Dokter Ungkap Dampak Paparan Kebisingan Berlebihan terhadap Kesehatan Saraf dan Stres Tubuh
Karnaval desa diiringi perangkat audio berkapasitas besar di Malang.(Dok. Antara)

PAPARAN suara dengan intensitas tinggi bukan sekadar masalah kenyamanan telinga, melainkan ancaman serius bagi kesehatan saraf manusia. Fenomena penggunaan pengeras suara berlebihan, seperti yang marak dalam tradisi sound horeg, kini menjadi perhatian medis karena kemampuannya memicu reaksi stres sistemik pada tubuh.

Dokter spesialis neurologi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Brigjen TNI (Purn) dr. Sholihul Muhibbi, menjelaskan bahwa suara yang melampaui batas kewajaran dapat menimbulkan gangguan kesehatan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui mekanisme saraf otonom.

Mekanisme Stres akibat Kebisingan

Menurut dr. Sholihul, tubuh manusia merespons rangsangan suara berlebihan sebagai bentuk ancaman. Sistem saraf otonom akan bereaksi dengan memicu serangkaian respons fisiologis yang berdampak luas pada organ vital.

“Rangsangan suara berlebihan bisa menimbulkan reaksi stres tubuh yang oleh sistem saraf akan direspons oleh sistem saraf autonom yang mengatur denyut jantung sampai dengan hormon kortisol,” ujar dr. Sholihul. Peningkatan hormon kortisol—yang sering disebut sebagai hormon stres—dapat mengganggu kesejahteraan tubuh dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dampak jangka pendek meliputi peningkatan denyut jantung dan kecemasan, sementara paparan kronis dapat memicu gangguan metabolisme dan penurunan sistem imun akibat ketidakseimbangan hormonal yang terus-menerus.

Kerusakan Saraf Pendengaran yang Progresif

Selain dampak sistemik pada stres tubuh, kebisingan tinggi dari pengeras suara berisiko merusak struktur saraf pendengaran secara permanen. Kerusakan ini biasanya terjadi secara bertahap dan sering kali tidak disadari pada tahap awal.

Dr. Sholihul memaparkan tahapan kerusakan pendengaran akibat kebisingan:

  • Gangguan Frekuensi Tinggi: Pada tahap awal, saraf pendengaran mulai rusak pada spektrum frekuensi tinggi. Gejala yang paling umum dirasakan adalah telinga berdenging (tinnitus).
  • Gangguan Frekuensi Menengah dan Rendah: Jika paparan terus berlanjut dalam durasi lama, kerusakan akan meluas ke frekuensi yang lebih rendah.
  • Gangguan Komunikasi: Pada tingkat lanjut, individu akan mengalami kesulitan dalam menangkap percakapan sehari-hari, yang secara signifikan menurunkan kualitas hidup.

Wacana Regulasi Desibel dan Fenomena Sound Horeg

Kekhawatiran medis ini sejalan dengan langkah pemerintah yang mulai mengkaji aturan ketat terkait penggunaan pengeras suara di ruang publik. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyatakan bahwa pemerintah tengah mempertimbangkan batasan desibel (dB) yang diperbolehkan.

Fokus utama kajian ini adalah fenomena sound horeg—parade musik dengan pelantang suara raksasa yang diangkut truk—yang marak di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya. Mendagri menegaskan bahwa jika tingkat kebisingan terbukti mengganggu kesehatan, pemerintah tidak ragu untuk mengeluarkan larangan melalui Undang-Undang atau peraturan setingkat menteri.

Penyusunan aturan ini melibatkan kolaborasi lintas instansi, termasuk Polri, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Agama, untuk memastikan batasan suara tidak hanya menjaga ketertiban umum tetapi juga melindungi kesehatan publik.

Tips Melindungi Diri dari Paparan Suara Berlebih

Mengingat risiko kerusakan saraf yang bersifat permanen, langkah preventif sangat diperlukan:

  1. Gunakan Pelindung Telinga: Jika berada di area parade atau konser, gunakan earplug yang mampu meredam desibel tanpa menghilangkan suara sepenuhnya.
  2. Jaga Jarak Aman: Hindari berdiri terlalu dekat dengan sumber suara (speaker) dalam durasi lama.
  3. Batasi Durasi Paparan: Berikan waktu istirahat bagi telinga di area yang tenang setelah terpapar kebisingan selama 15-30 menit.
  4. Deteksi Dini: Segera konsultasikan ke dokter spesialis THT atau Neurologi jika merasakan gejala telinga berdenging yang tidak kunjung hilang.

(Ant/H-3)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *