
Film Pasukan 1000 Janda siap menggebrak layar lebar pada 12 November 2026 dengan membawa narasi mendalam tentang keberanian dan penguatan peran perempuan (women empowerment). Karya produksi Manara Studios ini mengambil inspirasi dari sejarah pahlawan nasional Laksamana Malahayati dan Pasukan Inong Balee di Aceh pada abad ke-16.
Disutradarai oleh Archie Hekagery, film bergenre action fantasy ini berupaya membedah isu sosial terkait stigma status janda. Melalui alur ceritanya, duka akibat kehilangan diubah menjadi kekuatan kolektif yang tak terpatahkan untuk melindungi tanah air.
Aktris utama Atiqah Hasiholan, yang memerankan Laksamana Malahayati, menyebut proyek ini sebagai refleksi atas kapasitas asli perempuan. Ia menilai pandangan masyarakat sering kali mengkerdilkan potensi perempuan dalam batasan yang kaku.
“Kadang kita sering membatasi diri kita sebagai perempuan dengan segala keterbatasan. Padahal kita bisa melakukan lebih, beyond the limit yang kita kira,” ujar Atiqah dalam sesi Media Day di Dharmawangsa Studio, Jakarta Barat, Jumat (23/10).
Atiqah menegaskan bahwa film ini memutarbalikkan persepsi perempuan sebagai sosok lemah yang harus dilindungi. Sejarah Pasukan Inong Balee membuktikan bahwa para perempuan Aceh yang kehilangan suami di medan perang mampu bangkit, melatih diri, dan berdiri di barisan terdepan melawan penjajah.
Terkait label ‘janda’, Atiqah menekankan bahwa status tersebut merupakan simbol transformasi dari rasa kehilangan menjadi energi perjuangan. “Dari kehilangan itu, perempuan-perempuan ini menjadikan duka tersebut sebuah kekuatan yang akhirnya dipakai untuk melawan,” tambahnya.
Transformasi pandangan juga dirasakan oleh pemeran pria, Vincent Verhaag. Berperan sebagai antagonis Achille Marozzo, Vincent mengakui ketangguhan perempuan saat bekerja sebagai tim. Ia meluruskan bahwa janda adalah sosok hebat yang mampu menjalankan dua peran sekaligus setelah kehilangan suami.
Senada dengan itu, aktor muda Muzakki (pemeran Agam) dan Syaura Salsabila (pemeran Gema) sepakat bahwa film ini menjadi sarana edukasi sejarah bagi Gen Z. Pengemasan fiksi hiburan dianggap efektif untuk memperkenalkan figur laksamana laut perempuan pertama di dunia kepada generasi muda.
“Di tahun 1500-an saja, perempuan di Aceh sudah bisa melakukan hal sebesar itu. Kita dengan teknologi maju harusnya bisa melakukan lebih banyak,” tutup Atiqah. (Z-10)
