
KETEGANGAN internal di Gedung Putih pada masa jabatan kedua Presiden Donald Trump mulai pecah ke permukaan. Para pembantu senior dilaporkan mulai berebut pengaruh dan posisi seiring dengan prediksi kekalahan besar Partai Republik dalam pemilihan sela (midterm elections) mendatang.
Berdasarkan wawancara dengan 20 staf, penasihat, dan orang dekat presiden, faksi-faksi di dalam Sayap Barat mulai menunjukkan persaingan terbuka yang mengingatkan pada kekacauan di masa jabatan pertama Trump. Fokus utama persaingan ini ialah posisi Kepala Staf Gedung Putih yang saat ini dijabat oleh Susie Wiles.
Jajaran Kandidat Mulai Bermanuver
Meskipun Susie Wiles belum memberikan indikasi akan mundur, sejumlah nama besar dilaporkan mulai mengincar posisinya jika terjadi perombakan pascapemilu. Nama-nama yang muncul antara lain:
- Stephen Miller: Wakil Kepala Staf yang dikenal dengan kebijakan imigrasi garis keras.
- Bill Pulte: Pejabat tinggi perumahan yang dilaporkan sering mendekati Trump dengan alat peraga visual di pesawat kepresidenan.
- Lee Zeldin: Administrator EPA yang juga disebut-sebut masuk dalam bursa calon potensial.
Kondisi di dalam Gedung Putih selama sepekan terakhir digambarkan oleh salah satu sekutu Trump sebagai Wild Wild West yang baru. Ketidakpastian ini diperparah oleh langkah sepihak Trump yang menghubungi Katie Zacharia untuk posisi Sekretaris Pers tanpa berkonsultasi dengan Wiles, tindakan yang dianggap merusak otoritas sang Kepala Staf.
Tekanan Pemilu Sela dan Sentimen Ekonomi
Di luar tembok Gedung Putih, Partai Republik menghadapi tantangan berat. Jajak pendapat internal menunjukkan dukungan terhadap kandidat Republik merosot tajam setelah konvensi di Dallas. Pemilih merasa partai tidak cukup peka terhadap masalah ekonomi, terutama tingginya harga-harga kebutuhan pokok.
Trump sendiri dilaporkan merasa frustrasi karena merasa tidak ada yang membelanya secara vokal di depan publik. Di tengah jadwal kampanye yang padat, ia mulai meragukan strategi politik yang dijalankan oleh James Blair dan Chris LaCivita, dua sekutu dekat Wiles.
Konteks Krisis: Banyak pembantu Trump meyakini mereka akan kehilangan kendali atas DPR AS, sementara peluang di Senat dianggap 50-50, bahkan di negara bagian yang biasanya aman bagi Republik seperti Kansas dan Texas.
Kontroversi Internasional dan Posisi Wiles
Posisi Susie Wiles semakin tertekan setelah muncul laporan mengenai perjalanan James Blair dan Chris LaCivita ke Republika Srpska untuk melakukan konsultasi politik bagi pemerintah pro-Rusia. Masalah ini menjadi personal ketika foto putri Wiles, Katie Wiles, juga muncul dalam kunjungan ke wilayah tersebut.
Trump merespons melalui Truth Social dengan menyatakan akan memecat siapa pun yang memiliki konflik kepentingan terkait pekerjaan konsultasi asing. Para penentang Wiles menggunakan isu ini untuk memicu kecurigaan presiden, memperlemah kendali Wiles atas operasi politik Gedung Putih di saat-saat kritis menjelang pemungutan suara.
Juru bicara Gedung Putih, Danielle Alvarez, membantah ada perpecahan tersebut dan menyebut laporan ini sebagai permainan politik dari sumber anonim yang egois. Namun, sejarah pergantian empat Kepala Staf pada masa jabatan pertama Trump membuat spekulasi mengenai masa depan Wiles tetap tinggi. (The Washington Post/I-2)
