
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa sejarah perempuan Indonesia merupakan bagian utama dari sejarah nasional, bukan sekadar catatan pinggir. Ia mendesak agar dokumentasi perjuangan perempuan tidak berhenti menjadi buku seremonial, melainkan diintegrasikan menjadi bahan ajar yang membentuk pemahaman generasi muda.
Hal itu disampaikan Lestari saat peluncuran buku Wanita Syarikat Islam: Peran Historis dalam Dinamika Kebangsaan Indonesia dalam rangkaian Mukernas Wanita Syarikat Islam 2026 di Jakarta, Jumat (23/10).
“Perempuan itu ikut menulis kemerdekaan. Para pendahulu kita menuliskannya melalui pendidikan, organisasi, dan perjuangan sosial,” ujar Lestari yang akrab disapa Rerie.
Menurut Rerie, buku tersebut bukan sekadar rekam jejak historis. Ia menilai dokumentasi semacam ini memberikan teladan dan warisan pemikiran bagi perempuan generasi berikutnya. Ia menekankan pentingnya literasi sejarah yang aplikatif.
“Buku ini harus menjadi rujukan, bukan hanya dipamerkan,” tegas Anggota Komisi X DPR RI tersebut.
Dalam sambutannya, Rerie menyoroti jejak signifikan perempuan Islam dalam momentum kunci kebangsaan. Ia mencatat peran aktif kaum perempuan Islam sejak Kongres Perempuan Indonesia pertama tahun 1928. Selain itu, ia menyebut peran Maria Ulfah pada 1945 yang memastikan pasal kesetaraan di hadapan hukum dalam konstitusi, serta kontribusi organisasi perempuan Islam dalam pengesahan Undang-Undang Perkawinan pada 1974.
Meski demikian, Rerie mengingatkan bahwa perjuangan kesetaraan belum usai. Ia menyoroti masih minimnya keterwakilan perempuan di lembaga legislatif, terutama di komisi-komisi yang membahas rancangan undang-undang (RUU) strategis.
“Banyak hal yang memang harus kita perjuangkan bersama-sama tanpa lelah,” kata Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu.
Rerie juga menyinggung hambatan budaya yang masih melekat, khususnya beban domestik atau kewajiban perawatan yang sering kali hanya dibebankan kepada perempuan. Ia menegaskan bahwa perempuan harus mampu menembus batasan tersebut dan mencapai kemandirian ekonomi.
Ia merumuskan tiga pilar harapan bagi masa depan perempuan Indonesia: pengetahuan dan keberdayaan, ekosistem yang mendukung keluarga, serta partisipasi aktif dalam demokrasi dan pembangunan.
Sebagai penutup, Rerie berharap gagasan dalam buku tersebut menjadi basis literasi sejarah perjalanan perempuan Indonesia. Hal ini diharapkan menjadi jembatan antara warisan perjuangan pendahulu dengan lahirnya generasi perempuan yang berpengetahuan, berdaya, dan berintegritas.
“Sejarah bukan hanya tentang siapa yang diperhatikan, tetapi juga tentang perjuangan apa yang kita lakukan,” pungkasnya. (H-3)
