
KETUA Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al-Aqsa (KPIPA), Dr. Nurjanah Hulwani, menegaskan bahwa aksi bela Palestina harus terus digelorakan oleh seluruh lembaga dan organisasi secara konsisten. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Forum Perempuan Iman dan Kebebasan yang berlangsung di Kantor MUI, Menteng, Rabu (21/10).
Acara yang diselenggarakan oleh Islamic Dakwah Fund (IsDF) MUI bekerja sama dengan Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI ini mengusung tema “Perempuan Indonesia dan Gerakan Solidaritas untuk Palestina: Dari Kepedulian Menuju Aksi”.
“Aksi-aksi harus terus kita lakukan dalam media apa pun, termasuk di media sosial, di ruang-ruang dakwah, juga di forum-forum diskusi formal maupun informal. Semua itu sampai kepada saudara kita di Palestina, bahwa mereka tidak sendiri,” ujar Nurjanah.
Dalam paparannya, Nurjanah menyoroti kondisi memprihatinkan di Gaza. Selama tiga tahun terakhir, hak-hak mendasar perempuan dan anak-anak dirampas oleh penjajah Israel. Mereka menghadapi ketiadaan tempat tinggal layak, minimnya akses pangan dan kesehatan, serta ancaman pengeboman yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Nurjanah juga mengapresiasi peran Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang konsisten berada di garda terdepan. Ia mengingatkan kembali langkah tegas MUI yang mengeluarkan fatwa haram membantu Israel dan wajib membantu Palestina pada 8 November 2023, tepat satu bulan setelah eskalasi serangan Israel ke warga sipil Gaza.
Kesaksian dan Aksi Nyata Tokoh Kemanusiaan
Forum ini juga menghadirkan sejumlah tokoh perempuan yang aktif dalam gerakan kemanusiaan internasional. Berikut adalah poin-poin utama yang disampaikan oleh para narasumber:
| Narasumber | Poin Utama / Pengalaman |
|---|---|
| Sumeyra Akdeniz Ordu (Global Sumud Flotilla) | Menceritakan pengalaman diculik dan disiksa tentara Israel di perairan internasional. Ia dipaksa melepas hijab namun berhasil bertahan dan justru membantu tawanan lain mempertahankan identitas mereka. |
| Annisa Theresia (Tere) (Aktivis Kemanusiaan) | Menegaskan bahwa dukungan untuk Palestina bersifat universal, datang dari berbagai latar belakang agama, bangsa, dan profesi. |
| Dr. Maimon Herawati (Jejaring GSF Indonesia) | Mendorong gerakan sederhana namun rutin: menyebar info di grup WA, boikot produk terafiliasi penjajah, serta menyelipkan doa dan kabar Palestina di setiap acara. |
Membangun Jejaring Berkelanjutan
Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan perempuan Dewan Pertimbangan dan Dewan Pimpinan MUI, pimpinan Lembaga Amil Zakat (LAZ), ketua ormas Islam perempuan, hingga influencer Chiki Fawzi. Forum ini bertujuan menjadi ruang dialog sekaligus memperkuat kolaborasi antara akademisi, komunitas, dan organisasi perempuan.
Melalui pertemuan ini, diharapkan perempuan Indonesia semakin menyadari peran strategis mereka dalam aksi kemanusiaan. Solidaritas yang dibangun diharapkan tidak hanya bersifat momentum, tetapi menyatu dengan peran keseharian dan berkelanjutan hingga Palestina meraih kemerdekaannya. (Z-1)
