

“Dalam keadaan darurat di laut, keselamatan manusia harus menjadi prioritas utama. Keberhasilan evakuasi seluruh penumpang dan awak menunjukkan pentingnya kesiapan menghadapi keadaan darurat. Namun, investigasi harus mampu menjelaskan urutan kejadian secara menyeluruh sebagai dasar perbaikan sistem keselamatan,” ujar Hakeng di Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Soroti Fenomena Free Surface Effect

KMP Batumandi yang melayani rute Merak–Bakauheni dilaporkan tenggelam pada Rabu (21/10/2026) pukul 20.54 WIB usai mengalami kebakaran sejak Selasa sore (20/10). Sebanyak 420 penumpang dan 40 awak kapal berhasil dievakuasi selamat, sementara 89 unit kendaraan ikut tenggelam.

Hakeng menyoroti aspek teknis penyiraman air saat proses pemadaman yang berisiko memicu fenomena free surface effect. Dalam fenomena ini, akumulasi air yang bergerak bebas di dalam kompartemen justru dapat mengurangi daya apung dan memperburuk stabilitas kapal hingga menyebabkan kapal terbalik.

Ia menambahkan bahwa hilangnya daya apung KMP Batumandi secara teknis dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari kerusakan struktur akibat panas ekstrem, kebocoran lambung, hingga matinya pompa pembuangan akibat kegagalan sistem kelistrikan.

“Menyiramkan air sebanyak-banyaknya bukan selalu solusi terbaik. Petugas harus memperhitungkan hubungan antara pemadaman dan stabilitas kapal. Penyelamatan manusia, pemadaman kebakaran, pengendalian stabilitas, hingga mitigasi pencemaran lingkungan tidak dapat dipisahkan satu sama lain,” terangnya.

Langkah Salvage dan Mitigasi Lingkungan

Nakhoda senior kapal tanker LNG ini menekankan bahwa tanggung jawab penanganan kecelakaan tkapal idak berhenti setelah proses evakuasi selesai. Pihak operator dan otoritas pelabuhan diimbau segera memasang pelampung penanda navigasi serta menyiagakan oil boom dan oil skimmer untuk mengantisipasi potensi kebocoran bahan bakar.

Selain itu, koordinasi dengan perusahaan penyelamatan kapal (salvage) perlu dilakukan secara sistematis demi menjamin keamanan alur pelayaran di Pelabuhan Merak.

“Keberhasilan penanganan kecelakaan maritim tidak hanya diukur dari seberapa cepat penumpang dievakuasi, tetapi juga dari kemampuan mengendalikan risiko lanjutan, mengungkap penyebab kejadian secara objektif, dan menerapkan perbaikan agar insiden serupa tidak terulang,” pungkas Hakeng. (H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *