
MINAT investor terhadap saham dan exchange traded fund (ETF) Amerika Serikat (AS) yang ditokenisasi menunjukkan pertumbuhan sepanjang kuartal III-2026. Instrumen investasi berbasis teknologi blockchain tersebut memberikan alternatif bagi investor untuk memperoleh eksposur terhadap pergerakan harga saham global melalui aset digital.
Pertumbuhan itu antara lain tercermin dari data platform investasi aset kripto PINTU yang mencatat kenaikan jumlah pembeli saham dan ETF AS tertokenisasi sebesar 68% pada kuartal III-2026 dibandingkan kuartal sebelumnya.
Peningkatan tersebut diikuti pertumbuhan jumlah trader aktif sebesar 64%, jumlah transaksi 55%, serta volume perdagangan sebesar 51% secara kuartalan atau quarter-on-quarter (QoQ).
Presiden Direktur PINTU, Andy Putra mengatakan, pertumbuhan tersebut menunjukkan meningkatnya aktivitas pengguna dalam memperdagangkan aset tertokenisasi, khususnya yang berkaitan dengan perusahaan teknologi global.
“Kuartal III-2026 menunjukkan positifnya perdagangan aset tertokenisasi di platform PINTU,” ujar Andy dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (22/10).
Menurut dia, sejumlah saham perusahaan teknologi AS yang ditokenisasi mencatat pertumbuhan jumlah pembeli cukup tinggi.
Aset tertokenisasi Nvidia (NVDAX) mengalami kenaikan jumlah pembeli sebesar 224%, disusul Apple (AAPLX) sebesar212%, Alphabet (GOOGLX) sebesar 131%, dan Robinhood (HOODX) sebesar 118%.
Sementara itu, dari sisi volume perdagangan, aset tertokenisasi Meta (METAX) mencatat kenaikan lebih dari 230% sepanjang kuartal III-2026.
Andy menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pengguna semakin aktif mengikuti pergerakan perusahaan teknologi global sekaligus memperluas pilihan instrumen dalam portofolio investasi mereka.
Meski saham teknologi mencatat pertumbuhan tinggi, minat terhadap aset tertokenisasi juga terlihat pada instrumen yang memberikan eksposur terhadap komoditas. Jumlah pembeli SPDR Gold ETF tertokenisasi, misalnya, meningkat lebih dari 170% pada periode yang sama.
“Kami juga melihat pengguna mulai memanfaatkan aset tertokenisasi untuk diversifikasi, tidak hanya mengikuti tren saham teknologi,” kata Andy.
Aset tertokenisasi merupakan representasi digital dari instrumen keuangan yang memberikan eksposur terhadap pergerakan hargaaset dasarnya. Melalui teknologi blockchain, instrumen sepertisaham, ETF, dan surat utang dapat dihadirkan dalam bentukt oken digital.
Salah satu karakteristik instrumen tersebut adalah memungkinkan pembelian secara fraksional atau dalam pecahan kecil sehingga investor tidak harus membeli satu unit penuh asetyang menjadi acuannya.
PINTU telah menyediakan layanan perdagangan aset tertokenisasi sejak 2025. Hingga Oktober 2026, platform tersebut menawarkan lebih dari 100 aset tertokenisasi yang mencakup saham AS, ETF, dan komoditas. Aset-aset tersebut dapat diperdagangkan dengan nilai transaksi mulai dari Rp11.000.
Perusahaan juga memperluas pilihan investasi dengan menambahkan 10 aset tertokenisasi yang diterbitkan Ondo sejak17 September 2026. Penambahan tersebut terdiri atas sembilan ETF dan satu saham tertokenisasi Micron (MUon).
Untuk 10 aset baru tersebut, nilai transaksi dimulai dari Rp65.000. Saham tertokenisasi Micron dapat diperdagangkan selama 24 jam setiap hari, sedangkan sembilan ETF lainnya tersedia selama 24 jam dalam lima hari perdagangan.
Andy menjelaskan, pembelian aset tertokenisasi dalam pecahan kecil menggunakan rupiah memungkinkan pengguna memperoleh eksposur terhadap instrumen global tanpa harus membuka rekening di perusahaan efek luar negeri.
Selain itu, waktu perdagangan yang lebih panjang dibandingkan jam operasional reguler bursa saham AS dinilai memberikan fleksibilitas bagi investor Indonesia yang berada di zona waktu berbeda. Perusahaan juga menyebut perdagangan instrumen tersebut dikenakan pajak final sebesar 0,21%.
Perkembangan aset tertokenisasi juga berlangsung di pasar global seiring pemanfaatan teknologi blockchain untuk merepresentasikan berbagai instrumen keuangan konvensional.
Andy berpandangan bahwa aset tertokenisasi dapat membuka akses investasi yang lebih luas bagi investor ritel, termasuk terhadap instrumen global yang sebelumnya relatif sulit dijangkau. Namun, ia mengingatkan bahwa setiap instrumen investasi memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda.
“Aset tertokenisasi menjadi tren positif yang membuka akses lebih luas bagi investor ritel terhadap instrumen investasi yang sebelumnya sulit dijangkau,” ujarnya.
Karena itu, investor perlu memahami karakteristik produk, melakukan riset, serta menyesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.
“Investor perlu melakukan riset secara menyeluruh, memahami profil risiko masing-masing, serta mempertimbangkan tujuan investasi sebelum mengambil keputusan, agar dapat berinvestasi secara bijak,” pungkas Andy. (E-4)
