
Transformasi digital, perkembangan kecerdasan buatan (AI), dan ketidakpastian ekonomi global semakin mengubah kebutuhan kompetensi tenaga kerja.
Perguruan tinggi pun menghadapi tantangan untuk menghasilkan lulusan yang tak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu beradaptasi, berinovasi, menjaga integritas, dan berkontribusi bagi pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Tantangan itu menjadi sorotan dalam Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Periode II Tahun Akademik 2025/2026 Universitas Nasional (Unas) di Jakarta International Convention Center, Sabtu (24/10/2026). Sebanyak 804 wisudawan dikukuhkan, terdiri atas 684 lulusan sarjana, 107 magister, dan 13 doktor dari delapan fakultas serta 35 program studi
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengajak para lulusan untuk berani menghadapi perubahan dan mengambil peran dalam pembangunan bangsa. “Ada tiga hal yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini yaitu, berani berubah, berani memimpin, dan berani membangun masa depan,” ujar AHY.
Ia menyoroti perubahan lanskap pekerjaan akibat otomatisasi dan transformasi digital. Karena itu, lulusan perlu terus meningkatkan keterampilan (upskilling) dan mempelajari kompetensi baru (reskilling) agar mampu mengikuti kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.
Menurut AHY, Indonesia memiliki potensi menjadi negara maju, tetapi upaya itu perlu didukung peningkatan kualitas pendidikan, pemerataan pembangunan, dan penguatan daya saing sumber daya manusia. Ia juga menekankan pentingnya menjaga demokrasi, menghormati perbedaan, serta menghindari penyebaran hoaks yang berpotensi memicu perpecahan.
Rektor Unas El Amry Bermawi Putera menegaskan kelulusan bukanlah akhir perjalanan pendidikan, melainkan awal tanggung jawab untuk menerapkan ilmu bagi kepentingan masyarakat. “Wisuda adalah awal dari pengabdian intelektual dan sosial kepada bangsa,” ujar El Amry.
Ia mengingatkan penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan etika, nilai kemanusiaan, dan penghormatan terhadap keberagaman. Dengan demikian, keberhasilan lulusan tidak hanya diukur dari gelar akademik, tetapi juga dari manfaat yang dihasilkan melalui ilmu pengetahuan.
Senada, Ketua Pengurus Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK) Ramlan Siregar menyebut demokrasi, inovasi, dan ketahanan bangsa sebagai tiga pilar untuk menghadapi disrupsi global. Ia mendorong lulusan menghasilkan karya yang menjawab persoalan nyata tanpa meninggalkan nilai kemanusiaan dan kebudayaan Indonesia.
Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III Henri Togar Hasiholan Tambunan menekankan perlunya lulusan yang memiliki kompetensi, karakter, integritas, dan kemampuan beradaptasi. Ia juga menyoroti pentingnya sinergi perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam memperkuat kualitas pendidikan serta daya saing nasional.
Di sisi akademik, Unas melaporkan peningkatan akreditasi Program Studi Sarjana Manajemen dari A menjadi Unggul pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026. Kampus tersebut juga memperoleh hibah penelitian dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi senilai Rp2,245 miliar pada 2026, serta pendanaan eksternal lebih dari Rp3,5 miliar dari mitra nasional dan internasional.
Melalui wisuda tersebut, Unas menegaskan pentingnya pendidikan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada kelulusan, tetapi juga pada penguatan riset, inovasi, karakter, dan kontribusi lulusan dalam menjawab tantangan pembangunan Indonesia. (H-2)
