Mengenal Hormon Kortisol, Mengapa Kebisingan Suara Bisa Memicu Kemunculannya dan Sebabkan Stres?
Ilustrasi, suara bising.(Dok. Magnific)

DALAM kehidupan modern yang serba cepat, kebisingan sering kali dianggap sebagai gangguan sepele. Namun, secara biologis, tubuh manusia merespons suara keras bukan sekadar sebagai polusi suara, melainkan sebagai ancaman fisik. Salah satu respons utama tubuh terhadap gangguan ini adalah pelepasan hormon kortisol.

Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi para ahli kesehatan. Para ahli kesehatan menjelaskan bahwa rangsangan suara berlebihan dapat menimbulkan reaksi stres yang direspons oleh sistem saraf autonom. Respons ini melibatkan pengaturan denyut jantung hingga fluktuasi hormon kortisol yang berdampak pada kesehatan jangka pendek maupun panjang.

Apa Itu Hormon Kortisol?

Kortisol adalah hormon steroid alami yang diproduksi oleh kelenjar adrenal, yang terletak di atas ginjal. Hormon ini sering dijuluki sebagai “hormon stres” karena perannya yang krusial dalam mekanisme fight-or-flight (lawan atau lari) manusia.

Dalam kondisi normal, hormon kortisol memiliki fungsi vital bagi tubuh, antara lain:

  • Regulasi Metabolisme: Mengatur bagaimana tubuh menggunakan karbohidrat, lemak, dan protein.
  • Mengontrol Peradangan: Membantu menekan inflamasi dalam tubuh.
  • Mengatur Tekanan Darah: Menjaga stabilitas aliran darah dan fungsi jantung.
  • Siklus Tidur: Membantu mengatur ritme sirkadian (kapan kita bangun dan tidur).

Masalah muncul ketika kadar kortisol tetap tinggi dalam waktu lama akibat pemicu eksternal yang terus-menerus, seperti kebisingan.

Mengapa Suara Berisik Memicu Kortisol?

Secara evolusioner, telinga manusia dirancang untuk mendeteksi bahaya. Suara keras yang tiba-tiba atau kebisingan yang konstan diinterpretasikan oleh otak sebagai sinyal ancaman. Berikut adalah mekanisme bagaimana suara berisik memicu stres:

1. Aktivasi Sistem Saraf Autonom

Ketika telinga menangkap suara berfrekuensi tinggi atau desibel yang ekstrem, sinyal tersebut dikirim ke amigdala, area otak yang memproses emosi dan rasa takut. Amigdala kemudian mengirimkan sinyal “bahaya” ke hipotalamus. Sebagaimana dijelaskan oleh dr. Sholihul Muhibbi, sistem saraf autonom akan merespons dengan meningkatkan denyut jantung dan memerintahkan kelenjar adrenal melepaskan kortisol ke aliran darah.

2. Gangguan pada Saraf Pendengaran

Paparan kebisingan tinggi, seperti dari pengeras suara (sound system) yang berlebihan, dapat merusak saraf pendengaran secara langsung. Kerusakan ini awalnya terjadi pada frekuensi tinggi, namun jika dibiarkan, akan merambat ke frekuensi sedang dan rendah. Rasa tidak nyaman atau telinga berdenging (tinnitus) akibat kerusakan ini merupakan stresor fisik yang memicu tubuh untuk terus memproduksi hormon stres.

3. Gangguan Kualitas Hidup

Kebisingan yang terus-menerus mengganggu konsentrasi dan waktu istirahat. Kurangnya waktu tenang membuat tubuh tidak pernah benar-benar masuk ke fase relaksasi, sehingga kadar kortisol tidak kunjung turun ke level normal.

Paparan suara keras yang berlebihan tidak hanya merusak pendengaran, tetapi juga dapat memicu gangguan kesehatan sistemik seperti hipertensi dan gangguan kecemasan akibat lonjakan kortisol yang kronis.

Dampak Jangka Panjang Kortisol Tinggi akibat Kebisingan

Jika seseorang terus-menerus terpapar suara berisik (misalnya tinggal di lingkungan industri atau sering terpapar sound horeg), kadar kortisol yang tinggi secara kronis dapat menyebabkan:

  • Penurunan fungsi kekebalan tubuh (mudah sakit).
  • Gangguan tidur atau insomnia akut.
  • Peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
  • Gangguan kognitif dan kesulitan fokus.
  • Kerusakan saraf pendengaran permanen yang mengganggu percakapan sehari-hari.

Langkah Mitigasi dan Regulasi

Mengingat bahaya kesehatan yang nyata, pemerintah melalui Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian tengah mengkaji batasan desibel suara yang diperbolehkan untuk penggunaan pengeras suara di ruang publik. Pembatasan ini bertujuan untuk melindungi masyarakat dari gangguan kesehatan saraf dan stres sistemik.

Cara Mengurangi Dampak Stres Suara

  • Gunakan penyumbat telinga (earplugs) jika berada di lingkungan bising.
  • Batasi durasi paparan suara keras dari headphone atau pengeras suara.
  • Ciptakan “zona tenang” di rumah untuk membantu menurunkan kadar kortisol setelah beraktivitas.
  • Lakukan pemeriksaan pendengaran secara rutin jika sering merasakan telinga berdenging.

(Ant/H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *