
KOMISARIS Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan atau Iwan Bule menyebut kemandirian energi sebagai faktor strategis untuk memperkuat ketahanan dan kedaulatan Indonesia, di tengah ketidakpastian geopolitik serta gejolak harga energi dunia.
Menurut Iwan, Indonesia memiliki beragam sumber energi, mulai dari minyak bumi, gas alam, batu bara, tenaga air, panas bumi, tenaga surya, hingga bioenergi. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan energi nasional secara mandiri.
“Kemandirian energi merupakan keharusan strategis untuk menjaga ketahanan dan kedaulatan bangsa,” kata Iwan dalam tulisannya mengenai kemandirian energi Indonesia dan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Ia menjelaskan, kebutuhan minyak mentah Indonesia masih lebih besar dibandingkan produksi nasional. Akibatnya, sebagian kebutuhan minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) masih harus dipenuhi melalui impor.
Kondisi tersebut membuat ketahanan energi nasional rentan terhadap perubahan geopolitik, gangguan rantai pasok global, fluktuasi harga minyak dunia, serta kebijakan negara-negara produsen energi.
Selain itu, Indonesia menghadapi tantangan berupa penurunan alamiah produksi minyak dan gas bumi (migas), keterbatasan kapasitas pengolahan, serta kebutuhan investasi dan teknologi yang besar.
Bauran Energi Indonesia masih Didominasi Fosil
Iwan memaparkan, berdasarkan capaian 2025, bauran energi primer nasional masih didominasi energi fosil. Batu bara menyumbang sekitar 41%, minyak bumi 28%, gas bumi 15%, sedangkan energi baru terbarukan (EBT) mencapai sekitar 16%.
Di sektor kelistrikan, tenaga air menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang diandalkan bersama panas bumi, bioenergi, dan tenaga surya.
Menurut Iwan, kondisi tersebut menunjukkan perlunya optimalisasi sumber daya energi domestik melalui peningkatan produksi, penguatan kapasitas pengolahan, diversifikasi sumber energi, dan percepatan pemanfaatan energi alternatif.
“Pengurangan ketergantungan impor harus dilakukan melalui peningkatan produksi, penguatan kapasitas pengolahan, diversifikasi sumber energi, serta percepatan pemanfaatan energi alternatif,” ujarnya.
B50, E10, dan SAF untuk Mengurangi Ketergantungan Impor
Iwan menyebut sejumlah program pengembangan energi sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Program tersebut meliputi modernisasi Kilang Balikpapan, penerapan biodiesel B50, pengembangan bioetanol melalui E10, serta pemanfaatan sustainable aviation fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan berbahan baku minyak jelantah dengan target awal 1%.
Menurut dia, diversifikasi sumber energi diperlukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil berbasis impor sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Agenda transisi energi juga mencakup pengembangan energi rendah karbon, termasuk pemanfaatan tenaga nuklir secara aman, bertahap, dan bertanggung jawab.
Iwan menyebut arah kebijakan energi tersebut berkaitan dengan target Indonesia mencapai emisi nol bersih atau net zero emission pada 2060. Sementara itu, penggunaan batu bara ditargetkan dihentikan pada 2050.
Pertamina Berperan Memperkuat Ketahanan Energi
Sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina memiliki peran strategis dalam mendukung kemandirian energi Indonesia. Peran tersebut mencakup peningkatan produksi migas, penguatan infrastruktur pengolahan, distribusi BBM dan LPG ke seluruh wilayah Indonesia, serta pengembangan energi alternatif.
Iwan menilai transformasi Pertamina menjadi perusahaan energi yang efisien, profesional, dan berdaya saing global menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung agenda kemandirian energi.
Meski demikian, ia mengakui pelaksanaan agenda tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Selain penurunan alamiah produksi migas, diperlukan investasi berkelanjutan, penguasaan teknologi, pembangunan infrastruktur, serta koordinasi antara pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), dunia usaha, dan masyarakat.
Keberhasilan kemandirian energi, menurut dia, membutuhkan kepemimpinan yang kuat, konsistensi kebijakan, serta kemampuan menjalankan program secara efektif.
“Kemandirian energi tidak saja berkaitan dengan produksi atau impor, tetapi juga dengan penguatan ekonomi, peningkatan daya saing industri, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan nilai tambah komoditas nasional,” kata Iwan.
Ia menambahkan, kemandirian energi perlu didukung seluruh elemen bangsa melalui efisiensi energi, inovasi, dan penguatan industri nasional agar manfaat kebijakan energi dapat dirasakan masyarakat.
“Energi yang mandiri akan melahirkan ekonomi yang kuat, dan ekonomi yang kuat menjadi fondasi negara yang berdaulat,” ujarnya.
Momentum HUT ke-75 Presiden Prabowo Subianto
Dalam rangka HUT ke-75 Presiden Prabowo Subianto, Iwan menyebut itu sebagai kesempatan untuk merefleksikan pentingnya membangun fondasi kemandirian energi bagi generasi mendatang.
“Selamat ulang tahun ke-75, Bapak Presiden Prabowo Subianto. Semoga senantiasa dianugerahi kesehatan dan kekuatan dalam memimpin Indonesia menuju negara yang maju, mandiri, dan berdaulat,” ucapnya.
“Dengan arah kebijakan yang jelas serta kerja nyata seluruh elemen bangsa, kemandirian energi Indonesia diharapkan dapat diwujudkan secara bertahap. Upaya tersebut bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan energi saat ini, melainkan juga untuk memastikan keberlanjutan pembangunan dan memperkuat kedaulatan bangsa pada masa mendatang.” (I-1)
