
PELATIH AC Milan, Ruben Amorim, menegaskan kepanikan timnya di menit-menit akhir pertandingan tidak mengubah fakta bahwa Rossoneri terus menunjukkan peningkatan performa. Milan berhasil mengamankan kemenangan 3-2 atas Atalanta, meski sempat unggul tiga gol terlebih dahulu sebelum laga berubah menjadi menegangkan.
Milan tampil mendominasi dan memimpin 3-0 melalui gol Goncalo Ramos, Adrien Rabiot, dan Mario Gila. Ramos bahkan sempat mendapati eksekusi penaltinya ditepis kiper Atalanta, Marco Carnesecchi. Namun, konsentrasi Milan menurun di setengah jam terakhir pertandingan. Gianluca Gaetano dan Nikola Krstovic mencetak gol untuk memperkecil kedudukan menjadi 3-2. Beruntung, penyelamatan krusial Mike Maignan atas tembakan Davide Zappacosta menggagalkan potensi gol penyeimbang lawan.
Usai pertandingan, Amorim mengakui pentingnya hasil akhir, tetapi menekankan pentingnya evaluasi atas penurunan performa di penghujung laga.
“Tentu saja, hasil adalah hal yang paling penting, tetapi kami juga harus menganalisis performa,” ujar Amorim kepada DAZN Italia dan Sky Sport Italia.
“Saya katakan melawan Sassuolo bahwa kami berkembang sebagai sebuah tim, menit-menit akhir tidak mengubah hal itu, mereka hanya memberi kami gambaran jelas bahwa kami masih punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Momentum berubah total, karena sebelum gol Atalanta, kami mengendalikan permainan dan lebih dekat ke gol keempat daripada kebobolan gol pertama. Namun, beberapa keputusan buruk terutama dalam build-up memberi mereka peluang, dan kami harus membenahi hal itu,” tuturnya.
Kemenangan ini diraih setelah Milan sebelumnya menggilas RB Salzburg 4-0 di Liga Europa mid-week lalu, meski Amorim melakukan banyak rotasi skuad.
“Rotasi skuad sangat membantu kami, mereka bekerja sangat keras. Tentu saja, mengubah cara kami melakukan pressing membutuhkan waktu, tetapi kami semakin memahami momen yang tepat untuk melakukan pressing, dan rasanya lebih mudah ketika berada di posisi yang tepat,” lanjut Amorim.
Ia menambahkan penurunan performa di akhir laga bukan sekadar masalah fisik. “Ini bukan hanya karena lelah, tetapi momentumnya berubah. Kami takut kebobolan ketika kami seharusnya mencoba mencetak gol keempat. Saya mencoba memasukkan gelandang segar, tetapi ketegangan tidak hanya dirasakan oleh skuad, melainkan juga di stadion dari para penggemar,” jelasnya.
Di sisi lain, Adrien Rabiot mengungkapkan rasa marahnya atas performa tim di babak kedua dan memperingatkan bahwa para pemain pengganti harus memberikan kontribusi lebih. Sebelum gol terjadi, Rabiot sempat terlibat momen tegang dengan Amorim di pinggir lapangan setelah menerima kartu kuning akibat protes berlebihan.
Saat ditanya apakah sempat mempertimbangkan untuk menarik keluar Rabiot, Amorim memberikan alasannya.
“Rabiot adalah pemain yang sangat penting. Saya merasa setelah babak pertama kami berbicara dengannya, dia adalah pria yang berpengalaman, dia tahu dia tidak bisa menghentikan setiap permainan ketika sudah mendapat kartu kuning. Dia terlalu penting hari ini untuk diganti, tetapi jika saya merasa satu pelanggaran lagi akan berbuah kartu, saya akan menggantinya. Saya tidak merasakan hal itu hari ini,” ungkap pelatih asal Portugal tersebut.
Terlepas dari situasi di menit-menit akhir, Milan menunjukkan perkembangan nyata dibandingkan awal musim. Amorim mulai menemukan skema yang pas menggunakan sistem hibrida tiga bek, didukung para pemain sayap yang siap turun membantu pertahanan saat dibutuhkan. (Football-Italia/Z-2)
