
KONVENSI Nasional XVII Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (VENNAS AIHII XVII) resmi dibuka di Auditorium Charles Himawan, lantai 5, Gedung A, Kampus Utama President University, Kota Jababeka, Jawa Barat. Program Studi Hubungan Internasional, President University, dipercaya menjadi tuan rumah agenda tahunan AIHII yang mempertemukan program studi Hubungan Internasional dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Mengusung tema “Beyond Fragmentation: The Constellation of Power, Innovation, and the Future of Global Governance”, konvensi ini memperkuat pertukaran gagasan dan kolaborasi dalam merespons dinamika global.
Dalam sambutannya, Handa Abidin, S.H., LL.M., Ph.D., Rektor President University, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada universitas sebagai tuan rumah. Ia juga berharap hubungan antara dunia akademik dan praktik diplomasi dapat semakin erat. “Kami berharap para akademisi semakin dilibatkan dan pemikiran para profesor serta doktor semakin didengar. Dengan demikian, diplomasi Indonesia di berbagai bidang dapat memberikan dampak yang lebih baik demi terwujudnya Indonesia yang sukses dan sejahtera,” ujarnya.
Forum ini dihadiri sekitar 200 peserta dari 70 perguruan tinggi, termasuk akademisi dan mahasiswa Hubungan Internasional dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Dalam forum tersebut, Ketua Umum AIHII, Dr. Agus Haryanto, S.IP., M.Si., memaparkan data yang menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa aktif Hubungan Internasional pada periode 2021–2024 berada pada kisaran 37.000 hingga 40.000 orang. Jumlah tersebut mencerminkan besarnya potensi talenta di bidang Hubungan Internasional yang dapat menjadi sumber daya untuk menghasilkan perspektif dan masukan kebijakan dalam menghadapi dinamika global yang terus berubah.
Di tengah keterhubungan global yang semakin erat, hubungan antarnegara masih diwarnai ketegangan dan konflik. Perbedaan kepentingan dan pandangan bahkan memicu konflik bersenjata. Situasi ini menjadikan kajian Hubungan Internasional semakin penting untuk memahami dinamika global dan membangun kerja sama di tengah perbedaan.
Prof. Xu Baofeng, Dekan College of Sinology and Chinese Studies dan Belt and Road Research Institute di Beijing Language and Culture University (BLCU), menyoroti pentingnya pemahaman lintas peradaban. Menurutnya, tanpa nilai bersama dan pemahaman terhadap peradaban lain, persaingan kekuasaan dapat memicu konfrontasi. Karena itu, upaya mengatasi fragmentasi global membutuhkan dialog untuk menjembatani perbedaan ideologis.
Persoalan global juga menuntut hubungan yang lebih erat antara pemikiran akademik dan pengambilan keputusan politik. Dr. Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc., M.P.A., M.A., Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, menegaskan, “Politisi tidak boleh jauh dari akademisi, begitu juga sebaliknya. Politisi yang jauh dari akademisi bisa salah mengambil keputusan, sedangkan akademisi yang jauh dari politisi bisa terjebak dalam angan-angan. Sebuah gagasan harus dibuktikan dan dieksekusi.”
AHY juga menilai AIHII memiliki nilai strategis melalui jejaring antarkampus dan forum internasional yang dapat menjembatani gagasan akademik dengan kebijakan.
Dukungan terhadap kolaborasi ini turut disampaikan Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri (BSKLN) Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Muhammad Takdir, melalui rekaman video. Ia berharap AIHII dapat menjadi mitra dialog sekaligus laboratorium inovasi bagi diplomasi Indonesia. “Kami berharap AIHII dapat menjadi laboratorium inovasi bagi pelaksanaan diplomasi Indonesia,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya pemikiran konstruktif dari akademisi untuk membantu memetakan arah kebijakan dan memperluas partisipasi masyarakat di luar kalangan pembuat kebijakan.
Senada dengan itu, Adi Dzulfuat, Direktur Pasifik dan Oseania Kementerian Luar Negeri, menegaskan bahwa diplomasi Indonesia membutuhkan dukungan berbagai pihak. “Diplomasi Indonesia tidak akan bisa berjalan sendiri. Diplomasi memerlukan dukungan publik, akademisi, dan aktor-aktor nonpemerintah, termasuk asosiasi seperti AIHII,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa hasil perkuliahan, diskusi, seminar, dan penelitian dari berbagai program studi Hubungan Internasional dapat menjadi masukan bagi pelaku diplomasi, termasuk Kementerian Luar Negeri. Sinergi ini penting agar kajian akademik dapat dimanfaatkan sebagai rujukan dalam perumusan kebijakan luar negeri.
Selain mempererat hubungan akademisi dan pembuat kebijakan, VENNAS XVII AIHII 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas dosen dan institusi pendidikan Hubungan Internasional. Dr. Agus Haryanto menyoroti peran AIHII sebagai platform pengembangan akademisi dan kelembagaan. “Saya kira AIHII bisa menjadi platformnya untuk kita. Semua membangun diri, mulai dari dosen maupun secara institusi kelembagaan,” ujarnya.
Ia juga berharap forum ini mendorong penerbitan jurnal atau prosiding yang dapat diakses masyarakat luas, sehingga hasil kajian Hubungan Internasional dapat memperluas wawasan publik dan mendukung kebutuhan praktis.
Komitmen President University dalam mendukung perkembangan bangsa juga diwujudkan melalui kolaborasi pendidikan dan industri. Dalam rangkaian kegiatan ini, dilakukan penyerahan simbolis hibah alat bantu belajar senilai Rp260 juta dari tim Jiuxuewang serta penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) antara President University dan PT Midea, PT XCMG, PT Haier, PT Green Cold, serta PT AICE.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Hubungan Internasional President University terus mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan agar pengetahuan dan gagasan dapat diwujudkan menjadi langkah nyata bagi kemajuan Indonesia. (H-2)
