
Pertumbuhan industri pusat data (data center) di Indonesia mendorong kebutuhan terhadap metode konstruksi yang lebih efisien dan tenaga teknik dengan kompetensi khusus. Selain mempercepat pembangunan, peningkatan kualitas instalasi dan kesiapan sumber daya manusia menjadi tantangan dalam pengembangan infrastruktur digital. PT Maxon Prime Technology merespons kebutuhan tersebut dengan meresmikan fasilitas Design for Manufacturing and Assembly (DFMA) Workshop dan meluncurkan Quality Training Center di Cikarang, Jawa Barat, Jumat (16/10).
Fasilitas tersebut mengintegrasikan fabrikasi, perakitan, pengujian komponen, dan pelatihan teknis dalam satu lingkungan kerja. Perusahaan mengklaim fasilitas ini menjadi yang pertama di Indonesia yang secara khusus mendukung konstruksi pusat data dengan pusat pelatihan berbasis sistem yang beroperasi langsung (live system).
Direktur Utama Maxon Prime Technology, Teh Yee Keong, berharap fasilitas tersebut dapat mempercepat pembangunan pusat data, meningkatkan efisiensi, dan menjaga kualitas pekerjaan konstruksi. Project Director Maxon Prime Technology, Tedi Hadisaputra, menjelaskan metode DFMA memungkinkan komponen difabrikasi, dirakit, dan diuji terlebih dahulu di workshop sebelum dikirim ke lokasi proyek.
“Tujuan utamanya adalah proses instalasi konstruksi lebih cepat. Otomatis akan menghemat waktu dan biaya,” ujar Tedi saat peresmian.
Menurutnya, pendekatan tersebut juga ditujukan untuk mengurangi pekerjaan ulang (rework) di lapangan. Dengan sebagian pekerjaan diselesaikan sebelum komponen dikirim, proses pemasangan di lokasi proyek diharapkan berlangsung lebih efisien dan konsisten. Metode tersebut telah diterapkan pada salah satu proyek pusat data di Cikarang. Setelah melalui fabrikasi dan pengujian awal, komponen dikirim ke lokasi untuk dipasang dan menjalani pengujian lanjutan.
Selain workshop, Quality Training Center disiapkan untuk meningkatkan keterampilan tenaga teknik dalam menangani sistem yang digunakan pada fasilitas pusat data. Pusat pelatihan ini dilengkapi sistem proteksi kebakaran (fire protection), Building Management System (BMS), serta ruang pompa (pump room) yang terintegrasi dan dipantau melalui BMS.
Keberadaan sistem yang beroperasi langsung memungkinkan peserta mempelajari proses kerja, keterkaitan antarsistem, dan prosedur pengujian teknis dalam kondisi yang mendekati penerapan di lapangan.
Pada tahap awal, pelatihan diprioritaskan bagi karyawan internal. Perusahaan juga membuka peluang kerja sama dengan pemilik proyek, pihak ketiga, sekolah menengah kejuruan (SMK), dan perguruan tinggi. Program tersebut diarahkan untuk membantu lulusan bidang teknik mesin, kelistrikan, dan elektro memahami karakteristik pekerjaan di industri pusat data sebelum terlibat langsung dalam proyek.
Pengalaman Tenaga Kerja Jadi Tantangan
Tedi mengatakan pembangunan pusat data di sejumlah wilayah, termasuk Cikarang, Karawang, dan Batam, turut meningkatkan kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan khusus. Namun, menurutnya, pengalaman tenaga teknik dalam menangani fasilitas pusat data belum merata.
“Banyak pekerja data center, tetapi tidak semua punya pengalaman di data center,” katanya.
Kebutuhan kompetensi tersebut tidak hanya berkaitan dengan tahap konstruksi, tetapi juga pengoperasian pusat data. Karena itu, pelatihan teknis dinilai penting untuk membekali tenaga kerja dengan pemahaman mengenai standar dan karakteristik sistem yang digunakan. Perusahaan melihat kerja sama dengan lembaga pendidikan sebagai salah satu cara memperluas pengembangan kompetensi, terutama bagi siswa SMK dan mahasiswa dari bidang teknik terkait.
Di sisi lain, pertumbuhan penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), komputasi awan (cloud computing), dan layanan digital meningkatkan kebutuhan terhadap infrastruktur pengolahan serta penyimpanan data. Kondisi tersebut menuntut pembangunan pusat data yang efisien, instalasi yang memenuhi standar kualitas, dan ketersediaan tenaga teknik yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Kami berharap engineer-engineer Indonesia mempunyai kemampuan yang tinggi sesuai kebutuhan pasar global terutama di data center,” ujar Tedi.
Peresmian DFMA Workshop dan Quality Training Center turut dihadiri perwakilan Microsoft Indonesia, Vizar Ramadhani; General Manager Leighton Asia, Jan Torka; serta General Manager Shimizu Indonesia, Irwan. (E-3)
