
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa pengiriman tiga pengukir asal Jepara untuk merestorasi ornamen kayu Masjid Istiklal di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina, merupakan langkah diplomasi budaya yang konkret. Upaya ini bertujuan merawat warisan bangsa yang telah hadir di luar negeri sejak puluhan tahun lalu melalui keterampilan akar rumput masyarakat Indonesia.
Tiga pengukir yang dikirim adalah Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo. Mereka bertugas memperbaiki ornamen ukir yang merupakan bagian dari hadiah Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, untuk masyarakat Bosnia dan Herzegovina. Restorasi ini menjadi penting karena kerusakan yang ditemukan tergolong berat.
| Komponen | Keterangan Kerusakan/Tindakan |
|---|---|
| Pilar Utama | 6 pilar kayu jati harus diganti menyeluruh (tidak bisa ditambal). |
| Tangga | Perbaikan struktur dan detail ukiran. |
| Hiasan Dinding | Restorasi estetika dan pembersihan ornamen kayu. |
Misi ini berawal dari kunjungan Lestari ke Bosnia pada Februari 2026 dalam rangka memperkuat pengajuan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Saat itu, ia menemukan sejumlah ornamen di masjid kawasan Otoka tersebut mengalami kerusakan. Delapan bulan kemudian, komitmen bantuan tersebut diwujudkan melalui keberangkatan para pengukir.
“Diplomasi budaya bukan sekadar kerja sama antarpemerintah. Ketika mendatangkan pengukir Jepara untuk merestorasi karya bersejarah Indonesia di Sarajevo, kita sedang menunjukkan bahwa warisan bangsa memiliki nilai yang diakui lintas negara,” ujar sosok yang akrab disapa Rerie tersebut dalam keterangan tertulis, Senin (19/10).
Apresiasi juga datang dari warga lokal. Sulaiman Ćatić (50), staf pengadaan Masjid Istiklal Sarajevo, mengungkapkan bahwa masyarakat setempat sangat mengenal peran Indonesia. Menurutnya, dalam khutbah Jumat sering disampaikan bahwa masjid dan ornamen ukirnya merupakan bantuan tulus dari masyarakat Indonesia.
Bagi Rerie, yang juga Anggota Komisi X DPR RI dan Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem, keberadaan ukiran Jepara di Sarajevo membuktikan daya jangkau keterampilan tradisional Indonesia. Ia menilai warisan budaya bukan sekadar benda mati, melainkan jejak peradaban yang harus dirawat agar generasi mendatang mengenali akar identitasnya.
Langkah restorasi ini diharapkan menjadi pembuka jalan bagi upaya memperkenalkan berbagai warisan budaya Indonesia lainnya ke kancah internasional melalui tindakan nyata dan pelibatan langsung pemilik keterampilan budaya tersebut.
